Kemiringanlereng yang tinggi menyebabkan di daerah berbukit dan bergunung dikelilingi oleh jurang yang curam. Jalan sengaja dibuat berliku dan kelokan tajam untuk mempermudah kendaraan melalui daerah yang menanjak. lahan di daerah dataran rendah sangat sesuai dikembangkan untuk kegiatan pertanian padi atau sawah dan perkebunan tebu. 30 Daerahpesisir memiliki cuaca yang cenderung panas. Cuaca yang terdapat pada wilayah atau lingkungan di pesisir laut adalah cenderung panas karena berada di dataran rendah. Sehingga, penduduk yang berada di daerah pesisir laut mengenakan pakaian yang berbahan lebih tipis dan menyerap keringat. Dengan demikian, penduduk yang tinggal di daerah Datarantinggi memiliki karakteristik sebagai berikut. Memiliki ketinggian di antara 200-700 mdpl. Suhu udaranya relatif sejuk dan dingin. Tanahnya relatif subur. Datarannya terbentuk dari dari hasil erosi dan sedimentasi, ataupun bekas dari kaldera (kawah gunung api) luas yang tertimbun material gunung. Apasaja jenis pekerjaan yang banyak dilakukan penduduk yang tinggal di dataran tinggi? Penduduk di daerah dataran tinggi bermata pencaharian sebagai petani, peternak, pedagang, dan pekerja perkebunan, misalnya teh, kopi, dan cengkeh. Sebutkan pekerjaan apa saja untuk masyarakat yang tinggal di kota? Jawaban . Pegawai Kantor. Polisi. TNI. Guru Diwilayah ini terdapat pegunungan dengan puncak tertinggi, yaitu gunung kinabalu yang memiliki pemandangan indah dengan tinggi 4.101 m. Sistem mata pencaharian di papua ini amat beragam, sesuai dengan dimana masyarakat itu tinggal. Ada dataran tinggi, dataran rendah, pegunungan dan pantai. Pada umumnya penduduk pantai memiliki mata pencaharian Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. Dataran Rendah Dataran rendah rendah merupakan daerah datar yang memiliki ketinggian hampir sama. Kondisi wilayah yang datar memudahkan manusia untuk beraktifitas dalam menjalankan kehidupannya. Di Indonesia daerah dataran rendah merupakan daerah yang penuh dengan kedinamisan dan kegiatan penduduk yang sangat beragam. Sebagian besar penduduk lebih memilih bertempat tinggal di dataran rendah. Terlebih jika wilayah ini memiliki sum ber air yang cukup. Daerah dataran rendah cocok dijadikan wilayah pertanian, perkebunan, peternakan, kegiatan, industri, dan sentra-sentra bisnis. Lokasi yang datar, menyababkan pengembangan daerah dapat dilakukan seluas mungkin. Pembangunan jalan raya dan jalan tol serta kelengkapan sarana transportasi ini telah mendornong daerah dataran rendah menjadi pusat ekonomi aktivitas pendududuk ini menunjukkan adanya heterogenitas mata pencaharian penduduk. Petani, pedagang, buruh, dan pegawai kantor adalah beberapa contoh mata pencaharian penduduk daerah dataran rendah. Penduduk di daerah dataran rendah yang mengolah lahan pertanian memanfaatkan awal musim penghujan untuk pengolahan tanah pertanian. Hal ini karena kondisi lahan di daerah dataran rendah sangat bergantung dengan musim. Seperti juga pada penduduk di daerah dataran rendah biasanya menggunakan pakaian yang tipis, karena suhu di daerah ini panas. Rumah-rumah di dataran rendah juga dibuat banyak ventilasinya dan atap dibuat dari genting tanah untuk mengurangi suhu yang panas ini. Kemudahan transportasi dan banyaknya pusat-pusat kegiatan di daerah dataran rendah menarik penduduk untuk menetap disana. Oleh karena itu, penduduknya semakin bertambah dan kebutuhan tempat tinggal serta tempat usaha juga meningkat. Lahan-lahan seperti sawah dan hutan sebagai penyangga keseimbangan alam semakin berkurang digantikan oleh tumbuhnya bangunan bertingkat. Semakin berkurangnya lahan-lahan penyangga ini mengakibatkan daerah resapan air berkurang sehingga timbul beberapa masalah seperti banjir di musim hujan dan kekeringan yang dahsyat di musim kemarau. Selain itu menimbulkan pula masalah-masalah sosial, seperti penganggguran, polusi, dan penyakit masyarakat Indonesia, penduduk dan segala aktivitasnya hampir semuanya terpusat pada daerah-daerah dataran rendah. Kota-kota besar yang ada, hampir semuanya terletak di daerah dataran rendah sehingga jumlah penduduk pun biasanya lebih besar dibandingkan daerah lainnya. DATARAN TINGGI Wilayah Indonesia pada daerah dataran tinggi memiliki system pegunungan yang memanjang dan masih aktif. Relief dataran dengan banyaknya pegunungan dan perbukitan, menyebabkan Indonesia memiliki kesuburan tanah vulkanik, udara yang sejuk, dan alam yang indah. Dataran tinggi biasanya dijadikan sebagai daerah tangkapan air hujan catchment area. Selain dapat memenuhi kebutuhan air tanah di wilayah sekitar, daerah tangkapan air hujan dapat mencegah terjadinya banjir pada daerah bawah. Dataran tinggi yang ditumbuhi pepohonan besar dengan kondisi hutan yang masih terjagaberfungsi mencegah erosi, digunakan sebagai suaka margasatwa, cagar alam, atau bahkan tempat wisata. Namun sayangnya, penebangan liar tanpa memperhatikan upaya penanaman kembali dan usaha konservasi lahan sering menimbulkan bencana bagi penduduk di sekitarnya. Pembangunan vila dan pemukiman di daerah pegunungan juga telah mengurangi area resapan air. Dapat ditebak pada akhirnya dapat menyebabkan banjir. Seperti terjadi di Jakarta yang selalu mendapat kiriman air banjir dari Bogor. Setiap pergantian musim, kita sering dihadapkan pada bencana. Banjir pada musim penghujan dan bencana kekeringan setiap musim kemarau. Kita juga sering mengalami bencana tanah longsor, kebakaran hutan, dan bencana lain diakibatkan kerusakan kawasan hutan lindung atau hutan konservasi pada daerah hulu. Relief daratan dengan banyak pegunungan dan perbukitan, tanah yang subur, dan udara yang sejuk sangat dinikmati penduduk yang kegiatan utamanya di bidang pertanian. Sebagian besar penduduk juga masih banyak tergantung pada alam dan memanfaatkan hasil dari alam. Penduduk daerah pegunungan juga banyak yang memanfaatkan suhu udara yang dingin untuk menanam sayuran dan tanaman perkebunan. Selain itu, relief daratan yang demikian juga memiliki potensi menjadi daerah pariwisata. Beberapa kawasan yang dijadikan tempat kegiatan wisata alam dan memberikan penghasilan penduduk sekitarnya adalah kawasan Puncak di Bogor, Kaliurang di Yogyakarta, Lembang bandung, dan Batu Malang. Pada wilayah dataran tinggi, suhu udara jauh lebih dingin dibandingkan dengan dataran rendah maupun daerah pantai. Tingkat kelembapan udara dan curah hujan yang berlangsung juga cukup tinggi. Oleh karena itu, penduduk yang tinggal di daerah tersebut biasanya mempunyai pola makan dan cara berpakaian yang berbeda dengan daerah lainnya. Untuk menghangatkan tubuhnya mereka banyak mengkomsumsi makanan yang hangat dan lebih tertutup dalam cara berpakaian . Jika kamu pernah berkunjung ke daerah pegunungan yang dingin maka akan kamu jumpai bentuk rumah yang berbeda dengan daerah pantai. Suhu yang dingin dan intensitas matahari sedikit menyebabkan rumah di daerah ini berventilasi sedikit dan atapnya terbuat dari seng. Ventelasi yang sedikit mengakibatkan udara dingin tidak masuk ke dalam rumah. Atap terbuat dari seng agar panas matahari yang diterima dapat disimpan dan dapat menghangatkan bagian dalamnya. Pola pemukiman penduduk sangat dipengaruhi oleh kondisi topografi dan tingkat kesubuan tanah. Pola pemukiman penduduk di daerah dataran tinggi biasanya menyebar mengikuti lereng dan mengelompokan pada daerah yang mempunyai lahan subur dan relatif datar Untuk berkomentar cukup di klik “Thanks!Your Comment was published” maka akan muncul pop-ups kotak komentar.. To comment just on click “Thanks! Your Comment was published” will display a comment box pop-ups .. Sebagai salah satu bagian utama sebuah rumah, atap memiliki peran sangat penting. Atap mengamankan penghuninya dari cuaca seperti hujan, panas, dan sebagainya. Pada mulanya atap di rumah-rumah tradisional di Indonesia dibuat dari bahan-bahan alami termasuk rumbia, ijuk, jerami, dan sebagainya. Perkembangan zaman dan meningkatnya standar kenyamanan manusia membuka jalan bagi perkembangan jenis atap baru non organik yang lebih kokoh dan awet. Bagi Anda yang sedang merenovasi atau membangun rumah, berikut ini adalah berbagai jenis atap genteng yang bisa menjadi pilihan untuk hunian Anda. Atap Berbahan Alami Atap jenis ini didapat dari bahan-bahan alami. Di Indonesia, setidaknya ada empat bahan yang umum dipakai antara lain kayu, bambu, ijuk, dan rumbia. ©Shutterstock Salah satu contoh atap berbahan alami adalah atap kayu yang biasa disebut atap sirap. Lembaran papan kayu biasa ditata rapi di atas struktur atap dan memberi suasana sejuk bagi penghuni di bawahnya. Kayu yang umum digunakan adalah jenis ulin/kayu besi, jati, atau merbau. ©Shutterstock Selain itu, atap ijuk juga ramai dipakai khususnya di rumah-rumah yang masih dibangun secara tradisional. Atap ini dibuat dari serabut keras pelindung pelepah pohon aren. Warnanya hitam, sifatnya awet dan tahan air. Atap ijuk cocok jika Anda ingin membangun rumah tropis gaya tradisional sehingga terkesan rustic. Artikel lainnya 6 Tips Agar Rumah Siap Hadapi Musim Hujan Atap Genteng Tanah Liat ©Shutterstock Atap genteng tanah liat adalah jenis atap yang paling umum digunakan saat ini. Sebagai bahan atap lokal, genteng baru berkembang pada awal abad 20. Semula didatangkan oleh pihak Belanda sebagai atap hunian dan pabrik-pabrik gula mereka, genteng tanah liat kemudian mulai populer di kalangan masyarakat lokal. Saat ini ada berbagai jenis atap genteng dengan nama lokal yang unik, seperti genteng kodok, plentong, garuda, kojer, press, dan lain sebagainya. Genteng tanah liat dikenal dapat menahan panas dengan baik sehingga ruang di bawahnya sejuk. Genteng ini cocok diaplikasikan untuk berbagai gaya desain—dari tradisional hingga modern. Varian modern dari genteng tanah liat adalah genteng keramik. Jika permukaan genteng biasa kasar dan berpori, genteng keramik permukaannya telah diberi lapisan glasir sehingga kedap air dan terlihat mengkilap. Atap Genteng Beton ©Shutterstock Seperti namanya, genteng beton dibuat dari bahan beton, yaitu pasir dan semen. Pewarna ditambahkan agar terlihat estetis. Bahan-bahan tersebut diproses melalui mesin bertekanan tinggi dan kemudian dipanaskan hingga terbentuk genteng yang kuat dan tahan lama. Anda bisa memilih genteng beton tipe gelombang atau tipe datar flat. Jika ingin kesan natural, Anda dapat memilih genteng yang bergelombang. Kesan modern muncul saat Anda menggunakan genteng flat. Bobot genteng beton yang cukup berat 60 kg per meter persegi, dibanding genteng tanah liat yang sekitar 45 kg memerlukan konstruksi struktur atap yang kuat. Artikel lainnya Mengenal 6 Material Populer untuk Plafon ©Shutterstock Genteng metal saat ini semakin populer. Selain kemampuannya menahan pengaruh cuaca yang mumpuni, genteng metal juga ringan bobotnya dan gampang dipasang. Berbagai material logam digunakan untuk tipe genteng ini, seperti stainless steel/baja tahan karat, tembaga, genteng baja galvalum, spandek paduan seng dan aluminium, genteng metal multiroof, genteng millenium, dan sebagainya. Menurut teksturnya, ada genteng bergelombang dan ada pula yang flat. Tipe genteng milenium, misalnya, memiliki penampilan datar dengan warna futuristik yang cocok untuk rumah modern yang bergaya minimalis. Meski genteng metal lebih ekonomis dan ringan, yang perlu diperhatikan adalah kemampuan menghantarkan panas yang tinggi. Bila langit-langit rumah tidak diberi ruang kosong atau plafon, rumah yang dinaungi genteng metal cenderung terasa lebih panas. Atap Genteng Bitumen ©Shutterstock Bitumen adalah nama lain aspal. Genteng bitumen memang dibuat dari paduan aspal dengan bahan-bahan penguatnya, yaitu serat kayu. Karena komponen pembuatnya itulah, genteng bitumen menjadi liat dan kuat. Selain itu, genteng bitumen juga sangat ringan, sekitar 1/6 dari berat genteng beton untuk luasan yang sama. Alhasil, Anda bisa memasangnya pada tipe struktur penyangga atap apa saja. Materialnya yang lunak’ membuat genteng ini bagus untuk meredam suara luar. Genteng yang mulai populer di AS pada permulaan abad 20 ini juga semakin populer penggunaannya di Indonesia, terutama untuk rumah-rumah bertema minimalis. Artikel lainnya 3 Jenis Lampu yang Perlu Anda Ketahui Agar Kamar Tidur Hangat dan Menarik Selain berbagai tipe genteng tersebut, masih ada pula berbagai tipe genteng lain yang menarik, seperti genteng PVC, dan solar tile, misalnya. Solar tile adalah genteng surya, fungsinya sebagai genteng sekaligus sebagai sumber pembangkit listrik tenaga surya. Masih ingin mencari mencari tipe tipe genteng yang cocok bagi rumah Anda? Kunjungi Archify untuk melihat produk genteng-genteng pilihan yang tersedia di Indonesia. Latihan Soal Online - Latihan Soal SD - Latihan Soal SMP - Latihan Soal SMA Kategori Semua Soal SD IPS Acak ★ PAS IPS SD Kelas 5Masyarakat yang tinggal di daerah dataran tinggi biasa menggunakan pakaian….A. TebalB. TipisC. RenangD. Adat Pilih jawaban kamu A B C D E Latihan Soal SD Kelas 1Latihan Soal SD Kelas 2Latihan Soal SD Kelas 3Latihan Soal SD Kelas 4Latihan Soal SD Kelas 5Latihan Soal SD Kelas 6Latihan Soal SMP Kelas 7Latihan Soal SMP Kelas 8Latihan Soal SMP Kelas 9Latihan Soal SMA Kelas 10Latihan Soal SMA Kelas 11Latihan Soal SMA Kelas 12Preview soal lainnya IPS SD Kelas 6Berikut bukti adanya globalisasi saat ini adalah ….A. warga desa masih menggunakan lampu petromak sebagai peneranganB. pemanfaatan tenaga kerbau untuk membajak sawahC. Nicole semakin mudah berkomunikasi dengan kerabat luar negeriD. penduduk desa umumnya masih berjalan kaki karena jalan yang rusak Materi Latihan Soal LainnyaUH 2 PPKn Bab 5 Semester 2 Genap SMP Kelas 9Tema 1 Subtema 1 - IPS SD Kelas 6PAI SD Kelas 3 Semester 1Sejarah Indonesia SMA Kelas 11 MIPAKuis Matematika SD Kelas 2Bahasa Arab MTs Kelas 8Tema 3 SD Kelas 4Tema 5 Subtema 2 SD Kelas 3Desain Grafis - TKJ SMK Kelas 10Bahasa Inggris Bab 3 - SMP Kelas 8Cara Menggunakan Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang Jika halaman ini selalu menampilkan soal yang sama secara beruntun, maka pastikan kamu mengoreksi soal terlebih dahulu dengan menekan tombol "Koreksi" diatas. Tentang Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum. Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia. Masyarakat di daerah dataran tinggi tentunya memiliki karakteristik dan pola hidup yang berbeda dengan masyarakat daerah lainnya. Sumber masyarakat biasanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan atau alam di sekitarnya. Masyarakat di daerah dataran tinggi tentunya memiliki perbedaan terkait aktivitas dan pola hidup dengan masyarakat di daerah mengetahui karakteristik dan pola hidup masyarakat di daerah dataran tinggi, simak penjelasannya berikut Dataran TinggiDikutip dari buku Ilmu Pengetahuan Sosial IPS Paket B Tingkatan III Modul Tema 1 yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dataran tinggi adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki ketinggian 200-700 meter di atas permukaan ini juga biasa disebut dengan plato yang memiliki tanah luas dan tinggi yang dikelilingi pegunungan. Dataran tinggi memiliki karakteristik sebagai ketinggian di antara 200-700 udaranya relatif sejuk dan terbentuk dari dari hasil erosi dan sedimentasi, ataupun bekas dari kaldera kawah gunung api luas yang tertimbun material dataran tinggi dimanfaatkan untuk industri daerah dataran tinggi biasanya memanfaatkan lahannya untuk menanam sayuran dan buah-buahan. Sumber Masyarakat Daerah Dataran TinggiSeperti yang disebutkan sebelumnya, aktivitas dan pola hidup suatu masyarakat dipengaruhi oleh alam dari buku Ilmu Pengetahuan Sosial IPS Paket B Tingkatan III Modul Tema 2 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berikut karakteristik dan pola hidup masyarakat dataran tinggiMasyarakat daerah dataran tinggi pada umumnya memanfaatkan alam sekitarnya sebagai sumber mata masyarakat daerah dataran tinggi memanfaatkan tanah atau lahan yang dimiliki untuk industri perkebunan dan dengan perkebunan yang ada di dataran rendah, masyarakat dataran tinggi menanam sayuran dan buah serta hasil kebunnya yang bisa hidup di daerah sejuk, seperti teh, kopi, stroberi, apel, brokoli, dan industri peternakan, biasanya masyarakat dataran tinggi merawat hewan ternak yang dapat hidup di daerah yang sejuk seperti sapi, domba, dan hewan ternak itu, kondisi alamnya yang asri dan sejuk biasa dimanfaatkan oleh masyarakat daerah dataran tinggi untuk membuka tempat wisata berserta bisnis kuliner di tinggi memiliki suhu udara yang relatif sejuk hingga dingin. Hal ini tentu berpengaruh pada pola hidup dan memiliki budaya bercocok tanam, masyarakat daerah dataran juga memiliki budaya hidup dengan cara bergotong tanam merupakan salah satu budaya yang dimiliki masyarakat daerah dataran tinggi. Sumber udara yang dimiliki dataran rendah juga berpengaruh pada cara berpakaian dari masyarakat yang menempatinya serta hidangan atau makanan yang dengan orang di dataran rendah maupun pantai, orang-orang di dataran tinggi akan cenderung berpakaian tertutup dan tebal serta mengkonsumsi makanan dan minuman yang menghangatkan sisi arsitektur bangunan, masyarakat daerah dataran tinggi biasanya memiliki bangunan dengan ventilasi yang sedikit dan beratap dengan jumlah sedikit bertujuan agar meminimalisir udara dingin yang masuk, sedangkan atap seng bertujuan untuk menyimpan suhu panas matahari sehingga bangunan akan terasa hanya itu, pola dari rumah penduduk pada derah dataran tinggi pada umumnya menyebar mengikuti lereng dan akan mengelompok pada daerah yang memiliki lahan yang subur dan relatif lebih tiga ciri-ciri daerah dataran tinggi!Apa mata pencaharian umum masyarakat daerah dataran tinggi?Apa arsitektur bangunan yang biasanya terlihat di dataran tinggi? Masing-masing daerah di Indonesia memiliki identitasnya sendiri, misalnya terlihat dari pakaian tradisional yang dikenakan dalam momen istimewa seperti pernikahan dan upacara adat. Setiap provinsi yang ada di Sumatera juga memiliki pakaian tradisional atau baju adat yang sudah diwariskan sebagai tradisi nenek moyang. Bukan hanya menonjolkan keindahan dan kemewahan, tapi pakaian tradisional yang dipakai juga mengandung filosofi atau makna khusus yang sangat bernilai. Berikut ini akan kita bahas tentang 5 pakaian tradisional Sumatera beserta filosofinya masing-masing. Baca juga 10 Jenis Tas yang Harus Diketahui Wanita, Formal hingga Informal Saibatin dan Pepadun dari Lampung foto cindriyanto Ada dua macam pakaian tradisional di Lampung, yaitu Saibatin dan Pepadun. Keduanya diambil dari nama suku asli terbesar yang ada di sana. Saibatin merupakan kelompok yang banyak tinggal di area pantai, sedangkan Pepadun adalah yang tinggal di kawasan atas atau dataran tinggi. Nama Saibatin diartikan sebagai satu batin’ yang bermakna memiliki sosok junjungan tunggal. Itu artinya bahwa masyarakat leluhurnya mengakui adanya seorang raja yang layak dipatuhi. Warna baju Saibatin pada umumnya merah merona dan ditambah hiasan elegan dan mewah, sedangkan Pepadun berwarna putih dan beberapa bagiannya mempunyai unsur warna kuning mengkilat keemasan. Bentuknya yang tertutup mencerminkan penghormatan dan nilai-nilai kesopanan yang dijunjung di masyarakat. Kurung Tanggung dari Jambi foto kumparan Baju Kurung Tanggung adalah pakaian tradisional Jambi yang coraknya dipengaruhi budaya Melayu dalam coraknya. Ada beberapa ciri khas yang menjadi pembeda antara baju adat Jambi dan adat Melayu yang lain. Model baju kurung tanggung yang biasa dipakai wanita jelas terlihat beda dalam hal aksesoris yang dipakai. Untuk pria bahannya beludru dengan warna yang senada dengan atasan yang disebut cangge. Satu pasang Baju Kurung Tanggung juga dilengkapi kain songket di bagian pinggang. Pakaian ini memiliki filosofi bahwa para pria bersifat cekatan untuk melakukan banyak hal. adat Bundo Kanduang dari Sumatera Barat foto sumbarfokus Pakaian adat Bundo Kanduang merupakan pakaian tradisional dari Sumatera Barat yang pada umumnya dipakai oleh wanita yang sudah menikah. Pakaian adat ini menjadi simbol tentang pentingnya keberadaan seorang ibu pada sebuah keluarga. Untuk masing-masing nagari atau sub suku di Sumatera Barat, desain pakaiannya bisa berbeda-beda. Tapi semuanya cenderung menutup sebagian besar anggota badan . Pakaian adat Bundo Kanduang punya keunikan di bagian kepala, yaitu adanya penutup kepala yang berbentuk mirip atap rumah gadang yang juga jadi identitas masyarakat Minangkabau. Baca juga Baju Bodo Sulawesi Selatan, Pakaian Adat Tertua di Dunia Gede dari Sumatera Selatan foto manjakan Aesan Gede adalah pakaian tradisional asal Sumatera Selatan yang biasa dikenakan di acara pernikahan. Aesan berarti hiasan, sedangkan Gede berarti besar atau kebesaran. Aesan Gede menjadi pakaian kebesaran warisan dari kerajaan Sriwijaya yang terlihat anggun dan mewah. Warna yang mendominasi adalah merah dan benang berwarna keemasan sebagaimana citra kerajaan Sriwijaya yang dikenal oleh masyarakat dunia sebagai Pulau Emas. Filosofi yang terdapat di dalam rancangannya adalah tentang keselarasan hidup yang terlihat dari pilihan corak dan warnanya. adat Ulee Balang dari Aceh foto selasar Pakaian adat Ulee Balang berasal Aceh dan dipengaruhi oleh budaya Melayu, Islam, dan Tionghoa. Motifnya menonjolkan keindahan dan tentu juga memiliki sejarahnya sendiri. Awalnya pakaian tradisional Ulee Balang hanya dipakai oleh keluarga Kerajaan Samudera Pasai. Sebutan untuk baju adat pria dan wanita pun berbeda. Untuk pria disebut dengan nama baju Linto Baro, sedangkan untuk wanita disebut dengan baju Daro Baro. Desain yang dipakai pria cenderung lebih sederhana dibandingkan yang dipakai wanita. Walaupun sederhana, namun tetap tampak berwibawa. Setiap detail dalam motifnya ada makna tentang urusan rezeki dan keluarga. Kebudayaan tradisional adalah salah satu aset nasional yang sangat besar artinya dan perlu dilestarikan karena mempunyai nilai budaya yang tinggi. Disamping itu, dapat menjadi masukan dan memberi wawasan yang lebih luas kepada masyarakat. Salah satu diantara kebudayaan tradisional yang ada di Indonesia adalah Kebudayaan tradisional adat Toraja. Kebudayaan tradisional adat Toraja ini meliputi segala aspek yang berhubungan dengan masyarakat, ukiran kayu, rumah adat, upacara pemakaman, musik/tarian, agama, bahasa, dan ekonomi. Tator aslinya mempunyai nama tua yang dikatakan dalam literatur kuna mereka sebagai “Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo”nyang berarti negeri dengan pemerintahan dan masyarakat berketuhanan yang bersatu utuh bulat seperti bulatnya matahari dan bulan. Agama asli nenek moyang mereka adalah Aluk Todolo yang berasal dari sumber Negeri Marinding Banua Puan yang dikenal dengan sebutan Aluk Pitung Sa’bu Pitung Pulo. Baca Juga “Suku Tamiang” Sejarah & Mata Pencaharian – Kekerabatan – Bahasa – Agama – Kepercayaan Ketika Belanda masuk, agama Aluk Todolo tergeser oleh missionaris Kristen yang menyebarkan agama diwilayah ini. Namun adat istiadat yang berakar pada konsep Aluk Todolo hingga kini masih dijalankan. Kita masih akan menikmati pertunjukan upacara kematian masyarakat tator sebagai pengaruh kuat dari agama nenek moyang mereka. Menurut data sejarah, penduduk yang pertama-tama menduduki/mendiami daerah Toraja pada zaman purba adalah penduduk yang bergerak dari arah Selatan dengan perahu. Mereka datang dalam bentuk kelompok yang dinamai Arroan kelompok manusia. Setiap Arroan dipimpin oleh seorang pemimpin yang dinamai Ambe’ Arroan Ambe’ = bapak, Arroan = kelompok. Setelah itu datang penguasa baru yang dikenal dalam sejarah Toraja dengan nama Puang Lembang yang artinya pemilik perahu, karena mereka datang dengan mempergunakan perahu menyusuri sungai-sungai besar. Pada waktu perahu mereka sudah tidak dapat diteruskan karena derasnya air sungai dan bebatuan, maka mereka membongkar perahunya untuk dijadikan tempat tinggal sementara. Tempat mereka menambatkan perahunya dan membuat rumah pertama kali dinamai Bamba Puang artinya pangkalan pusat pemilik perahu sampai sekarang. Hingga kini kita akan melihat disekitar Ranteapo terdapat beberapa Bamba Puang milik keluarga-keluarga paling berpengaruh dan terkaya disitu yang mendirikan Tongkonan rumah adat Tator beserta belasan lumbung padinya. Setiap Tongkonan satu keluarga besar dihiasi oleh puluhan tanduk kerbau yg dipakai untuk menjelaskan status sosial dalam strata masyarakat adat. Tongkonan itulah yang menjadi atraksi budaya dan menjadi obyek foto ratusan turis yang mendatangi tator. Identitas Etnis Suku Toraja Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma. Kata Toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat. Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja, yang tinggal di daerah dataran tinggi dikenali berdasarkan desa mereka dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan diantara desa-desa ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi Sulawesi. “Toraja” dari bahasa pesisir ke, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran tinggi. Akibatnya, pada awalnya “Toraja” lebih banyak memiliki hubungan perdagangan dengan orang luar seperti suku Bugis dan suku Makassar yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa’dan Toraja dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama, yaitu suku Bugis kaum mayoritas, meliputi pembuat kapal dan pelaut, suku Makassar pedagang dan pelaut, suku Mandar pedagang dan nelayan, dan suku Toraja petani di dataran tinggi. Wilayah Suku Toraja Kabupaten Tana Toraja merupakan salah satu dari 23 kabupaten yang ada di propinsi Sulawesi Selatan yang terletak diantara 2º20´sampai 3º30´ Lintang Selatan dan 119º30´ sampai 120º10´ Bujur Timur. “Ibukota” Tator yakni kota kecil Rantepao adalah kota yang dingin dan nyaman, dibelah oleh satu sungai terbesar di Sulsel yakni sungai Sa’dan, sungai inilah yang memberikan tenaga pembangkit listrik untuk menyalakan seluruh Makasar. Secara Sosio linguistik, bahasa Toraja disebut bahasa Tae oleh Van Der Venn. Ahli bahasa lain seperti Adriani dan Kruyt menyebutnya sebagai bahasa Sa’dan. Bahasa ini terdiri dari beberapa dialek , seperti dialek Tallulembangna Makale, dialek Kesu Rantepao, dialek Mappapana Toraja Barat. Baca Juga “Suku Tidore” Sejarah & Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan Batas-batas Kabupaten Tana Toraja adalah Sebelah Utara Kabupaten Luwu, Kabupaten Mamuju, Kabupaten Mamasa Sebelah Timur Kabupaten Luwu Sebelah Selatan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang Sebelah Barat Kabupaten Polmas Luas wilayah Kabupaten Tana Toraja tercatat km² atau sekitar 5% dari luas propinsi Sulawesi Selatan, yang meliputi 15 lima belas kecamatan. Jumlah penduduk pada tahun 2001 berjumlah jiwa yang terdiri dari jiwa laki-laki dan jiwa perempuan dengan kepadatan rata-rata penduduk 126 jiwa/km² dan laju pertumbuhan penduduk rata-rata berkisar 2,68% pertahun. Masyarakat Suku Toraja Keluarga Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Keluarga ikut memelihara persatuan desa. Pernikahan dengan sepupu jauh sepupu keempat dan seterusnya adalah praktek umum yang memperkuat hubungan kekerabatan. Suku Toraja melarang pernikahan dengan sepupu dekat sampai dengan sepupu ketiga kecuali untuk bangsawan, untuk mencegah penyebaran harta. Hubungan kekerabatan berlangsung secara timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian, berbagi dalam ritual kerbau, dan saling membayarkan hutang. Kelas Sosial Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga tingkatan kelas sosial bangsawan, orang biasa, dan budak perbudakan dihapuskan pada tahun 1909 oleh pemerintah Hindia Belanda. Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih tingi, ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan hingga saat ini karena alasan martabat keluarga. Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga, tinggal di tongkonan, sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana pondok bambu yang disebut banua. Budak tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat tongkonan milik tuan mereka. Rakyat jelata boleh menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan dalam keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak dilarang mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan, ada juga beberapa gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan atau perubahan jumlah kekayaan. Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang dimiliki. Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi budak. Budak bisa dibawa saat perang, dan perdagangan budak umum dilakukan. Budak bisa membeli kebebasan mereka, tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak diperbolehkan memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka, atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi pelanggaran tersebut yaitu hukuman mati. Mata Pencaharian Suku Toraja Mata pencaharian masyarkat ini pada dasarnya ialah bercocok tanam padi disawah dan sedikit di ladang. Selain padi mereka juga menanam jagung, sayur-sayuran, singkong, ubi jalar, kopi, cengkeh, kelapa dan markisa. Pada masa lalu daerah Toraja terkenal sebagai penghasil kopi yang bagus. Peternakan khususnya kerbau dan babi yang diperlukan untuk melengkapi upacara-upacara keagamaan mereka, untuk makanan sehari-hari mereka memelihara ikan di kolam beternak ayam dan itik. Kekerabatan Suku Toraja Sistem hubungan kekerabatan orang Toraja didominasi oleh kelompok kekerabatan yang disebut marapuan atau parapuan yang berorientasi kepada satu kakek moyang pendiri tongkonan yakni rumah komunal sekaligus menjadi pusat kekerabatan dan kehidupan sosial serta keagamaan para anggotanya. Kelompok marapuan terdiri atas kerabat dari 3-5 generasi, karena orang Toraja menganut pola kekerabatan yang bilateral sifatnya, maka seseorang bisa menjadi anggota dari beberapa buah tongkonan. Pada zaman dulu seseoranmg mencari jodoh cenderung ke dalam kelompok marapuan atau tongkonan “endogami” adat menetap sesudah menikah pada biasanya virilokal dan sekarang cenderung untuk neolokal. Baca Juga “Suku Wana” Sejarah & Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan Masyarakat Toraja sebenarnya terbagi ke dalam tiga daerah adat yakni Kama’dikan Pakamberan dan Kapuangan. Daerah adat Kapuangan memiliki sistem pelapisan sosial yang cukup tajam karena pengaruh kerajaan Bugis dan Makassar dulu. Golongan bangsawan Kapuangan disebut ma’dika, golongan rakyat kebanyakan disebut tomakaka, lalu golongan hamba sahaya yang disebut kaunan. Tentu saja golongan terakhir ini sekarang sudah tidak ada lagi. Agama dan Kepercayaan Suku Toraja Sebelum memeluk agama Islam atau Kristen, orang Toraja menganut sistem kepercayaan yang disebut Aluk To Dolo yakni kepercayaan lama yang terpusat kepada tiga aspek. Pertama pemujaan kepada Tokoh Pencipta yang disebut Puang Matua. Kedua pemujaan kepada deata-deata “dewa-dewa pemelihara”. Ketiga pemujaan roh-roh kakek moyang yang disebut Tomebali Puang yang dianggap memberi berkah dan pelindung kepada keturunannya. Sistem kepercayaan lama itu terutama terwujud dalam konsep mereka tentang kematian dan upacara-upacara sekitar kematian itu. Kebudayaan Suku Toraja Berikut ini adalah kebudayaan suku toraja, sebagai berikut Tongkonan Rumah Adat Toraja disebut Tongkonan. Tongkonan sendiri mempunyai arti tongkon “duduk“, tempat “an” bisa dikatakan tempat duduk tetapi bukan tempat duduk arti yang sebenarnya melainkan tempat orang di desa untuk berkumpul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah-masalah adat. Hampir semua rumah orang Toraja menghadap ke arah utara, menghadap ke arah Puang Matua sebutan orang toraja bagi Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu untuk menghormati leluhur mereka dan dipercaya akan mendapatkan keberkahan di dunia ini. Daerah Tana Toraja umumnya merupakan tanah pegunungan kapur dan batu alam dengan ladang dan hutan yang masih luas, dilembahnya terdapat hamparan persawahan. Tongkonan sendiri bentuknya adalah rumah panggung yang dibangun dari kombinasi batang kayu dan lembaran papan. Kalau diamati, denahnya berbentuk persegi panjang mengikuti bentuk praktis dari material kayu. Material kayu dari kayu uru, sejenis kayu lokal yang berasal dari Sulawesi. Kualitas kayunya cukup baik dan banyak ditemui di hutan-hutan di daerah Toraja. Kayu di biarkan asli tanpa di pelitur atau pernis. Rumah Toraja / Tongkonan ini dibagi menjadi 3 bagian yang pertama kolong Sulluk Banua, kedua ruangan rumah Kale Banua dan ketiga atap Ratiang Banua. Pada bagian atap, bentuknya melengkung mirip tanduk kerbau. Di sisi barat dan timur bangunan terdapat jendela kecil, tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin. Memiliki latar belakang arsitektur rumah tradisional Toraja menyangkut falsafah kehidupan yang merupakan landasan dari kebudayaan orang Toraja itu sendiri. Dalam pembangunan rumah adat Tongkonan ada hal-hal yang mengikat atau hal yang di haruskan dan tidak boleh di langgar, yaitu Rumah harus menghadap ke utara, letak pintu di bagian depan rumah, dengan keyakinan bumi dan langit merupakan satu kesatuan dan bumi dibagi dalam 4 penjuru mata angin, yaitu Utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia di mana Puang Matua berada keyakinan masyarakat Toraja. Timur disebut Matallo, tempat metahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan atau kehidupan. Barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan atau kehidupan, yaitu kesusahan atau kematian. Selatan disebut Pollo’na langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat melepas segala sesuatu yang tidak baik / angkara murka. Pembangunan rumah tradisional Toraja biasanya dilakukan secara gotong royong. Rumah Adat Toraja di bedakan menjadi 4 macam Tongkonan Layuk, rumah adat tempat membuat peraturan dan penyebaran aturan-aturan. Tongkonan Pakamberan atau Pakaindoran, rumah adat tempat melaksanakan aturan-aturan. Biasanya dalam satu daerah terdapat beberapa tongkonan, yang semuanya bertanggung jawab pada Tongkonan Layuk. Tongkonan Batu A’riri, rumah adat yang tidak mempunyai peranan dan fungsi adat, hanya sebagai tempat pusat pertalian keluarga. Barung-barung, merupakan rumah pribadi. Setelah beberapa turunan diwariskan, kemudian disebut Tongkonan Batu A’riri. Baca Juga Sejarah Suku Bugis Bangsawan Toraja yang memiliki Tongkonan umumnya berbeda dengan Tongkonan dari orang biasanya. Perbedaan ini bisa kita lihat pada bagian rumah terdapat tanduk kerbau yang disusun rapi menjulang ke atas, semakin tinggi atau banyak susunan tanduk kerbau tersebut semakin menukjukkan tinggi dan penting status sosial si pemilik rumah. Kenapa harus tanduk Kerbau? bagi orang Toraja, kerbau selain sebagai hewan ternak mereka juga menjadi lambang kemakmuran dan status. Oleh sebab itu tanduk atau tengkorak kepala kerbau di pajang dan disimpan di bagian rumah karena sebagai tanda bawasannya keberhasilan si pemilik rumah mengadakan sebuah upacara / pesta. Ukiran Kayu Melihat Rumah Adat Tongkonan Toraja, yang sangat menarik adalah variasi gambar dan simbol yang diukir menghiasi semua bagiannya. Ukiran-ukiran tersebut untuk menunjukkan konsep keagamaan dan sosial suku Toraja yang disebut Pa’ssura Penyampaian. Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya Toraja. Pola yang terukir memiliki makna dengan presentase simbol tertentu dari pemilik atau rumpun keluarga yang punya nilai magis. Ukiran-ukiran Toraja itu diyakini memiliki kekuatan alam atau supranatural tertentu. Diperkirakan, tidak kurang dari 67 jenis ukiran dengan aneka corak dan makna. Warna-warna yang dominan adalah merah, kunig, putih dan hitam. Semua sumber warna berasal dari tanah liat yang disebut Litak kecuali warna hitam yang berasal dari jelaga atau bagian dalam pisang muda. Pencipta awal mula ukiran-ukiran magis ini diyakini dari Ne’ Limbongan yang mana simbolnya adalah berupa lingkaran berbatas bujur sangkar bermakna mata angin. Setiap pola ukiran abstrak punya nama dan kisah antara lain motif “empat lingkaran yang ada dalam bujur sangkar” biasanya ada di pucuk rumah yang melambangkan kebesaran dan keagungan. Makna yang terkandung dalam simbol-simbol itu antara lain simbol kebesaran bangsawan motif paku, simbol persatuan motif lingkaran 2 angka delapan, simbol penyimpanan harta motif empat lingkaran berpotongan dan bersimpul dll. Selain motif-motif abstrak itu, beragam pula pola-pola yang realistis mengikuti bentuk binatang tertentu antara lain burung bangau motif Korong, motif bebek Kotte, Anjing motif Asu, Kerbau Tedong, Babi Bai dan ayam Pa’manuk Londong. Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan. lambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik. Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja, selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar ukiran dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat jelas ornamen geometris tersebut. Upacara Pemakaman Di Tana Toraja tradisi menghormati kematian dikenal dengan upacara Rambu Solo’. Persamaan dari ketiganya ritual upacara kematian dan penguburan jenazah. Di Tana Toraja sendiri memiliki dua upacara adat besar yaitu Rambu Solo’ dan Rambu Tuka. Rambu Solo’ merupakan upacara penguburan, sedangkan Rambu Tuka, adalah upacara adat selamatan rumah adat yang baru, atau yang baru saja selesai direnovasi. Baca Juga “Suku Pamona Di Sulawesi” Sejarah & Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan Rambu Solo’ merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja, karena memakan waktu berhari-hari untuk merayakannya. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari, saat matahari mulai condong ke barat dan biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Bahkan bisa sampai dua minggu untuk kalangan bangsawan. Kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu. Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo kepercayaan masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan Islam di kalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana. Upacara ini bagi masing-masing golongan masyarakat tentunya berbeda-beda. Bila bangsawan yang meninggal dunia, maka jumlah kerbau yang akan dipotong untuk keperluan acara jauh lebih banyak dibanding untuk mereka yang bukan bangsawan. Untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar dari 24 sampai dengan 100 ekor kerbau. Sedangkan warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50 ekor babi, dan lama upacara sekitar 3 hari. Tapi, sebelum jumlah itu mencukupi jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di tempat tinggi. Makanya, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun di Tongkonan rumah adat Toraja sampai akhirnya keluarga almarhum/ almarhumah dapat menyiapkan hewan kurban. Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini, jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak keluarganya siap untuk melaksanakan upacara ini. Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara Rambu Solo’ maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit karena statusnya masih sakit’ maka orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya. Jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama tongkonan tammuon, yaitu tongkonan dimana ia berasal. Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir. Jenazah berada di tongkonan pertama tongkonan tammuon hanya sehari, lalu keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di tongkonan yang pertama, yaitu penyembelihan kerbau dan dagingnya akan dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut. Seluruh prosesi acara Rambu Solo’ selalu dilakukan pada siang hari. Siang itu sekitar pukul Waktu Indonesia Tengah Wita, kami semua tiba di tongkonan barebatu, karena hari ini adalah hari pemindahan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante lapangan tempat acara berlangsung. Jenazah diusung menggunakan duba-duba keranda khas Toraja. Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga itu. Prosesi pengarakan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante dilakukan setelah kebaktian dan makan siang. Barulah keluarga dekat arwah ikut mengusung keranda tersebut. Para laki-laki yang mengangkat keranda tersebut, sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba. Dalam pengarakan terdapat urut-urutan yang harus dilaksanakan, pada urutan pertama kita akan lihat orang yang membawa gong yang sangat besar, lalu diikuti dengan tompi saratu atau yang biasa kita kenal dengan umbul-umbul, lalu tepat di belakang tompi saratu ada barisan tedong kerbau diikuti dengan lamba-lamba dan yang terakhir barulah duba-duba. Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante lapangan khusus tempat prosesi berlangsung, di sana sudah berdiri lantang rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Karena selama acara berlangsung mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka. Iring-iringan jenazah akhirnya sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di lakkien menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung. Menara itu merupakan bangunan yang paling tinggi di antara lantang-lantang yang ada di rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk rumah adat Toraja. Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Di rante sudah siap dua ekor kerbau yang akan ditebas. Setelah jenazah sampai di lakkien, acara selanjutnya adalah penerimaan tamu, yaitu sanak saudara yang datang dari penjuru tanah air. Pada sore hari setelah prosesi penerimaan tamu selesai, dilanjutkan dengan hiburan bagi para keluarga dan para tamu undangan yang datang, dengan mempertontonkan ma’pasilaga tedong adu kerbau. Bukan main ramainya para penonton, karena selama upacara Rambu Solo’, adu hewan pemamah biak ini merupakan acara yang ditunggu-tunggu. Selama beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan agenda acara berikutnya, penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua tamu-tamunya berada di tempat yang telah disediakan yaitu lantang yang berada di rante. Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan yang digemari oleh orang-orang Tana Toraja hingga sampai pada hari penguburan. Baik itu yang dikuburkan di tebing maupun yang di patane’ kuburan dari kayu berbentuk rumah adat. Musik dan Tarian Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum ritual terseebut disebut Ma’badong. Ritual tersebut dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakama. Pada hari kedua pemakaman, tarian prajurit Ma’randing ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Beberapa orang pria melakukan tarian dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. Tarian Ma’randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. Selama upacara, para perempuan dewasa melakukan tarian Ma’katia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum baju berbulu. Tarian Ma’akatia bertujuan untuk mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan kesetiaan almarhum. Setelah penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma’dondan. Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musim panen. Tarian Ma’bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarian Ma’gandangi ditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras. Ada beberapa tarian perang, misalnya tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma’dandan oleh perempuan. Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma’bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma’bua adalah upacara Toraja yang penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci. Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa’suling. Suling berlubang enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian Ma’bondensan, ketika alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari panjang. Suku Toraja juga mempunyai alat musik lainnya, misalnya Pa’pelle yang dibuat dari daun palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah. Bahasa Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja dengan Sa’dan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja. Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae’ , Talondo’ , Toala’ , dan Toraja-Sa’dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia. Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja. Ekonomi Sebelum masa Orde Baru, ekonomi Toraja bergantung pada pertanian dengan adanya terasering di lereng-lereng gunung dan bahan makanan pendukungnya adalah singkong dan jagung. Banyak waktu dan tenaga dihabiskan suku Toraja untuk berternak kerbau, babi, dan ayam yang dibutuhkan terutama untuk upacara pengorbanan dan sebagai makanan. Satu-satunya industri pertanian di Toraja adalah pabrik kopi Jepang, Kopi Toraja. Dengan dimulainya Orde Baru pada tahun 1965, ekonomi Indonesia mulai berkembang dan membuka diri pada investasi asing. Banyak perusahaan minyak dan pertambangan Multinasionalmembuka usaha baru di Indonesia. Masyarakat Toraja, khususnya generasi muda, banyak yang berpindah untuk bekerja di perusahaan asing. Mereka pergi ke Kalimantan untuk kayu dan minyak, ke Papua untuk menambang, dan ke kota-kota di Sulawesi dan Jawa. Perpindahan ini terjadi sampai tahun 1985. Ekonomi Toraja secara bertahap beralih menjadi pariwisata berawal pada tahun 1984. Antara tahun 1984 dan 1997, masyarakat Toraja memperoleh pendapatan dengan bekerja di hotel, menjadi pemandu wisata, atau menjual cinderamata. Timbulnya ketidakstabilan politik dan ekonomi Indonesia pada akhir 1990-an termasuk berbagai konflik agama di Sulawesi telah menyebabkan pariwisata Toraja menurun secara drastis. Toraja lalu dkenal sebagai tempat asal dari kopi Indonesia. Kopi Arabika ini terutama dijalankan oleh pengusaha kecil. Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari

masyarakat yang tinggal di daerah dataran tinggi biasanya menggunakan pakaian