Pgdx1436850980pdf kumpulan doa sehari hari diterbitkan oleh. Simak ulasan tentang √ doa untuk orang tua yang masih hidup, √ yang sudah meninggal, √ yang sedang sakit bacaan arab, latin dan artinya. Bahkan di dalam al quran disebutkan, jika kita. Doa katolik untuk orang sakit ini bertujuan untuk membawa kedamaian dan. Download Image
1025/2015 KISAH NABI IBRAHIM KISAH NABI IBRAHIM Nabi Ibrahim as mendapatkan tempat khusus di sisi Allah SWT. Ibrahim termasuk salah satu nabi ulul azmi di antara lima nabi di mana Allah SWT mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat. Kelima nabi itu adalah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad saw—sesuai dengan
blogini ditujukan bagi orang-orang yang ingin menyatakan bahwa Yesuslah dibuat pada tanggal 25 desember 2009, jam 10:10 PM dengan tujuan: 1. Memberikan bacaan2 rohani. 2. Sharing tentang Firman TUHAN lewat Alkitab. 3. Memberikan informasi lain sesuai permintaan dari member. Yesus kristus adalah pribadi roh kudus yg tak
Risminawati M.Pd. (2015) Analisis Penanaman Pendidikan Karakter 4 Sifat Nabi “SAFT” Pada Buku Siswa Kelas 4 Tema 1 “Indahnya Kebersamaan” Kurikulum 2013. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta. ARTHASARI, Dian Ayu Ara and , Ratna Yuliani, M. Biotech. St.
Agustiana Ayu Nurbayani (2018) Peran kepala desa dalam pembangunan desa di Desa Suci Kecamatan manyar Kabupaten Gresik / Ayu Nurbayani Agustiana. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang. Arifin, Azhar (2018) Pengaruh kualitas masukan yang dimiliki siswa terhadap hasil belajar bahasa Arab siswa kelas XI Jurusan IPS di MAN 3 Kediri / Azhar Arifin.
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. Novel by Sibel EraslanMaryam- Bunda Suci Sang Nabi - Kaysa - Bunda Suci Sang Nabi - Penulis Sibel Eraslan Penerjemah Aminahyu Fitri Penyunting Koeh Perancang sampul Zariyal Penata letak Riswan Widiarto Penerbit Kaysa Media, Puspa Swara Group Anggota IKAPI Redaksi Kaysa Media Perumahan Jatijajar Estate Blok D12/No. 1-2 Depok, Jawa Barat, 16451 Telp. 021 87743503, 87745418 Faks. 021 87743530 E-mail [email protected], [email protected] [email protected] Web dari Siret-I Meryem Cennet Kadinlarinin Sultani karya Sibel Eraslan Copyright c TİMAŞ Basım Ticaret Sanayi AŞ, 2013, İstanbul Türkiye Pemasaran Jl. Gunung Sahari III/7 Jakarta-10610 Telp. 021 4204402, 4255354 Faks. 021 4214821 Cetakan I-Jakarta, 2014 Buku ini dilindungi Undang-Undang Hak Cipta. Segala bentuk penggandaan,penerjemahan, atau reproduksi, baik melalui media cetak maupun elektronik harus seizin penerbit, kecuali untuk kutipan ilmiah. C/47/VII/14 Perpustakaan Nasional RI Katalog Dalam Terbitan KDT Eraslan, Sibel Maryam/Sibel eraslan -Cet. 1—Jakarta Kaysa Media, 2014 viii + 464 hlm.; 20 cm ISBN 978-979-1479-76-9 Penerbt Siapa tidak mengenal Maryam? Dialah wanita yangdianugerahi berbagai kelebihan oleh Allah . Kesabaran danketeguhannya dalam melaksanakan perintah Allah sudahsangat dikenal. Tak heran jika Maryam termasuk 4 wanitapenghuni surga. Novel yang ada di hadapan pembaca ini adalah seriterakhir dari serial 4 wanita penghuni surga karya wanitanovelis terkemuka asal Turki, Sibel Eraslan. Tiga novellainnya berkisah tentang Khadijah, Fatimah, dan Asiyahistri Firaun. Tiga seri ini telah mendapatkan apresiasi positifdari pembaca di seluruh Indonesia. Untuk itu, kami denganbangga mempersembahkan seri terakhir dari serial 4 wanitapenghuni surga ini. Meski di negara asalnya, Turki, novel Maryam tidakterbit terakhir, di sini kami sengaja menerbitkan kisah inisebagai terbitan pamungkas. Hal ini didasarkan pada alasanbahwa kisah Maryam dalam novel ini begitu luar biasa jikad kecintaan kepada perintah Allah pantas menjadi teladanbagi seluruh umat manusia yang hidup setelahnya. Dalam ini, kita akan melihat bagaimana sosok Maryam SangBunda Suci ini yang begitu sabar dan kokoh menerima segalamacam ujian yang mungkin belum pernah diterima manusia,baik dulu maupun yang akan datang. Bahkan, beliau telahmendapat ujian sejak dirinya baru dilahirkan. Inilah salahsatu alasan mengapa kisah tentang Bunda Maryam begitulayak dibaca dan direnungkan sebagai bahan pelajaran untukmenapaki kehidupan. Novel Maryam ini beralur flashback. Kehidupan Maryamdan putranya dikisahkan oleh tokoh iktif bernama dibuka dengan kisah yang menggambarkan kondisidan situasi yang terjadi saat peristiwa penyaliban NabiIsa. Merzangus yang menyaksikan peristiwa itu kemudianmengisahkan kehidupan Bunda Maryam dan Nabi Isa kepadaistri Pilatus, wali Romawi yang memimpin sidang kisah ini bermula. Selanjutnya, Merzangus berkisah tentang dirinya danpertemuannya dengan keluarga Maryam. Dia menyaksikankelahiran Maryam dan peristiwa yang terjadi pada diri Maryamsejak kecil. Merzangus juga mengetahui kelahiran Nabi Isa danmenjaga ibu-anak itu dari gangguan kaum yang berniat jahatkepada mereka. Kisah terus berlanjut hingga Nabi Isa dewasadan diangkat menjadi nabi. Intinya, Merzangus menjadi saksipenting atas seluruh peristiwa yang terjadi pada diri BundaMaryam dan Nabi Isa, sejak dari mula hingga akhir. Seperti 3 kisah sebelumnya, kekuatan novel ini terletakpada kemampuan pengarang meramu berbagai sumberpengisahannya menjadi “dongeng modern” tentang wanita-wanita hebat yang pernah ada dalam sejarah. Kita akan diajakoleh pengarang untuk “berkelana” pada ruang dan waktu jauh serta merenungkan dan membandingkan kembalisemuanya dengan kehidupan masa kini. Di sinilah keempatnovel ini menjadi penting untuk dibaca. Dalam konteks kekinian, tokoh-tokoh yang luar biasa inihadir bukan hanya sebagai simbol kebaikan, keluhuran, dankeagungan yang tidak bisa ditiru. Apa yang terjadi pada mereka,pada beberapa sisi, pasti juga dialami oleh manusia membedakan adalah sikap dan respons positif merekaterhadap semua kejadian yang menghampiri. Untuk itulahkita bisa belajar mengenai pengorbanan kepada Khadijah,keteguhan memegang akidah kepada Asiyah, keikhlasan dancinta kepada Fatimah az-Zahra, dan kesabaran kepada BundaMaryam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada mereka, parawanita ahli surga dan ibunda orang-orang hangatPenerbit Kaysa Media vDafar IsiPengnar Penerbt - iii 9. Perjalnn Terkir aer - 88Pembka - 2 10. eika Marym Baru dalm Bera- 921. Cahaya eing Marym - 6 11. Hnna Mengndng- Tngn yng Slalu Terbka - 12 12. Susna Hti Imrn- 1103. Merangs Sng Dkn Bayi- 18 13. Susna Hti Hnna- 1144. Ksah Merangs- 29 14. elairn Marym - 1185. Pengembaran Merangs - 37 15. Pengsuh Marym - 1326. Para Pejaln Tiba di al-Quds - 61 16. Ibi Sraj, Sng Penklk Snga- 1377. Hnna, Istri Imrn - 65 17. Penerman yng Bak - 1518. Pereun di al-Quds - 78 18. Ksah irab - 154 vi19. Mlht Malakt- 184 29. Suara eiga - 25220. Lngt pn Bergerk- 201 30. Para Ali stronoi pn Dim - 25621. nugerah uar Bisa - 208 31. Marym Bernaar - Malakt Trn 32. Marym embai ke al-Quds- 268kpada Marym - 21523. Nabiyulah Yahya Lair - 227 33. Ksah Tiga Bayi yng Mmpu Bicara - 27224. Sift-Sift Yahya - 229 34. Sift-Sift Isa - 27625. Btng Bereor di Btleem - 232 35. ijrah ke Msr - 28626. Marym di Btleem- 237 36. eidupn di Msr- 30427. Caan Cta Sbang 37. Ksh Sayng Marym - 317Pohon urma - 244 38. Dalm Pengsngn - 32728. ithn Marym - 249vii39. Nabi Yahya Waft - 332 48. Marym dn Buah Tn - 42340. eidupn di Nsara- 348 49. Pendkng Sejti Sng Putra- 42741. Bad-i Saba Berembs di Nsara - 350 50. Marym dn Seeor Kijng - 43442. Isa Sng Nabi - 357 51. Marym dn Kam isin- 43743. Sahabt-Sahabt Marym- 366 52. Para Hawari dn Jmun al-Maidah- Ksah Seorng Ali Bahsa 53. Berpsah Slmnya - 449dengn Seorng Tkng Kapal- 387 Peutup - 46245. Marym dn Para WnaAli Srga - 39446. Menyberngi Dnau Jailah - 41247. Di Pnggr Sbuah olm - 418 Srah “Apa jadinya seorang yang mencintaimu?” Jariyah “Katakan kepadanya, Janganlah pernah merasa takut!’” Syah Sungguh betapa sulit menguak isi hati. Seperti menimbaair di sumur yang dalam, harus penuh kesabaran dan reladengan seberapa yang didapat. Padahal, tidak ada satu sumurpun dapat ditimba air kata-katanya yang pantas untuk SangKekasih. Sumur begitu pemalu, begitu menutup diri. Ialebih suka merahasiakan dirinya daripada seperti itulah adatnya. Sementara itu, air tak mungkin sama saat beradadalam wujud awan dengan saat berada di dalam lubuk hatisumur. Setiap air akan berasa seperti tanah tempat sumurmenyimpannya. Sama persis keadaannya dengan hatimu. Tak mungkinhatimu mampu menuturkan Sang Kekasih dengan hal ini sudah sejak awal engkau ketahui. Tentu saja, engkau tidak tahu bagaimana akan bertuturkata tentang wanita cantik itu, tentang Sang Kekasih, tentangseseorang yang bernama Maryam. dia adalah Maryam milikmu. Bukan Maryam yangturun dari langit... Namun, engkau dapat menerka-nerka sosok Maryamdengan mengusapkan tanganmu pada hamparan jalan yangsepanjang abad dilewati penuh dengan linangan air mata,dengan meraba pada hamparan bebatuan besar dan kecilyang menutupinya, dengan menyapu debu-debu jalanan yangmeninggalkan jejak tentang dirinya. Kemudian, engkau melewati jalan yang penuh membawakenangan itu dengan ribuan kali pertobatan. Oh tidak, tidakmungkin engkau akan melewatinya.... Tidak mungkin engkau dapat melewatinya... Tidak mungkin kekuatanmu cukup untukmelakukannya... Cakrawala pengetahuan tentang “hakikat sang kekasih”hanyalah yang berharga bagimu, meski tidak mungkintergapai sebagaimana tingginya langit, meski begitu membuaibagaikan dimabuk cinta yang tidak diketahui. Tidak pernahpula terukur ambang batasnya. Jika semua tentang dirinya menjadikan rasa ingin tahuyang begitu mengguncang, seluruh yang bercerita tentangdirinya telah membuat jari-jemari tanganmu sebuah hakikat, cerita penuh kebohongan dangosip yang paling tidak mungkin sekali pun telah memberimukekuatan untuk selalu mengejarnya. Dan aku pun berlari. Aku kumpulkan. Aku perhatikan. Dan aku menjadi urung kemudian. Sampai aku bangkit, untuk mengumpulkan kembali. kumpulkan. Dan aku kumpulkan. Aku siapkan. Namun kemudian, terlihat bahwa setiap pigura yangmembingkai kenangan tentang dirinya terasa seperti sebuahketidakadilan, aib, dan rasa tidak tahu diri. Aku pun terdiam. Hingga aku kembali tersentak dengan perasaan tidaksabar. Tidak sabar untuk segera menggoreskan tinta tentangsesosok Wanita Cantik itu. Hingga remuk diriku; tercerai berai. Kerdil diriku. Kerdil hingga mendekati lenyap akibat luapan cinta. Inilahyang untuk sekali lagi aku ketahui. Sampai ia pun mengajarikubertatakrama seperti seorang malang yang ditempa untukpengabdian. Mereka adalah orang-orang sebelum bertanya kepada Syah, “Apa jadinya seorang yangmencintaimu?” Mereka itu para pembantu dan budak Maryamyang menuliskan namanya pada bebatuan pegunungandemi mendapati sesosok dirinya pada setiap apa saja yangdilihatnya. Sementara itu, sebagian yang lain melukiskan sosokdirinya agar tidak pernah lupa dan meninggalkannya. Yanglain lagi mencoba melupakan guncangan cintanya denganmenuliskannya ke dalam bait-bait puisi, seperti seorang yangminum sampai mabuk tanpa bisa berbuat apa-apa. Setiap disebut nama “Maryam”, semua orang yangmencintainya, kita menyebutnya para penggilanya, tetapmeniti jalan sekehendak mereka sendiri. Sementara itu, diriku adalah orang baru. Karena itu, aku lewati jalan mereka semua satu per satutanpa pernah mengenal jemu. Aku kunjungi setiap mimbar kitab-kitab lama, cerita-cerita terdahulu, kisah-kisah penuh hikmah, Perjanjian Lama dan Baru, Mazmur,Alquran al-Karim, kasidah gubahan Daud , Suhuf Idris yang hilang berserakan, kitab-kitab tabir mimpi, zodiak,peta bintang, rintihan-rintihan para unta yang dengan sabarmenarik pasungnya, kisah yang terucap dari penuturan buahzaitun tentang dirinya, cerita ikona, lukisan-lukisan, sertagoresan-goresan karya kaligrai. Aku dengarkan semuanyatanpa sedikit pun menyela untuk berbicara. Kesemuanya adalah para pengembara, ibarat dua matabuta yang jatuh ke dalam cinta buta. Sampai selang beberapa lama aku dapati diriku seolahbersimpuh di depan tungku perapian mendengarkanpenuturan cerita sepasang suami istri. Siapakah diriku selain sebagai seorang tukang gosip? Pudar wajahku dalam bayangan cermin di pasar perhiasansaat mencari seorang Maryam… Ya… cinta ini telah membuatku tidak tahu malu. Hingga selang beberapa lama kemudian, saat aku lantunkansalawat ke haribaan baginda Muhammad , kudapati dirikusadarkan diri. Sungguh, ia telah menjadi pundak dan juga kainkafan bagiku. Telah menjadi satu kesatuan dalam kelahirandan juga kematian dalam pengembaraanku. Tak lebih daripekerjaan “merangkai” mengenang nama baginda Muhammadyang mulia. Tak lagi diriku memiliki cara yang lain sehingga akubergenggam erat kepadanya Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala aliSayyidina Muhammad… -o0o- Cahaya eing Marym Ia adalah kening sang kekasih, tertuang dalam bait setiappuisi, dalam goresan setiap lukisan, dalam setiap relief, daningatan... Sedemikianlah ia dimuliakan. Bagi orang Timur, gambar adalah pantangan. Takut kalaumenyinggung, memenjarakan kenangan dari sang kekasih.“Mencintai tanpa menyentuh,” demikian kata orang untukdirinya. Wajahnya telah mengajari kita melukis. Gambar sangkekasih bukanlah lukisan. Ia adalah “riwayat” bagi kita, kisahmulia. Karena itulah nama kita hanya sebatas disebut sebagai“ahli riwayat” dalam pembicaraan tentang cinta. Dan menurut riwayat pula, dibaca dengan mad panjang,saat menyinggung tentang keningnya. Bacaan panjang. Demikianlah kening Maryam. Ia harus seperti jauh dan terang kilau pancaran cahayayang tak disentuh, tak pernah disentuh tangan. Ia adalah sebuah rumah yang bersih bagaikan pun tak pernah terbang dari atasnya. Sebuahrumah yang terbuka luas untuk setiap anak yatim. Sebuahtitik koordinat ukhrawi yang menjulang tinggi ke langit. Letakpersimpangan jalan samawi. Demikianlah “terang keningnya”. adalah “tempat” yang telah dipilih untuk menuangkankalimat Allah . Ia adalah peluang. Kemungkinan. Dan Maryam adalah seorang terpilih. Terbebas dirinya dari semua ikatan duniawi, bersihsuci, zakiyyah, perawan. Ia adalah sosok sempurna, sampaikehidupan pun tak pernah bisa meninggalkan bercakkepadanya. Itu karena ia adalah orang yang rasa gentar pun sama sekali tak pernah bisamenyentuh, mendekatinya. Sempurna tanpa cacat. Licin, tanpa kotoran barang sebercak. Dan Maryam adalah seorang yang telah diberi isyarat. Yang telah dilukis dengan tinta Allah . Ia adalah sebuah garis, yang mempertemukan antara bumidan angkasa. Sebuah titik, tempat pertemuan antara malaikat danmanusia. Dan Maryam menunggu dengan penuh kelembutan,selembut kain sutra. Dirinya adalah batu keseimbangan. Batu keharmonisan. Batu tirai. Sebuah tirai yang melarang dua sisi bersentuhan, bagaigaris arus yang memisahkan dua lautan. Dan ia adalah barzakh. Yang menjaga rahasia; yang tidak berbagi, tidak pulabercerita. Ia mengandung kalimat. Berpuasa untuk bicara. Terkuncimulutnya, terjaga dari membuka rahasia. Berbuka puasanyaadalah bicara sang anak. Saat putra Maryam berbicara, saatitulah seisi alam ikut berbuka puasa. Terbuka pula hati yang dari hakikat sehingga seisi alam penuh dengan kilaucahaya. Ketika putra Maryam berbicara, saat itulah Maryammenjadi penuh cahaya seperti lilin yang menyala terang dimalam-malam mulia dari atas menara masjid. Ia diam, sementara sang putra bicara. Semakin terusbicara, semakin terang lilinnya berpijar. Nyala lilin itulah yang menjadikan terang keningMaryam. Adalah nyala obor. Obor Maryam, yang memancar cahayanya dalam setiaptarikan napas Jibril. Napas yang membuat setiap benda yangdisentuhnya bernyawa; menjadi hamparan taman kembali jasad yang telah mati, sembuhkembali seorang yang sakit, terbang kembali seekor burungatas izin Allah, atas takdir yang telah digariskan-Nya. Takdirpula yang telah menjadikan kening Maryam sebagai sanalah pagi bermula. Di sana pula mentari menampakkanwajahnya dan kembali lagi menyelinap setiap datang waktumalam. Kening Maryam juga sebuah peta terang yangmengantarkan setiap pejalan ke tempat tujuan, yang memberiisyarat, tanda, lambaian tangan, melawat, mendoa. Adalah bahtera waktu yang tiada henti terus berlayar darizaman yang kekal menembus hari esok yang tidak diketahuiujungnya, menapaki jalan yang terang oleh pancaran cahayalampu lautan, yang tak lain adalah terang kening Maryam. Ya, Maryam adalah terang lampu lautan. Cahaya kening Maryam seterang sorotan lampu di ketinggian menara yang tak pernah tersentuh, tak sekalipun dipadamkan oleh tangan seorang. Sebab,pancaran cahayanya adalah inayah dari Allah . Cahaya kening Maryam yang menerangkan titah takdiryang begitu pedih bagi seorang ibu. “Yaa laytani....”, demikian jerit pedihnya. “Jika aku mati, tanpa mengalami semua kejadian yangditimpakan kepadaku ini. Jika aku mati, dilupakan, tanpaseorang pun akan tahu...” Cahaya kening Maryam. Beban terberat yang pernah ada di dunia. Dalam beratnya ujian, tinggi menjulang Gunung Araratpun hanya menempel kepadanya. Demikian pula itulah punggung Maryam merunduk. Dalam cahaya keningnya, ia diitnah dengan dakwaanyang paling memalukan. Terguncang dirinya bagaikan perahutongkang dalam lautan berbadai dakwaan, “Mungkinkahsaudara putri seorang Harun berbuat senista ini?” Sebatang jarum dalam hamparan samudra. Terhempassampai ke dasar yang paling dalam. Apalah daya ia sebatangkara. Adalah Maryam dalam tempat ketika matematika danangka keluar darinya. Setiap hitungan lebih pada Maryam. Terempas ia sebagai seorang wanita, dalam kenihilanyang tak pernah bisa terhitung oleh matematika. Diitnah. Dalam dasar sumur yang terdalam. Ia didakwa dengan tuduhan yang paling pedih bagiseorang wanita. Allah telah menuliskan surat pengampunanbaginya pada seluruh alam! Maryam adalah satu senjata. Dan memang, dirinya adalah seorang yatim, sebatangkara. Lebih dari itu... ia juga menjadi ibu dan juga ayah bagiputranya. Seorang wanita yang garis takdirnya begitu beratmelebihi berat massa besi. Seorang manusia. Seorang wanita. Tak ada seorang pun yang mengusap-usap punggungnya,tak ada seorang pun yang membelai rambutnya. Yatim dia,dan juga sebatang kara... Ah! Tapi janganlah engkau bersedih karena rezeki datangdari Allah. Termasuk rezeki seorang yatim seperti Allah ada, apalah artinya berpedih hati! Tak ada kerisauan adalah saat kita tak menghadirkan Allah .Kita sendiri dari Allah dalam keramaian keinginan, harapan,harta-benda, pangkat, dan jabatan... Dan Maryam adalah muqarrib. Hamba yang dekat denganTuhannya. Seorang yang menggenggam kalimat Allah di dalamkepalan tangannya. Yang dengan itu, tak ada satu pintu punyang tak akan terbuka. Ya, terbuka semua pintu bagi seorangsahabat akrab seperti dirinya. Dan terang kening Maryam adalah tanpa pintu. Seorang hamba! Cahaya keningnya adalah setia pada perintah “Uqnut yaMaryam!” Bersujud hormatlah setiap malaikat untuk menciumterang keningnya. Terang kening yang sama sekali tidak memberi muka selain pada keridaan Allah , cahayayang menjadi tanda nur hidayah-Nya. Maryam adalah seorang yang telah tergadai. Bagaikankening hewan kurban yang diberi isyarat warna. DemikianlahMaryam, ia telah diberi tanda. Ya, Maryam adalah seorang yang telah dirias denganriasan sujud pada keningnya dan air pada tangannya. Sebagaimana mawar juga telah merias lembut bibirnya;dengan stempel bacaan doa, dengan segel lantunan zikir. Adalah sifat pemalu dalam cahaya kening karena malu. Seorang yang malu pada dirinya. Maluuntuk menjadi dirinya. Jika saja harus meminta demi dirinya,ia pun akan lebih memilih menjadi tanah yang tak Maryam. Ia adalah seorang yang terpendam, tertutup, terlarang. Ia adalah Maryam. Seorang ahli rida. Melarang diri dariterlihat. Tertutup, terlindungi dengan selimut. Begitulah, diaadalah seorang yang maksum atau terjaga. Tak pernah seorang pun mampu memintal selimutpelindungnya karena jilbabnya adalah tangga Allah yang telah menjadikan jilbabnya sebagai tanggamihrab. Adalah putih lembut kening Maryam, seputih, sehalal airsusu ibu. Terang kening Maryam, yang mengangkat ke derajatyang tinggi, yang khusus bagi hamba yang selalu memuji... Terang kening Maryam, yang telah distempel dengankalimat tauhid. -o0o- yng Slalu Terbka Tangan Maryamlah yang menuntun, mendekap,melindungi, menopang, dan meninggikan putranya. Dalamsejarah, tak ada seorang pelukis yang menggoreskan kuasnyadan menggambarkan Maryam dengan tangan tertutup atauterkepal. Seorang Maryam selalu digambarkan dengan tanganterbuka. “Tangan terbuka” adalah perjuangannya dalam kerelaanmenerima takdir yang telah digariskan kepadanya. Tanganterbuka yang digubah dalam syair dan puisi sebagai tanganpenyabar dan penyayang. Sebagai tangan yang selalu perjuangan memikul ujian menghadapi berbagaikesulitan, memegang amanah dari Allah untuk masa depandengan kekuatan yang terhimpun dari doa. Bukanlah tangan Maryam, tangan yang berkepal,tertelungkup, dan lemah. Bukankah tangannya sebagai “perantara” yangmenggenggam “Kalam Allah”? Sebagai penggenggam yangmenggemakan Kalam Allah. Ia adalah kotak kalimat. Gelas. Lahan. Dan pembungkus kalimat... Dialah seorang ibu yang putranya adalah “kalimat” Allah. Sementara itu, putranya sendiri adalah kebaikan yangtelah dihibahkan untuk umat sekalian alam. Bukankah pada dasarnya setiap bayi yang lahir adalahkarunia dari Allah ? Sementara itu, ibundanya adalah orangyang menerangkan, menuntun ke dalam kehidupan duniaini, mendekap, serta menyelimuti untuk melindunginya darisegala marabahaya. Maryam adalah buaian bagi Isa , selimut, pakaian bagiputranya. Tegak Maryam, menuntun sang putra di atas dirinya ibarat tanah itu sendiri. Laksana seorangrendah hati yang menumbuhkan “benihnya” di dalam jiwanyasendiri. Terbuka tangan Maryam, menengadah ke langit. Tangan yang menggenggam alam langit dan bumi iniseperti kontur di antara Pencipta dengan ciptaan-Nya. Seolah-olah Rabb telah menghamparkan seisi langit dan bumi kepadaseorang ibu yang mendekap erat anaknya. Dan seorang ibu adalah faktor penting yang merekatkanmasa lalu, masa yang akan datang, dan kehidupan di masasekarang demi hormat atas terbukanya kedua tangan untukberdoa. Perekat, yang menurunkan langit mendekati bumi, yangmeninggikan bumi sejengkal dari langit. Dan Maryam adalah perantara. perantara, yang menjadi poros pusat sebagai acuandesain segala ciptaan di antara langit dan bumi. “Adalah tangan para ibu”. Tangan yang menggenggam penuh dengan tangan seorang Maryam, yang menggenggam“kalam”, yang mendekapnya, menjaga, dan menjadi tempatpertama berlindungnya. Allah telah mengamanahkan “Kalam-Nya” kepadadekapan ibu dan kepada tangan-tangan yang relaterhadapnya. Dan Maryam, seorang ibu yang tangannya tiada henti berkerja. Meski lemah secara itrah untuk selalu bekerja, bergerak,dan melakukan sesuatu, dalam kaitannya dengan tugasmelindungi, tangan Maryam ibarat tangan petani yang sabarmerawat tanamannya. Perjuangannya untuk menumbuhkanbenihnya adalah jerih payah tangannya, cucuran keringatnyasendiri. Dan Maryam memikul kedua tugasnya, sebagai tanah danjuga sebagai petanai yang merawat tanah itu. Mungkin, karena hal inilah menjadi ibu adalah mulianamun susah. Dalam waktu yang bersamaan menjadi perawat,baik tanah maupun benihnya, melekat di dalam hal yang kontradiktif dalam ruhnya. ibu yang rendah hati, serendah tanah yangmemandang ke langit, menantikan turunnya curahan airhujan, seraya membuka dirinya di bawah hamparan menjadi ibu yang begitu gigih, meradang,menerjang, berjuang demi menghadiahkan apa yangdianugerahkan kepadanya dari langit. Ibu adalah seorang yang merobek jiwanya untukmengeluarkan Kalimat yang ada di dalam lubuk hatinya. Seorang pemikul amanah. Seorang yang menerima untuk diberikan. Yang satu dari dalam jiwanya dan yang satunya lagi daridalam sikapnya. Dua tindakan yang membubung seperti madjazir dalam kehidupan seorang ibu. Ia terima dengan penuhperasaan malu dan tertunduk apa yang telah ditiupkan malaikatsebagai takdir dari Ilahi. Putranya pun akan mengeluarkan“perkataan” dari dalam lubuk jiwanya yang akan membuathamparan dunia berubah. Maryam adalah satu namun dua. Sebagaimana dua sisidalam satu neraca. Maryam begitu piawai. Kehidupan sebagai seorang ibu telah menjadikan dirinya piawai, ahli. Mampu menjadikan malaikat kehidupannya sebagai manusia. Karena itulah ibu merupakan satu kesatuan dengananaknya. Tiada arti keberadaan dunia ini seisinya tanpakeberadaan sang anak sehingga dirinya sangat “khawatir” hal ini. Gesit, dan bertangan terbuka. Menyatudengan sang anak di sepanjang waktu. Demikianlah, Maryamtak pernah berlepas tangan dari Isa, putranya. Tak mungkin ia berlepas tangan. Dan oleh karena itulah putranya juga akan selalu diingatbersama dengan ibundanya. Berkat itu pula nama kenabianIsa adalah “Isa Ibnu Maryam”. Demikianlah tangan Maryamyang selalu terbuka, selalu menopang punggung putranya.... -o0o- Sng Dkn Bayi “Nah, orang inilah!” kata Wali Pilatus dengan suara lantangsembari tertawa. Ia memandang ke bawah dari atas balkon marmeristananya. Satu tangannya menunjuk ke arah seorangpemuda terlilit rantai yang disangka Isa. Satu tangannya lagiberganti memukul ke arah udara. Tatapannya penuh dengankemarahan. Urat-urat nadi di lehernya terlihat keluar. Dalam pandangannya, patung Raja dan Tuhan Caesar disebelah selatan tempat peribadatan istana yang didatangkandari Roma dengan menghabiskan dana besar seolah-olahbangga kepadanya sebagai seorang Pontius Pilatus, banggamendengarkan seorang Wali al-Quds yang sedang bicara. Untuk sekali lagi, sang wali menatap ke arah parapenduduk al-Quds yang berduyun-duyun memadati halamanistana dengan tatapan yang begitu sinis setengah kasihan. Jubahnya yang memanjang sampai ke lantai memaksadirinya berjalan pelan dibantu beberapa orang. Ia punberhenti di tataran pertama sebuah tangga di samping semua orang tertuju kepada seorang pemuda. orang inilah!” kata Pilatus. “Inilah orang yangmengajak kalian berbuat makar dengan berpura-pura rendahhati, berpura-pura menjadi guru rohani. Inilah sosok yangmenyebarkan itnah dan kebencian. Dia ingin memecah belah,menentang Roma dan Tuhan Caesar. Inilah orangnya!!!” Napas setiap orang seolah-olah terhenti, terpaku menatapke arah balkon. Pada saat itulah anak muda yang tubuhnya dililit rantaiitu dengan penuh susah payah dibawa ke hadapannya. Padapunggung anak muda itu melekat sehelai kain penutup yangterbuat dari bulu domba yang sering dipakai para pemudayang telah menganut agama baru. Cukup tinggi tubuh anakmuda itu. Rambutnya memanjang sampai ke yang putih tertunduk, dengan kedua tangan dankakinya terlilit rantai. Saat itulah ia dipertontonkan kepadasemua penduduk. “Orang inilah,” kata Pilatus, “yang sudah gila danmenyatakan dirinya mampu menghidupkan kembali yangsudah mati. Seorang juru sihir dan juga mata-mata yangmengembuskan kebencian kepada Roma!” Pilatus kemudian bicara dengan suara lirih, berbisik, seolahmenirukan gaya bicara para pembantu penjilatnya, “Sekarangmari kita tanya kepada orang ini! Siapakah ayahmu, wahai ruhsuci? Bisakah kamu menyebutkan nama ayahmu sendiri?” Sama sekali tidak terdegar jawaban apa-apa. “Heiii! Kami tidak bisa mendengar kamu bicara. Ceritakantentang siapa ayahmu agar semua warga Yahuda tahu, haianak yatim malang! Bicaralah!” Anak muda itu hanya terdiam tanpa menjawab barangsepatah kata. Ia terus menahan rasa sakit oleh luka yang darah sampai telinganya. Ia tak mampu untukberdiri. “Inilah orang yang kalian ikuti kata-katanya untuk berbuatmakar. Ketahuilah, sesungguhnya dia tanpa ayah, wahaiwarga Yahuda! Ibunya yang bernama Maryam juga seorangwanita pendosa yang telah diusir dari tempat ibadah yang dikatakan para tetua kalian. Oh tidak, tidak....Aku bersumpah demi Caesar, aku tidak berucap demikiantentang Maryam. Semua ini adalah apa yang telah diputuskanpada Maryam dan putranya di hadapan hukum kalian wahaibangsa Yahuda!” “Inilah orangnya!” “Coba perhatikan! Orang ini pun tidak menjawab apa yangaku katakan. Jangan sampai kalian ikut tertipu olehnya. Dirinyasendiri pun tidak tahu siapa ayahnya. Dia juga tidak tahu darahketurunan siapa yang mengalir dalam urat nadinya. Karenadia hanya diam saja tidak bisa menjelaskan siapa ayahnya,kita pun akan mendapatkan jawabannya dengan bertanyakepada darah yang sebentar lagi akan mengucur dari uratnadinya!” kata Pilatus penuh kemarahan, sampai-sampai diajuga memukul keras seorang pelayan minuman yang berdiridi sampingnya saat sedang membawa nampan. Pelayan itupun tersungkur sehingga gelas-gelas dan nampan yang dibawajatuh berserakan. Minuman keras berwarna merah darahpun tumpah membasahi tangga. Pilatus menunduk sambilmenyapu minuman keras yang membasahi tangga itu dengantangannya. Jarinya yang basah dikecap seakan-akan sedangmeminum darah sosok yang disebut Isa itu dengan berlagakseperti seekor binatang buas. begitu, kita akan tanyakan siapa ayahnya kepadadarah yang akan mengalir dari urat nadinya! Wahai HakimKaldion, segera bacakan hukumannya!” Setelah dua kali berpura-pura batuk, Kaldion mulaimembaca beberapa bait surat keputusan dalam bahasa Latinyang diambil dari dalam gulungan kotak emas. Dalam suratitu, Augustus memulai tulisannya dengan sanjungan danpernyataan setia kepada Caesaria yang memiliki kekuasaanmembawahi Mesir, Antakia, al-Quds, dan seluruh wilayahSyam. Penyebutan kesetiaannya kepada Roma ini menunjukkansebuah tantangan kepada bangsa Yahuda. Setelah kekuasaan Batlamyos atau orang-orang Yunani,semua daerah tersebut digabungkan ke dalam wilayah pasti, untuk mengatur negara bagian Timur yangsangat jauh dari pemerintahan pusat, Roma akan mengangkatseorang wali yang setia atau akan menunjuk seorang dariRoma. Sudah pasti pula kalau permasalahan paling pelik didaerah kekuasaan Timur ini adalah beragam keyakinan yangtidak sejalan dengan keyakinan Roma. Meski sebenarnya Roma tidak pernah menerapkanperlawanan terhadap keyakinan lokal setiap daerah yangberhasil mereka kuasai, dengan mapannya kekuasanpolitik dan ekonomi, lambat laun keragaman keyakinanlokal tersebut dipaksa untuk tunduk. Hal ini juga terjadipada keyakinan Tauradi yang mendominasi kebanyakanrakyat Yahuda. Awalnya, pemerintah Roma tidak langsungmemeranginya, bahkan terhadap para pendeta pun pemukaagama Roma berpura-pura menjalin hubungan yang baiksampai memberikan status politik tersendiri. pendeta Baitul Maqdis juga sebisa mungkin menjalinhubungan baik dengan Wali Roma, Pilatus. Namun, padamasa-masa terakhir ini, keadaan mereka sebagai para pendetaberada dalam kondisi yang sangat susah karena wilayah al-Quds dilanda masalah kekuarangan air. Bersamaan dengandiberlakukannya pajak yang sangat berat untuk membuatsaluran air ke dalam kota, warga mulai tidak simpati kepadapara pendeta. Terlebih dengan adanya patung besar Caesardari Roma yang didirikan di Meydan yang terletak disebelah Mabed, tempat ibadah mereka, yang telah menyulutkemarahan bangsa Yahuda. Bangsa Yahuda telah siap melakukan tempur, ibaratgranat yang telah dibuka pelatuknya. Masyarakat telah ramaimenyerukan bahwa “Membayar pajak dan menjadikan kaisaryang fana sebagai Tuhan adalah hal yang tidak benar.” Sebenarnya, pembicaraan yang santer terdengar dari mulutke mulut ini sudah sangat mengganggu pejabat Roma dan jugapendeta di Baitul Maqdis. Lebih-lebih, dengan kedatanganseorang bernama Isa ibnu Maryam, hal itu semakin menyulutkeadaan yang sudah memanas. Seorang pemuda yang menamakan dirinya “mualim” atauguru ini telah menyatakan dirinya sebagai utusan Allah. “Kita semua adalah bersaudara,” katanya. Ia bercerita tentang Ibrahim, Musa. Ia mengajak semuapenduduk untuk hanya taat kepada Allah yang Esa. Karenaajakannya inilah ia dituduh telah menghasut dan membuatpropaganda kepada masyarakat untuk berbuat makar.“Sungguh, apa yang telah dilakukan pemuda ini adalah sebuahkesalahan besar di sepanjang sejarah kehidupan Roma,” katamereka. itu pun harus dihukum. Karena telah berbuat makar kepada pemerintah, dia harusdisalib. Tiga hari sudah dari persidangan yang menghasilkankeputusan bahwa pemuda itu akan dipancang di tiang salibdengan kedua tangan dan kakinya dipaku. Setelah itu, sekujurtubuhnya akan diremukkan sampai mati. Saat Hakim Kaldion mengumumkan bahwa sidangdan vonis hukuman akan dilakukan tiga hari lagi, wargayang berkumpul menjadi ribut. Sekerumunan pemudayang mengenakan baju yang sama dengan terdakwa salingberbisik. Sementara itu, seorang wanita tua bernama Merzangussaat itu sedang menunduk dan membungkukkan badannyamelihat ke bawah dari ketinggian balkon. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat ke arah Kaldion dan sesekali melihatke arah si pemuda seraya dengan khusyuk memanjatkan itulah Wali Pilatus memerhatikan wanita tua itu dankemudian membisikkan sesuatu kepada para lama kemudian, dua penjaga kerajaan menuruni tanggake arah balkon untuk mendatanginya. “Hai Nenek! Nyonya Prokula memanggilmu!” kata merekaseraya menggandeng kedua lengan tangannya untuk dibawamenuju pintu istana bagian barat. -o0o- Lama sudah Nyonya Prokula menunggu Merzangus dalamtangisan penuh linangan air mata sehingga kedua matanyamembengkak. Segala cara sudah dilakukan, namun tetap tidakbisa meyakinkan Wali Pilatus yang menjadi suaminya. Baru kali Nyonya Prokula pernah bertemu dengan Isa putraMaryam yang disebut-sebut masyarakat sebagai seorangpembimbing. Pertama kali ia melihatnya saat mengobatiorang buta. Yang kedua ia mendapati Isa putra Maryam saatberdakwah kepada masyarakat untuk tidak menyembah tuhanselain Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya, seseorang yang telah membuat hati Prokula tersentuh hingga luluh adalah ibunda Isa, yaitu Maryam. “Bunda Maryam,” demikianlah masyarakat menyebutnya. Tepatnya, beberapa tahun lalu, setelah dengan penuhsusah payah meyakinkan suaminya, ia akhirnya dapatmengunjungi Maryam. Ia meminta doa kepada Maryamsehingga putrinya yang bernama Dafne sembuh dari sakitparah. Hanya saja, beberapa waktu lalu Dafne jatuh dari punggungnya patah dan kemudian meninggal duniapada usia yang masih sangat muda. Remuklah hati malam ia menangis dan mengurung diri di dalam kamartanpa mau keluar. Ia juga sama sekali tidak mau bertemudengan siapa pun. Sampai-sampai Pilatus berkata, “Jika terusbegini, ia akan jadi gila.” Semenjak putrinya yang bernama Dafne sembuh, hampirdelapan tahun lamanya Nyonya Prokula taat pada ajaranMaryam. Sesekali ia mengunjungi rumahnya. Merzangussendiri adalah wanita tua yang menjadi teman dekat sekaligustempat berbagi rahasia Ibunda Maryam. Maryam sama sekali tidak pernah menginjakkankakinya ke istana. Jika berkeinginan untuk menyampaikanberita, ia akan mengutus Merzangus untuk Maryam juga menganjurkan Merzangus seseringmungkin mengunjungi istana demi memberikan dukungankepada Prokula yang menjadi satu-satunya orang di dalamistana yang beriman. Pilatus, sang suami, sangat keras kepala. Segala cara akania lakukan demi mendapatkan simpati penguasa Prokula merasa sendiri dalam kemewahan parapejabat negara yang begelimangan kenikmatan menjadi dusta baginya dan kehampaanlah yang iarasakan. Sementara itu, Pilatus mendasarkan semua penderitaanyang dialami istrinya lantaran putrinya yang bernama Dafnemeninggal dengan begitu mendadak. Karena itu pula, Pilatusmembiarkan seorang dukun bayi dari al-Quds bernamaMerzangus keluar-masuk istana dengan bebas. Meski tahu Merzangus dekat dengan Maryam, Pilatustetap menahan diri karena dialah sosok satu-satunya yang bisamenjadi pelipur lara bagi istrinya. Pilatus pun membiarkandirinya bersama istrinya. Selain itu, ia sebenarnya juga telahmenyebar mata-mata di seluruh penjuru al-Quds. Karenaseorang yang menjadi pelindung bagi rakyat yang menderita,yaitu Isa, telah berhasil ditangkap olehnya, biarlah Merzangussementara menenangkan hati istrinya. Di saat Pilatus sedang memikirkan semua ini, Merzangustelah berada di dalam kamar Prokula. Meski Prokula telah berupaya menerangkan mimpi yangdialaminya kepada sang suami, dan meski telah berupaya bahwa pemuda yang ditangkapnya hanyadengan alasan yang tidak masuk akal sebenarnya adalahutusan dan kekasih Tuhan, tetap saja ia keras kepala. Bahkan,Pilatus semakin benci, marah, serta menganggap istrinya cara penyembuhan pun sudah diusahakan. Namun,para tabib yang dipanggilnya tidak kunjung menjadi perantarabagi kesembuhan istrinya. Pilatus pun semakin marah danakan memenjarakan atau mengasingkan para tabib yangtidak bisa mengobati istrinya. Hampir tidak tersisa sudah carayang ditempuhnya untuk mengobati istrinya. Segala macamobat tumbuh-tumbuhan, sihir, dan tabib tidak mampumenyembuhkan istrinya. Hampir selama dua belas bulan terakhir ini Prokula bermimpi hal yang sama ada bulan yang tiba-tibaturun dari langit ke dalam istana, menjadikan ranjangsang suami bersimbah darah dan para malaikat yang wajahnya tidak dikenal melaknat sang suami. Sejak saat itulah Prokula terus mengurung diri tanpamau makan dan minum. Tubuhnya semakin kurus dan tidakbertenaga. Ia terus menyendiri tanpa mau bertemu selaindengan Merzangus. -o0o- Dengan penuh kesombongan, Pilatus menyapu pandanganke arah kerumunan rakyatnya yang memadati alun-alun Ia merasa semakin bangga mendengar kerumunanrakyatnya yang serempak mengelu-elukan namanya. Ah,seharusnya istrinya saat itu berada di sampingnya, bersamamerasakan kebanggaan itu. Ah Prokula! Mengapa istrinyabisa menjadi sedemikian gila sampai mau meninggalkannyademi mengikuti seseorang yang ayahnya pun tidak jelas danmengaku sebagai nabi.... -o0o- “Bagaimana keadaanmu, wahai anakku?” tanya Merzangussaat memasuki pintu. Seharusnya Prokula tidak mendengarpanggilan itu karena wajahnya tertelungkup di saat itu juga ia bangkit seraya berlari menyambutkedatangan Merzangus. Ia bersimpuh di depan kakinya. “Dia akan membunuhnya, dia akan tahu, pasti dia akan membunuh Isa, nabi kita. Ah,Ibunda! Seharusnya kita melindunginya. Seharusnya kitamenyembunyikannya secepatnya,” kata Prokula sembarimenangis sejadi-jadinya. Ibunda Merzangus juga ikut menangis. “Janganlah engkaumenangis anakku. Kita tidak boleh menangis. Pasti Tuhantelah menggariskan takdirnya untuk Isa putra Maryam. “Namun, sekarang orang-orang telah mendengar pengumuman semua pembesar kerajaandipanggil untuk menyaksikan hukumannya.” “Apakah kamu benar-benar telah menyaksikan siapa yangtelah ditangkap, anakku? Apakah benar ia adalah Nabi kita?Aku mengenal baik dirinya sejak di hari kelahirannya. Akujuga mengenal dekat ibundanya sejak sang putra dilahirkan. benar, pemuda yang ditangkap itu sangat miripdengan Nabi kita. Namun, bersabarlah sampai terkuakhakikatnya. Kita bicarakan mengenai hal ini nanti. Sekarang,kita harus segera mencari cara untuk bisa keluar istana. Waktukita hanya sebentar. Ibunda Maryam telah menunggumu. Ayo,segera bersiap-siap. Kita tidak lagi dapat tinggal lebih lama disini.” “Tapi, bagaimana mungkin aku kuat berjalan. Tubuhkusangat lemah.” “Aku akan membantumu anakku. Ayo, biar segera akuambilkan pakaianmu sembari bercerita kepadamu. Pernahkahkamu mendengar cerita hidup seorang dari Gendora bernamaMerzangus? Ah... banyak sekali hal yang sudah aku lihat, yangsudah aku alami...” Merzangus terus bercerita sambil dengan cepatmempersiapkan pakaian dan barang-barang yang bercerita mengenai masa lalunya dari satu topik ke topikyang lain yang berlalu bersama masa lalu Ibunda Maryam... Seolah-olah, apa yang diceritakan Merzangus adalahsebuah catatan harian. Sebuah catatan harian yang dia tulismengenai Ibunda Maryam... -o0o- Ksah Merangs Di antara makhluk di bawah bintang-bintang di langit,siapakah yang jauh lebih dekat kepada Allah daripada seorangyatim... Merzangus hidup sebatang kara. Tidak ada yang dia milikidi dunia ini selain langit yang memayungi dan hamparan bumiyang menjadi penyangga tempat berbaringnya. Tidak ada lagi seorang yang dapat ia panggil sebagai“saudara”, tidak pula seorang yang akan membantu danmelindunginya. Padahal, usia Merzangus baru delapan tahun. Ayah, ibu,keluarga, dan sanak saudaranya tewas dibantai para penyamunyang menjarah kampung halamannya. Untunglah, saat ituterjadi, Merzangus sedang diminta menimba air di sebuahsumur di kampung sebelah bersama teman-teman enam belas anak dan mereka menjadi yatim saat kembalike kampung tempat tinggalnya. Tak beberapa lama, datanglah sekelompok penunggangkuda dari Gendora. Merekalah yang kemudian mengumpulkananak-anak yatim ini untuk dibawa menempuh perjalanan dua sampai ke pusat kota Gendora. Pembantu wali Gendoramemerintahkan agar mereka ditempatkan sementara di pantiasuhan. Tempat sementara agar dapat mandi, menyisir rambut,dan mengganti pakaian sebelum adat diberlakukan. Pegawaikerajaan akan menyebarkan berita ke seluruh pelosok untukmengumumkan nama-nama para yatim. Jika dalam waktusepuluh hari tidak ada keluarga yang mendapatkan mereka,anak-anak yatim itu akan dibawa ke pasar budak untuk dijualkepada siapa saja yang mampu memberikan uang palingbanyak. Dua kali dalam satu tahun diadakan pesta hiburanbertepatan dengan pertengahan bulan. Para pemain musik,tukang sulap, pedagang, peliput berita, pemain teater, dankelompok sirkus berdatangan dari berbagi penjuru untukikut meramaikan pesta rakyat. Pada hari akhir pesta itulahdiadakan acara “lelang yatim”. Para anak yatim akan diberipakaian baru, dirias, dan didandani untuk dipertontonkankepada para keluarga kaya atau pengusaha yang membutuhkanpembantu. Remuk hati Merzangus mendapati kejadian yangdialaminya dalam beberapa hari terakhir ini. Dalam kurunwaktu sekejap saja ia telah sebatang kara. Tidak tersisa lagiseorang pun dari keluarganya. Demikian pula kampunghalamannya. Kini, setiap orang telah menjadi kejam dan asingdalam pandanganya. Semua orang suka memaki dan berlakukasar terhadap dirinya. Bahkan, para pengurus panti asuhanjuga tega memisahkan dirinya dari teman-teman sekampunghalamannya. Mereka membenci kebersamaan di antarasesama anak yatim. Sejak saat itulah Merzangus paham bahwadirinya tidak boleh lagi mengharapkan bantuan dan belas orang lain. Ia pun mulai berpikir bahwa keberadaannyahanya untuk mengabdi, setia kepada seseorang yang akanmenjadi tuannya. Demikianlah kisah seorang Merzangus. Seorang anakyatim yang kini kenangan terakhir akan wajah teman-temandari kampung halamannya pun sirna sudah. Semua orangdi panti asuhan tidak saling bertegur sapa satu sama mereka tidak tahu akan jatuh ke tangan siapa setelahitu? Satu-satunya hal yang mereka tahu, barang siapa bersikapburuk terhadap keluarga kaya yang telah membelinya, ia akandisiksa, dicambuk, dan dipotong lidahnya. Demikianlah apayang diceritakan para pengasuh di panti asuhan. Bahkan, jikasemakin terus nakal, ia akan disuruh untuk menjadi pengemisdi pinggir jalan! Merzangus pun kerap terbangun di keheningan malamakibat mimpi buruk yang menghantuinya. Ia terbangundengan tubuh dipenuhi keringat dingin. Seakan-akan rasasakit masih terasa menyayat ujung lidahnya karena goresanpisau yang dilakukan orang-orang yang telah menebas leherkeluarganya. Remuk sudah hati Merzangus. Beban seberat meriamseolah-olah telah menindih tubuhnya yang kecil. Atau mungkin karena dirinya adalah seorang yatimsehingga beban itu terasa sedemikian berat baginya? -o0o- “Segera hentikan acara ini!” Demikian teriak seorang cendekiawan tua bernamaZahter sembari memukul-mukulkan tongkatnya, meneroboskerumunan warga. Kedatangannya langsung mendapatperhatian karena penampilannya sangat berbeda. Janggutpanjangnya hampir sampai ke perut. Warnanya putih. Dikepalanya terlilit serban putih yang sudah lusuh dan juga putih dan lusuh memanjang hingga ke orang yang melihatnya heran seraya memberi jalandengan perasaan takut. Rupanya, begitu memasuki Gendora dari pintuBesagaclar, cendekiawan yang sudah tua ini telah mendengarberita buruk. Untuk itulah ia bergegas menuju alun-aluntempat diselenggarakannya pesta rakyat. Setelah menempuhperjalanan panjang selama tiga bulan melewati padang sahara,ia akhirnya sampai, meski di penghujung acara. Begitu mendengar berita dari penjaga pintu gerbangbahwa warga telah berduyun-duyun memadati alun-alunkota untuk menyaksikan “lelang anak-anak yatim”, pedihsekali terasa hatinya. “Jangan sampai inilah yang membuatkumeninggalkan kampung nenek moyangku untuk pergi keGendora,” katanya dengan penuh amarah. Sejak enam bulan terjadi perubahan yang tidak sewajarnyadi langit. Sebuah rasi bintang bergerak tidak pada jalursemestinya. Padahal, di usianya yang hampir seratus tahun,ia belum pernah mendapati kejadian seperti itu. Sepanjangmendalami dan mengajarkan ilmu astronomi kepada parasiswanya, tak pernah ada teori yang menunjukkan perubahanarah bintang yang sedemikian tak beraturan. setiap tempat yang dikunjunginya, selalu terdengar keras pembicaraan-pembicaraan tentang berita kelahiran seorang yatim yang akan menjadi raja mereka. Setiap orang saling bertanya kepadanya apakah “Sudahtiba waktu kedatangan seorang yang akan menjadi raja bangsaYahudi yang baru?” Sepanjang sepuluh hari terakhir, Zahter mendapat mimpiyang hampir sama. Mimpi yang memaksanya menempuhperjalanan panjang melewati padang pasir yang sebenarnyabukan hal yang mungkin ia tahan di usianya yang telah hampirmencapai seratus tahun itu. Mimpi buruk yang sama selalumenjumpainya hampir setiap hari, yang selalu membawanyake negeri para leluhur, yaitu Gendora, yang telah dimakan kobaran api itulah terdengar suara seorang yang tidakjelas rupanya. Namun, jelas terdengar di telinga apa yangdiinginkanya. “Hentikan... Segera hentikan!” -o0o- Berarti, kejadian inilah yang dimaksud dalam mimpinya... Sembari memukul-mukulkan tongkatnya ke tanah, Zahterberteriak dengan sekeras-kerasnya. “Hentikan!” “Segera hentikan lelang anak yatim ini!” pedagang budak memberi salam dengan penuhrasa hormat kepada Zahter. Sebenarnya, menurut adat yangberlaku, “lelang anak yatim” adalah hal yang lumrah. Hanyaitulah cara yang mereka lakukan agar anak yatim mendapatkanpengasuh. Jadi, ia tidak mengerti mengapa Zahter tiba-tibamarah dan meminta agar acara lelang itu segera dihentikan. Zahter lalu memandangi satu per satu anak yatim yangsedang dipertontonkan. Setiap anak yatim yang ada telahmendapati kerabat dekat maupun jauh yang akan menjadipengasuhnya. Hanya tinggal satu anak yatim yang tidakmendapati kerabatnya. Tidak ada orang yang dekat dengan Merzangus. Sesuaidengan peraturan, siapa yang mampu membayar denganjumlah uang paling banyak, ia berhak Zahter datang tepat waktu. Dengan menggantisatu keping uang emas untuk setiap tahun usianya, Zahtermemberikan delapan keping emas kepada pengasuhMerzangus. Ternyata, untuk inilah Zahter harus datang ke hatinya sudah tenang. Ia dekap erat Merzangus yangmasih kecil dengan penuh kasih-sayang. “Setelah saat ini, engkau adalah siswaku yang paling kecil,”katanya. Tibalah saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Zahtermemberikan kotak berisi buku, pakaian, dan perbekalankepada Merzangus. Mereka berdua duduk bersama di ataspunggung unta dengan pelana yang di atasnya diberi perjalanan yang hendak mereka tempuh. Sesekali merekaberhenti untuk beristirahat dan mempersiapkan makanan. -o0o- akan pergi ke mana, Kakek?” Zahter tidak mau menjawab pertanyaan itu. Iamengalihkannya dengan bercerita hal lain. Berceritabagaimana caranya seseorang membuat rumah. Bahan apasaja yang dibutuhkan agar dinding rumahnya dapat kokoh. “Mengapa langit sedemikian luas, Kakek?” Zahter langsung mengambil tongkatnya untuk membuatgambar segitiga di atas pasir. “Coba perhatikan gambar ini. Namanya adalah bangunsegitiga. Jika dibuat garis lurus, segitiga ini akan terbagimenjadi dua bagian yang sama. Kemudian....” “Kakek, mengapa malam sedemikian lama?” Jawabannya? Lagi-lagi tidak ada... Semakin Merzangus melangkahkan kakinya, ia rasakanseolah-olah dunia ini semakin licin bergulir, semakinmengguncang jiwanya. Namun, setiap kali Merzangus merasa sedih, setiap kaliitu pula Zahter mencari cara untuk mengajarinya sesuatu. Iaajari bagaimana berhitung dan membaca. Kadang, ia berikanlembaran-lembaran suhuf Nabi Idris yang ia bawa dariHabasyah. Atau, ia ajarkan nama-nama tumbuh-tumbuhandan mengenali berbagai rasi bintang di angkasa. Kembali Merzangus menangis. Zahter pun mencari caralain untuk membuatnya melupakan masa lalunya denganmengajari matematika, kimia, astronomi, huruf, puisi, danmenghafal nama-nama tumbuhan obat. Keduanya mengertikalau semua ini adalah cara aneh yang mereka temukan untuktetap bahagia di belantara padang sahara. demikian, tetap saja jiwa Merzangus yang masihberusia delapan tahun begitu sedih ketika teringat kembalidengan keluarganya yang tewas akibat dibantai parapenyamun. Setiap kali Merzangus menangis, Zahter hanyadapat berusaha membuatnya bahagia dengan mengajaknyabelajar, mengambar bangun ruang di atas hamparan tanahberpasir. Demikianlah kehidupan mereka berlalu di sepanjangperjalanan padang pasir yang siangnya panas menyala danmalamnya dingin membeku. “Perjalanan kita masih sangat jauh!” kata Zahter Berjalan dan terus berjalan. Meninggalkan kenangan dankepedihan jauh di belakang. Sampai saat usianya mencapai sembilan tahun, jadilahMerzangus seorang bocah yang pandai membaca danmenuliskan suhuf-suhuf Nabi Idris , menghafal danmelantukan doa dan puji-pujian yang terdapat dalam Taurat,mampu menggambar dan menganalisis peta angkasa, dapatmemacu kuda dengan kencang, bahkan mahir menggunakanpedang. Setiap orang pun terheran-heran saat melihatnya.... -o0o- Pengembaran Merangs Merzangus dan Zahter telah melanjutkan perjalananmenuju ke kota al-Quds. Genap satu setengah tahun keduanyahidup dalam perjalanan. Mereka menyusuri hamparanpadang pasir, mendaki bukit berbatu, serta menerobos kotadan kampung yang amat jauh dari kampung halamannya. Dalam kurun waktu itu, Merzangus pun menjadi terbiasadengan padang sahara. Bahkan, ketika berjalan meninggalkansuatu kota atau perkampungan menuju padang pasir,Merzangus mengira perjalanan itu menuju ke rumahnya. Dan al-Quds. Kota seperti apakah dia? Begitu kuat kota ini menarik Merzangus dan kakeknyabagaikan kutub magnet. Kembali perjalanan mengantarkan mereka padakehidupan di tengah-tengah padang pasir. Siang udara panasmembakar, sedangkan malam cuaca begitu dingin. Meski ditengah-tengah lautan pasir yang tak berujung itu Merzangustidak tahu cara menemukan arah perjalanan, Zahter yakindapat mengenalinya dengan melihat bintang-bintang di langit memerhatikan deretan gunung yang sesekali menghilangdari kejauhan. Kini, Merzangus sudah terbiasa untuk pindah dari satutempat ke tempat lain. Melakukan perjalanan jauh denganmendadak sehingga harus mengemasi barang-barangnyayang hanya diperlukan saja dengan cepat sudah bukan halyang membuatnya takut seperti waktu dulu. Dalam waktu singkat, kehidupan Merzangus memangtelah terguncang tidak keruan. Ia mendapati dirinya saat masihberada di kampung halamannya dan di panti asuhan yangsebatang kara, seperti segenggam rumput yang terombang-ambing di tengah-tengah lautan. Namun, setelah saat ini,Merzangus sudah tidak begitu kaget lagi dengan kehidupanyang akan dialaminya. Bahkan, desir embusan angin menyapupermukaan padang pasir terasa begitu menenangkan hatinya,laksana suara seseorang yang sedang bercerita kisah-kisahpurba kepadanya. Waktu tampak diam di padang pasir. Kemarin dan esokseolah bertemu dalam saat yang sama. Semua orang akandipaksa terbiasa hanya memikirkan sesaat yang sedangdialaminya. Sementara itu, Zahter ibarat pantai berair yang sejukpenuh dengan perhatian serta kasih sayang yang akan menjaditempat berlabuh setiap waktu. -o0o- “Setelah dari Damaskus, masih ada tiga persinggahan lagiyang harus kita lalui untuk sampai ke al-Quds,” kata Zahter. beberapa jam tidur dalam keheningan malamyang dingin, Zahter mengaduk-aduk makanan yang tersisadalam kantong perbekalannya. Hanya ada sisa-sisa roti keringdan beberapa helai daun salam. Zahter menyalakan memasukkan roti kering dan daun salam itu ke sebuahpanci berisi air. Merzangus memerhatikannya dari kejauhansaat Zahter mengaduk-aduk dengan sebuah kayu kering. Dengan kecepatan berjalan kaki, mereka baru akansampai ke Kampung Baharat esok hari setelah siang. Karenawaktu sudah begitu larut dan juga kelelahan, Merzangussudah bersiap-siap tidur di samping unta sembari memainkantelingganya. Zahter yang masih terjaga memerhatikanwajahnya dengan saksama. “Sungguh, dia seorang yang penyabar dan kuat,” kataZahter dalam hati. Sejak pagi, keduanya belum makan apa-apa. “Wahai Zahter! Usiamu kini telah begitu tua. Mungkinsudah dekat waktumu meninggalkan dunia ini,” kembaliZahter berkata-kata dalam hati. “Jika aku mati, bagaimana nasib anak ini, duhai dia masih anak-anak dan sebatang kara. MohonEngkau berkenan jangan mencabut nyawaku sebelummenyerahkan anak ini ke orang yang bisa dipercaya, jikamungkin ini adalah perjalanan terakhir bagiku.” “Engkau bicara dengan siapa, Kakek?” “Dengan siapa lagi? Kakek sedang bicara dengan parawanita kecil di langit untuk meramal besok cuaca akan sepertiapa?” “Kakek bicara dengan wanita-wanita kecil yang tinggal diDubburu Akbar-kah?” bangun dengan wajah penuh senyum. Iamenunjukkan bintang kutub dan gugusan rasi bintang disekitarnya. Gugusan bintang-bintang itu tampak seperticangkir kopi di mata Merzangus. Ia kemudian menunjukDubburu Akbar yang ada di sebelah utara. “Bintang-bintang di langit, sungai, dan gunung-gunung dibumiadalahanugerahyangtelahdilimpahkanolehAllahkepadakita, Merzangus. Dengan memerhatikan keberadaannya, kitadapat menentukan arah jalan,” kata Zahter. “Tapi, Kakek. Engkaulah bintang, sungai, dan gunung-gunung itu bagiku. Jika engkau tidak ada, mungkin padangpasir yang luas ini sudah lama menelanku.” “Ah padang pasir...,” kata Zahter sembari menghela napas. “Padang pasir ternyata lebih baik daripada kebanyakanmanusia. Sungguh, telah Kakek dapati begitu banyak kota,perkampungan, dan masyarakat. Mereka jauh lebih keringdaripada padang pasir. Jauh lebih terik panasnya. Jauhlebih sepi dan kering daripada padang pasir. Waktu telahrusak, Merzangus. Umat manusia telah rusak. Ajaran telahdianggap usang oleh mereka. Perjanjian diinjak-injak dansumpah dilanggar. Berkhianat pada amanah telah menjadikebiasaan. Pandangan kedua mata mereka hanya tertuju padaketamakan, keserakahan. Harta benda dikumpul-kumpulkanhingga menggunung, namun rasa hormat mereka kikis tersisa lagi belas kasihan kepada anak-anak yatim,tetangga yang tidak mampu, atau para musair. Mungkinkarena semua inilah kita sekarang berada di tengah-tengahpadang pasir untuk menyusuri jejak berita gembira yangakan Allah turunkan sebagai penawar kehidupan yang sudahmenjadi padang pasir, mengering bagaikan sungai yang sudah ada lagi airnya. Apakah kamu paham dengan semua ini,Merzangus?” “Apa yang Kakek maksudkan dengan berita gembira?” “Usia Kakek sudah tidak akan panjang lagi di dunia ini. Namun, Kakek baru akan merasa tenang setelah menyerahkan dirimu kepada keluarga Imran di kota al-Quds. Setelah itu, engkau akan melanjutkan wasiatku untukmengadakan perjalanan jauh yang telah kakek tempuhsepanjang kehidupan ini.” “Namun, aku tidak mau berpisah denganmu, Kakek!” kataMerzangus sambil menangis sesenggukan. Merzangus lalu bangkit untuk memeluk kakeknya.... Zahter pun mengambil selimut untuk melindungibadannya yang masih kecil dari udara dingin. Ia membelaiwajahnya dan memberikan bubur roti yang masih panaskepadanya. “Minumlah ini agar badanmu hangat. Setelah itu, kamubisa tidur dengan lelap.” Keesokan hari, sebelum matahari terbit, mereka sudahmelanjutkan perjalanan. Seberapa pun jarak yang dapatmereka tempuh sebelum terik matahari mulai menyengatadalah suatu keuntungan. Inilah siasat perjalanan mereka ditengah-tengah padang pasir. Begitulah keadaan dua satu berlangkah kecil dan satu lagi sudah terlalu tuasehingga langkahnya pelan. Namun, perjalanan yang dimulai 41
Maryam juga seorang guru sebagaimana Fatimah. Para wanita dari al-Quds setiap hari mendatangi rumah Maryam pada waktu tertentu untuk mendapati nasihat dan pelajaran darinya. Maryam menjelaskan kepada mereka tentang isi Taurat, kisah hikmah para nabi, dan menyampaikan ceramah tentang ahlak yang mulia. Ketika sang putra mendapatkan wahyu berupa Injil, Maryam pun melanjutkan pengajarannya dengan bersandar pada kitab yang diturunkan kepada putranya. Begitu pula dengan Fatimah. Ia adalah santri dan pemberi nasihat Alquran yang sejati. Buku catatan yang Fatimah gunakan saat memberi pelajaran disebut dengan “Mushaf Fatimah”. Di luar perkataan yang baik seperti ini, Maryam maupun Fatimah bukan orang yang banyak bicara. Keduanya senantiasa lebih memilih berdiam diri dalam keadaan tafakur daripada ikut dalam keramaian. Apalagi, keramaian yang sarat dengan ghibah dan perkataan yang tidak berguna. Semoga Allah rida terhadap kedua ibunda ini dan para ibunda kita yang lainnya.... -o0o- 44252. Para Hawari dn Jmun al-Maidah Begitu cepat waktu berlalu. Masa tiga puluh tahun serasa tiga puluh bulan. Demikianlah waktu yang dialami sepanjang kehidupan Nabi Isa. Takdir telah membawanya terus berlari dan berlari cepat dalam masa yang singkat. Setiap hari, setiap waktu, dan setiap saat Isa berlari dari ujung ke ujung kota al- Quds demi berdakwah. Dalam perjalanan dakwah ini, para hawari ikut menyertai. Mereka, para pemuda yang di kemudian hari menyebut Rasul dengan sebutan “Mualim”, suatu hari telah berkata demikian, “Seandainya Tuhanmu menurunkan makanan bagi kami dari langit sehingga hati kami pun menjadi tenang...!” Nabi Isa tersentak kaget dengan permintaan seperti itu. Apalagi, para hawari ini telah menyaksikan begitu banyak mukjizat yang jauh lebih besar daripada makanan dari langit. Lebih dari itu, mereka adalah para santri yang telah mendengarkan langsung dari utusan Allah. Bukankah seharusnya hati mereka jauh lebih tenang? Karena hal inilah Isa sedikit gemetar saat memandangi mereka. 443“Jika ada sedikit iman pada diri kalian, takutlah kepada Allah.” -o0o- “Hati seorang ibu tidak pernah tertidur,” demikian dikatakan sebagian orang. Semakin banyak mukjizat besar dan semakin tegas ajaran nabawi, Maryam kian mengkhawatirkan putranya. Meski Maryam yakin bahwa tugas kenabian yang telah dititahkan kepada putranya datang dari Allah, kini semua pandangan telah tertuju kepada Isa . Isa juga menyadari keadaan ini. Bahkan, ia meminta para hawari saling berikrar mendukungnya. Mereka pun selalu menyatakan dukungannya demi rida Allah. Mereka telah saling mengikat janji. Dalam keadaan seperti inilah keinginan mereka untuk meminta makanan dari langit terasa sangat berat bagi Isa . Namun, titah takdir telah memiliki banyak arti dan fungsi. Jamuan makanan yang akan diturunkan dari langit memang akan menambah keimanan orang-orang Mukmin. Namun, di sisi lain, hal itu juga akan membuat kekufuran orang-orang kair semakin menjadi-jadi. Dan memang, bersamaan dengan kedatangan mukjizat, diturunkan pula ujian yang sangat besar kepada kaumnya. “Al-Maidah” bisa berarti hidangan makanan, bisa pula berarti “ilmu” sebagai hidangan bagi ruh. Sebenarnya, permintaan para hawari agar hati mereka dapat menjadi tenang sangat memungkinkan jika ilmu yang diinginkan. 444Nabi Isa pun segera mengambil wudu, mendirikan salat, dan mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Allah pun mengabulkan doanya dan menyampaikan peringatan mengenai ujian yang mengikutinya. Setelah Nabi Isa berdoa, turunlah dua makanan dalam warna semerah api di antara dua awan di langit. Makanan berupa ikan tanpa sisik dan duri yang masih hangat terhidang. Di dekat kepala ikan terdapat garam, di sebelah ekornya tampak air lemon, dan di sekelilingnya ada sayuran segar serta lima macam roti. Semua roti itu juga dilengkapi bumbu zaitun, madu, mentega, keju, dan daging. Petrus segera bertanya, “Wahai al-Masih! Apakah ini hidangan surga atau dunia?” “Bukan keduanya. Ini adalah makanan yang telah diciptakan dengan kebesaran Allah dan tidak ada yang menyamainya. Sekarang, silakan makan dan bersyukurlah kepada Allah.” Hari makanan turun dari langit ditetapkan sebagai hari raya bagi umat Nasrani. Limpahan nikmat ini genap empat puluh hari. Setelah hari keempat puluh, meski telah diperingatkan agar orang-orang kaya dan yang tidak sakit dilarang mengambil darinya, mereka tetap melanggarnya. Allah pun mengangkat nikmat itu dan menghukum mereka. Mukjizat yang semakin banyak itu justru diingkari, meskipun pada awalnya percaya. Seolah-olah masyarakat al- Quds telah diuji dengan telah meminta mukjizat. Atas permintaan Maryam mengenai upaya pengamanan putranya, berkumpullah para sahabat terdahulu. Mereka adalah Ham, Sam, Yaves, Yusuf tukang kayu, Merzangus, dan Ibni Siraj yang baru saja kembali dari Gazza. Meski demikian, Nabi Isa tetap tidak menginginkan tugas dakwahnya menjadi 445terhalang. Ketika mereka memikirkan kemungkinan untuk berhijrah kembali ke Mesir dan atau tempat lain, Maryam yang telah mengundang mereka untuk berkumpul pun berkata, “Wahai para sahabat Allah! Kini, Isa adalah seorang rasul yang mengemban risalah-Nya. Tidak mungkin dirinya mengikuti apa yang telah kita pikirkan. Ia hanya akan mengikuti perintah Allah. Dan sebagaimana semua orang, ia juga akan mengikuti kehendak takdir yang telah ditetapkan untuknya. Untuk sekarang ini, apa yang bisa kita lakukan hanya sebatas berdoa.“ Mendengar ucapan ini, luluh sudah hati setiap orang. Mereka terhening dalam kepedihan atas ketidakberdayaan. Mereka semua kini telah menginjak usia lanjut. Ham, Sam, dan Yaves telah hampir berusia delapan puluh. Rambut mereka telah memutih dan hanya dapat berjalan dengan bersandar tongkat. Meski Ibni Siraj telah memasuki usia enam puluh lima, kesehariannya yang gesit telah membuatnya menjadi yang paling muda di antara para sahabatnya. Yusuf tukang kayu dan Merzangus sudah berusia enam puluhan. Bahkan, pedang Ridwan yang selalu Merzangus sandang kini sesekali menggores tanah. Merzangus sendiri kerap mengira ada orang yang datang dari belakang saat suara goresan ujung pedang dengan bebatuan di jalan terdengar. Yusuf sendiri selalu seperti sediakala, tetap setia dan penuh penderitaan hidupnya. Ia menempatkan diri laksana seorang ayah yang 446selalu menanggung kepedihan namun setia. Ia akan selalu mengulurkan tangannya. Namun, ia pun kini telah lelah karena faktor usia. Dan Maryam adalah ibu dari semua umat yang telah mulai memanggilnya, bahkan sejak ia berusia belasan tahun. Ibu yang senantiasa menjaga kehormatan dan keteguhan, sama seperti saat masih kecil dan muda dulu. Malam hari itu semua terlihat menatap dengan pandangan aneh. Tiba sudah waktu bagi para sahabat yang saling mencintai satu sama lain demi Allah itu saling berpisah... Bangkitlah mereka. Berucap doa.... Para sahabat laki-laki berpisah pergi ke gunung tempat untuk mendengarkan pengajian dari Isa al-Masih. Sementara itu, Merzangus bersiap-siap untuk bertakziah ke Wali Pontius Pilatus atas kematian putrinya yang jatuh dari kuda beberapa hari lalu. Saat mengenakan jubah hangat, ia bertanya kepada Maryam, “Apakah Anda tidak ikut bertakziah, Tuan?” Maryam tampak sangat pucat dan sedang berpikir keras. Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak lagi kuat untuk mengadakan perjalanan ke istana. Ia hanya menyampaikan salam untuk Prokula, istri sang wali yang secara diam-diam telah beriman kepada Isa. “Sungguh, hatinya sedang begitu bersedih. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. Semoga Allah melindungi kita semua dari kejahatan suaminya yang telah menyelimuti seluruh al-Quds.” Sebenarnya, tidak mungkin Pilatus mengizinkan Merzangus memasuki istana. Namun, karena takut kehilangan istrinya yang sangat berduka setelah kematian putrinya, ia 447pun memutuskan memanggil Merzangus ke istana. Hanya dengan kedatangannyalah Prokula dapat kembali merasa lebih nyaman. “Tidak tega saya meninggalkan Anda malam ini. Namun, Prokula telah begitu lemah sehingga ia hanya menerima diriku ke dalam ruangannya. Berkali-kali dirinya jatuh pingsan karena menahan kepedihan. Mohon izinkan saya menemaninya untuk beberapa saat,” kata Merzangus sambil memandangi wajah Maryam. “Dengan senang hati, pergi dan sampaikan salamku kepada Prokula. Dia saudara seagama dengan kita. Jangan kita meninggalkan dirinya dalam hari yang pedih ini. Kebetulan, malam ini Miryam dari Mecdiye juga akan bertamu. Dia bisa membantuku. Engkau jangan terlalu merasa khawatir, Merzangus.” “Oh ya... masakan untuk makan malam juga sudah saya siapkan. Masih berada di atas tungku. Jika Rasul kita datang bersama dengan para hawari, semoga Miryam dapat membantu menyajikannya. Mohon perkenankan saya pamit! Keduanya pun berpisah... Berpisah dan berpisah... Berpisah untuk tidak pernah bertemu lagi.... -o0o- 44853. Berpsah Slmnya Merzangus telah menceritakan kisah ini kepada Prokula, istri wali Pilatus, ketika mengantarnya ke tempat Maryam menghabiskan waktu untuk beribadah dan mengasingkan diri. “Aku sendiri telah menyaksikan semua mukjizat luar biasa mulai dari sejak lahir! Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Ibunda Maryam. Engkau dapat mengetahui secara lebih dekat bagaimana putranya dilahirkan dengan penuh kesulitan. Namun, sejak saat itu pula Maryam telah membekali diri untuk membentengi putranya yang kelak akan membawa mukjizat luar biasa.” Saat bicara seperti ini, Merzangus hanya bisa tersenyum menahan pedih di dalam hatinya mengingat semua peristiwa yang telah terjadi di masa lalu. Merzangus terbatuk-batuk. “Pada masa-masa itu, orang-orang Yahudi telah menganggap bahwa perempuan adalah lebih lemah dari pada anak laki-laki. Inilah adat kehidupan dunia pada masa itu. Kaum wanita sama sekali tidak pernah dianggap sebagai bagian dalam kehidupan oleh para ahli politik, pembesar 449kerajaan, bangsawan, dan bahkan oleh pemuka agama. Maryamlah yang mengguncang kesombongan dan pangkat dunia yang selalu mereka agung-agungkan. Perempuan yang saat diasingkan dari tanah kelahirannya hanya berbekal sehelai pakaian yang melekat di badan. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa perjalanan itulah yang akan membawanya pada pertolongan Ilahi. Sebuah perjalanan yang membawanya menyaksikan Isa al-Masih yang dengan seizin Allah mampu menghidupkan orang yang sudah mati atau menyembuhkan yang sedang sakit keras. Maryam mungkin tidak bisa menunjukkan semua mukjizat agung itu. Namun, Allah telah membuatnya mampu melakukan sesuatu yang juga sangat luar biasa. Allah telah menjadikan Maryam sebagai seorang ibu yang melindungi sang Kalamullah saat semua orang menghardiknya, menghinanya. Dengan kehangatan seorang ibu, pada masa-masa sulit itu Maryam mendekap erat sang putra. Mukjizat kesabaran dan kasih sayang yang begitu luar biasa itu akan menjadi contoh dan panduan bagi seluruh umat manusia di sepanjang masa... Seharusnya engkau menyaksikan masa-masa itu, wahai putriku, Prokula. Saat semua orang melemparinya dengan batu, menghalang-halangi jalannya dengan menebar duri, meneriakinya dengan penghinaan yang tiada tara, memukulinya tanpa kenal kasihan. Namun, dalam semua kesulitan itu, Ibunda kita, Maryam, tetap tegar dalam kecerahan wajah penuh pancaran nur, dengan hati yang teguh penuh dengan kekuatan iman. Ia berjalan dan terus berjalan tanpa sedikit pun bicara. Seolah-olah semua kejadian itu baru saja terjadi pada hari ini. Waktu itu, di tengah-tengah keramaian, aku merasakan 450diriku begitu lemah tak berdaya. Terdetak dalam hatiku untuk mendapatkan jalan keselamatan darinya saat pandanganku bertemu dengan pandangannya. Saat semua warga al-Quds yang telah terbakar hatinya dengan amarah berteriak sekeras- kerasnya, Engkau adalah saudara perempuan Harun, wahai Maryam! Lalu bagaimana engkau begitu terlaknat untuk melakukan perbuatan dosa besar itu! Dengan siapa engkau telah melahirkan anak itu!?’ Sungguh, pedih sekali hati ini aku rasakan saat itu. Aku pun tersungkur seolah-olah ribuan belati yang tajam datang menghunjam. Namun, beribu syukur semoga tercurah ke hadirat Allah. Terjadilah apa yang telah Allah titahkan untuk terjadi. Saat Maryam mengulurkan sang bayi ke hadapan para rahib Baitul Maqdis semua orang yang menentangnya atau berhati sekeras batu pun terdiam seribu bahasa dengan lidah terkunci saat dengan seizin Allah bayi yang baru saja dilahirkan itu dapat berbicara. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Maryam sehingga engkau akan memahami semuanya dengan lebih terperinci...” Perjalanan malam hari itu menyusuri jalan setapak nan terjal, berlika-liku, licin, menyusuri semak-semak belukar pepohonan hena. Akhirnya, Merzangus dan Prokula tiba di sebuah surau kecil di selatan al-Quds. Sepanjang jalan, Merzangus juga bercerita panjang lebar tentang tanaman hena. Ia juga menceritakan petualangannya menyusuri padang sahara yang ia alami di masa kecil bersama Zahter. Entah sudah berapa kali Merzangus menceritakan kisah ini? Seolah-olah semua kejadian yang mengisi waktu kehidupannya sampai saat ini telah begitu padat memenuhi angannya dalam bayangan seperti embusan kabut yang terbang dengan begitu lembut. 451Sungguh, semua kejadian sepanjang kehidupannya itu telah berlalu penuh kepedihan. Meski demikian, ia tetap bersabar dan berusaha tegar seraya menghunus pedang. Ia akan terus berjuang. Meradang dan menerjang menjadi sikap seorang Merzangus. “Pohon perdu ini jenis yang tidak sabar. Ia tidak ingin seorang pun mendekat, menyentuhnya. Persis sekali keadaannya dengan para pengembara yang tak sabar. Hatinya selalu dipenuhi dengan keinginan untuk dapat segera menempuh perjalanan secepat-cepatnya. Itulah kalian, wahai pepohonan hena!” kata Merzangus. Jika disentuh bunganya, bagian itu langsung pecah. Benih dari dalam kelopaknya mencuat dalam waktu dan kecepatan yang membuat semua orang kaget dengannya. Seolah-olah ada sebuah surau tempat dia menimba ilmu dan beribadah yang ingin segera dikunjungi. Seakan-akan ingin sesegera mungkin berlari, menghindarkan diri dari pesona dunia. Berlari dan terus berlari untuk meninggalkan dunia sejauh- jauhnya di belakang... “Berlari menuju ke haribaan Allah,” tambah Merzangus. “Tahukah engkau mengapa bunga hena ini berteriak pedih? Dia katakan lepaskan, biarkan aku! Jangan sentuh aku, jangan halang-halangiku karena aku harus segera pergi! Seolah-olah mereka berteriak, Noli Me Tengere’.... berlari menuju Allah.” -o0o- 452Saat sampai di surau, mereka menyaksikan Miryam sedang bersimpuh di pangkuan Maryam, menangis sejadi-jadinya. “Linangan air mata hamba yang bartobat tidak lebih rendah daripada linangan air mata para hamba zuhud yang meninggalkan keduniaan dan penyabar,” demikian kata Maryam. “Sampai saat ini belum ada seorang wanita ahli tobat yang sedemikian banyak menangis kepada nabi kita, Isa ,” kata Maryam lagi sehingga Miryam pun semakin menjadi-jadi tangisnya. Ia terus bersimpuh di atas pangkuan dalam belaian lembut tangan Maryam. Setelah beberapa saat, keempat wanita itu bersama-sama beranjak pergi ke pemakaman... Ini sungguh perjalanan yang dipenuhi kesedihan. Mereka ditemani lentera yang ikut menahan kepedihan dalam keremangan cahayanya. Semua orang saat itu masih mengkhayalkan nabi mereka yang sedang menikmati makan malam sehari sebelum sang pengkhianat memberitahu kepada wali Roma mengenai keberadaannya. Sampai saat itu pula semua orang masih belum memahami hikmah di balik contoh yang diberikan Nabi Isa untuk selalu bersedekah, baik saat makan maupun setelahnya. Bahkan, Miryam begitu senang mempersiapkan hidangan makan yang penuh dengan pengabdian dan ketulusan. Saat itu, Miryam selalu membersihkan nampan tempat makan dengan mengusapkan minyak yang menjadi kesukaan Nabi Isa. Suatu ketika, Miryam tidak kuasa menahan kepedihan hati sehingga terlintas keinginan untuk membersihkan sisa- sisa makan Nabi Isa dengan harapan agar Allah mengampuni 453dosa-dosanya. Tanpa mengganggu siapa pun, ia membersihkan nampan dan tikar yang digelar untuk acara makan. Miryam begitu malu dengan perbuatan dosa di masa lalu. Setelah bertobat ia tidak pernah melepaskan diri dari pakaian bercadar. Ia selalu merasa malu dengan sesama. Malu dan merasa tersiksa dengan kehidupan masa lalunya. Begitulah seorang Miryam setelah bertobat.... Pada suatu malam, Miryam juga melakukan hal yang sama. Ia merangkak memasuki ruangan untuk membersikan nampan dan semua perkakas tempat makan malam. Saat itu dirinya tidak tega melihat Nabi Isa yang begitu lelah dan merasakan kepedihan dari kedua kakinya yang penuh dengan tusukan duri hingga darah keluar sana. Miryam tidak kuat membayangkan perjuangan Nabi Isa. Ia tak kuasa menahan tangis seraya membersihkan tempat makan. Di tempat duduk Nabi Isa tampak noda darah. Dengan air mata bercucuran, Miryam terus membersihkan bercak-bercak darah itu dengan minyak. Sesampai di pemakaman, mereka mulai mencari-cari berharap ada tanda dari kejadian hukuman mati dilaksanakan siang hari. Meski Merzangus dan Maryam yakin bahwa yang dijatuhi hukuman mati itu bukan Nabi Isa, mereka masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Benarkah al-Masih masih hidup ataukah sudah meninggal? Lalu, di mana keberadaan Nabi Isa sekarang? Karena tiga hari ini tidak ada tanda dan kabar dari Isa , keempat wanita itu datang ke pemakaman untuk mendapatkan tanda keberadaanya. Selama tiga hari Maryam dengan tegar menghadapi seluruh kepedihan yang menghunjamnya. Namun, dalam tiga 454hari terakhir ini kepedihan itu menikam hatinya begitu dalam. Ia pun luluh bagaikan lilin yang terbakar. Malam itu, Maryam seakan-akan menjadi seorang ibu yang terhimpit di antara langit dan bumi. Garis takdir sepanjang masa telah mendapati diri Maryam sebagai hamba yang selalu teguh, taat, dan rajin bagaikan seorang santri. Namun, seperti apa pun itu, ia adalah seorang ibu, yang hatinya juga begitu terluka. Remuk jiwanya merasakan kepedihan perasaan yang tidak juga kunjung mengetahui keberadaan putranya. Maryam diam terpaku, seakan-akan seisi jiwanya telah membeku.. Mungkinkah jiwanya membeku? Bagaimana rasa jiwa yang membeku? Kadang air begitu keras membeku, kemudian retak dan patah hingga berkeping-keping. Begitu juga jiwa saat disentuh dingin kepedihan merindukan anak. Jika itu adalah jiwa seorang ibu, saat itulah seisi jiwanya akan membeku kemudian hancur berkeping-keping. Malam itu seakan-akan menjadi masa-masa kelahiran putranya di Betlehem. “Sungguh, kehilangan dirinya sepedih melahirkannya, duhai Tuhanku!” rintih Maryam. Terhimpit hati Maryam. Ingin sekali ruhnya terbang dari jeratan jasadnya. Bukan dengan kedua matanya, melainkan dengan dua ribu mata untuk mencari keberadaan putranya. Ingin sekali kedua tanganya segera mendekap erat-erat putra yang juga nabinya. Remuk hati Maryam.... terbakar kepedihan merindukan putranya... 455Apa yang sebernarnya telah terjadi pada putranya? Padahal, sepanjang hidup, Maryam memang telah mendekap erat-erat sang putra yang lahir tanpa ayah. Maryam ingin sekali meringankan kepedihan putranya dengan mencurahkan seluruh cintannya kepadanya. Namun, begitulah yang terjadi setiap kali menyisir rambutnya, setiap mencium keningnya, setiap mengangkatnya saat terjatuh, setiap memerhatikannya dari kejauhan saat bermain dengan teman-teman sebayanya. Hati Maryam selalu gemetar. Adakah seorang ibu yang bosan memerhatikan anaknya tumbuh? “Ah... kedua tangannya begitu lembut...” pikir Maryam dalam perasaan begitu pedih. “Sungguh, kedua tangannya selembut sutra.” Isa seakan-akan tidak tumbuh dewasa untuk ibunya. Kedua tangannya maksum dan lembut sehingga tak jemu- jemu Maryam membelai dan menciumnya Ia laksana hujan yang mengguyur pada musim semi. Ah, betapa wangi aroma putranya, laksana delima yang diturunkan dari surga, minuman segar yang diambil dari saripati telaga Salsabil di surga. Mutiara. Zamrud. Dialah Isa bagi Maryam. “Rambutnya yang terurai sampai ke keningnya...” pikir Maryam kemudian. “Ah rambut putraku.... sungguh rambutnya...” kata Maryam kemudian seraya hanyut dalam tangis. Pikiran, khayalan, dan perasaannya tumpah merindukan putranya. Baru sekali ini Maryam menyebut Isa al-Masih dengan kata “anakku” dengan suara lantang. Padahal, selama ini tidak pernah Maryam mengatakan “milikku” pada apa pun. Sungguh, ia tidak pernah 456mengatakannya. Ia merasa malu kepada Tuhannya. Baru sekali ini Maryam mengatakan kepada para sahabatnya. “Sungguh, putraku begitu indah bagiku. Tahukah engkau?” tanya Maryam sehingga semua orang pun menangis saat mendengarnya. Maryam saat itu seakan-akan telah berbuka dari puasa bicara. Berbuka dengan jerit kepedihan hati seorang ibu. “Sering aku memerhatikan wajahnya saat tidur. Pada keningnya terurai seikat rambut. Tepat di sini....” “Tepat di sini...,” kata Maryam sambil menunjukkan keningnya sendiri. “Namun, apa yang telah terjadi dengan rambutnya, Merzangus? Di manakah sekarang keindahan wajahnya? Di manakah ia tertidur sekarang? Dengan bantal batukah ia kini tidur? Aku tidak pernah tega dengannya! Tidak tega untuk melihatnya, untuk membelainya, untuk menyentuhnya.” Di pinggir pemakaman, Maryam menggenggam sambil menciumi ranting-ranting pohon cemara yang begemerisik tertiup angin. “Dedaunan ini seharum wangi rambutnya. Wahai sahabatku, pohon Palestina, mengapa selama ini engkau diam saja tanpa memberiku berita akan keberadaan putraku? Mengapa bebatuan dan angin yang bertiup juga terdiam seribu kata?” Sahabat-shabat Maryam belum pernah melihatnya seperti itu. Sungguh, jika seorang anak meninggal sekali, seorang ibu akan meninggal seribu kali. Jika seorang anak hilang sekali, bagi ibu ia berlipat menjadi seribu kali. Seribu kali mati dan menghilang. Dan Maryam telah merasakan ketidaannya. Jika 457Tuhan tidak menuntunnya, jika Ia tidak membentenginya dengan kesabaran yang luar biasa, mungkin saja di malam itu Maryam juga ikut luluh. Merzangus hanya mampu berkata, “Isa al-Masih adalah hamba dan utusan Allah.” “Namun dia juga anakku. Sungguh, dia anakku yang sangat tampan,” kata Maryam memotong kata-kata Merzangus. Jika keduanya mendapati kejadian ini saat masih berusia muda, mungkin hancur dan guncang sudah seisi jiwa. Saat itulah, dalam kondisi yang sudah mulai ringkih karena tua, Merzangus tiba-tiba mengarahkan pedangnya yang terhunus ke arah bayangan seorang musuh dalam kegelapan. Dirinya seakan-akan telah menjadi gila. “Apa yang telah Anda katakan, wahai wanita mulia? Mungkinkah Allah akan meninggalkan Kalamullah-Nya? Pasti Allah akan memberi kabar akan keberadaannya ke dalam hati Anda, ke dalam jiwa hamba yang kembali kepadanya...” Inilah kata-kata Merzangus. Namun, dalam hati, ia juga berkata, “Jika saja angin yang berembus itu adalah seekor kuda tunggangan sehingga aku akan melompat ke atas punggungnya seraya memacunya dengan sangat kencang untuk segera menemukan keberadaan al-Masih. Mereka mencari tanda keberadaan Isa di seluruh pemakaman. Merzangus sesekali menghunus pedangnya seraya menebaskan ke arah kegelapan, menyangka ada suara gemeresik kedatangan musuh yang akan menyerang Maryam. Yang lain berjalan dalam tangisan pilu mencari tanda keberadaan maupun kematian Nabi Isa. Jika Allah tidak menggenggam alam dengan menurunkan kesabaran, niscaya langit akan pecah berkeping-keping karena 458kemarahan-Nya di malam itu. Alam dan isinya tentu tidak akan tinggal diam saat menyaksikan seorang yang maksum dibunuh, bukan? Pernahkah langit terpaku dan membisu saat melihat seorang maksum dihardik tanpa kenal belas kasihan? Pernahkah bumi diam tanpa mengguncangkan dirinya saat Kekasih Allah disiksa? Jika sampai saat ini alam dan isinya masih diam, pasti itu karena kesabaran-Nya. Pada malam itu, langit dan bumi telah menghamparkan kesabarannya seluas- luasnya... Sepanjang malam Maryam membelai setiap nisan. Merebahkan rerumputan yang ada di atasnya dengan air mata kasih sayang. Tanah kuburan pun ikut merintih pedih bersama tangisan Maryam. Jika Allah tidak menurunkan kesabaran kepadanya, niscaya tanah akan terbelah, meneriakkan kemarahan dengan teriakan sejadi-jadinya. Namun, langit dan bumi telah berada dalam kesabaran seorang ibu. Sementara itu, malam masih menyelimuti wajah dalam tangisan kepedihan sehingga malam yang gelap gulita pun menjadi terang di samping Maryam yang begitu menanggung kepedihan perpisahan dengan putranya. Jika seisi alam sedemikian pedih, menjerit, meratapi kepergian Isa, lalu bagaimana dengan Maryam? Apa yang mesti dikatakan kepada seorang ibu yang jiwanya terbelah meratap pedih karena kepergian putranya? Ia mencari dan terus mencari, bertanya kepada setiap makhluk, tanah, embusan udara, runcing duri yang menghalanginya di jalanan, kalajengking yang gemetar lemah dalam sengatan kepedihan, ular yang berlidah setajam pisau, bahkan kepada bulu-bulu burung hantu yang terbang dengan malu. 459Saat dalam keadaan seperti inilah, saat Maryam tak lagi sadarkan diri, mencari dan terus mencari jejak putranya ke segala penjuru, tiba-tiba tercium wangi bunga melati... Bau ini...! Ya, bau ini adalah....! Sampai saat itu pula Miryam tiba-tiba melompat mengejar bayangan kedatangan seseorang dari kegelapan yang dia sangka seorang juru kunci. “Wahai penjaga kuburan! Wahai seorang yang bertugas menggenggam kunci-kunci kepedihan di pemakaman ini! Apakah engkau membawa berita tentang keberadaan tuanku, Isa al-Masih? Tunjukkan kepada kami tempat ia dimakamkan? Atau tunjukkan kepada kami di mana keberadaannya saat ini? Wahai seorang yang menjaga pintu perantara di antara kehidupan dunia dengan alam akhirat, berkenankah membantu kami?” Demikian tanya Miryam. Padahal, bayangan nurani itu tidak lain adalah nur Isa al- Masih yang diutus untuk menemui ibundanya sesaat sebelum kepergiannya. Ia pun mulai menuturkan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada mereka, terlebih kepada ibunya agar tidak larut dalam kesedihan. Dirinya telah diangkat ke langit atas izin Allah. Selain itu, sosok yang telah dijatuhi hukuman mati adalah Yahuda yang telah berkhianat karena menjual berita. Itu semua bisa terjadi juga atas kehendak Allah agar orang- orang zalim tertipu dan menangkapnya. Hanya beberapa saat penuturannya... Kemudian, bayangan nur itu tersenyum seraya berbalik sebelum pergi. Terang senyuman pada wajahnya. Tampak jelas hiasan di balik jubahnya yang tak lain adalah hasil 460pintalan Maryam. Kemudian, ia mengangkat jari telunjuknya, mengucap salam dengan menganggukkan kepala, lalu menghilang ke angkasa. Dan lagi, tepat sebelum kepergiannya, ia berpesan kepada ibundanya. “Wahai Ibu, janganlah menangis. Sungguh telah datang waktu yang ditentukan bagi Kalamullah,” katanya berpesan kepada ibundanya dalam tetesan air mata. Mereka pun berpisah... Seperti biasa, Miryam ingin mendekatinya. Berharap untuk sekali lagi dapat melihat wajahnya dari dekat. Namun, Sang Ruh telah berpesan kepadanya, “Mohon relakan diriku. Jangan engkau mencegahku,” katanya sebelum hilang dalam sekejap mata. Demikianlah, Sang Kalamullah yang turun dari langit telah kembali lagi ke langit. Sementara itu, Maryam mengumpulkan para sahabatnya seraya mendekap mereka dengan erat... -o0o- 461Peutup Kasih sayang adalah kedudukan yang jauh lebih tinggi dibanding cinta. Ia bahkan telah menjadi mahkota dan dipakaikan oleh malaikat kepada Maryam… Lalu, tertutuplah Maryam oleh tirai... Hingga tak seorang pun melihat wajahnya, tak seorang pula mendengar suaranya. Tak pernah ia bertutur kata… Selalu berdiam sebagai titahnya. Rahasia kasih yang hakiki adalah bersandar pada kemampuannya untuk diam. Jiwa seorang kesatria adalah menggenggam cinta untuk tidak melepaskannya. Namun, berlepas darinya tanpa pernah merasa memiliki hak atasnya adalah perbuatan yang membutuhkan jiwa kesatrianya kesatria… Dan Maryam, bahkan sebelum kelahirannya, telah dilepas, dikurbankan kepada Allah... Maryam semakin menutup diri, terlebih setelah kelahiran putranya... Demikianlah dunia baginya. Tak lebih dari setarik napas atau sehelai bulu yang terhempas... Segala yang ia cintai telah diberikan kembali kepada Allah. 462Telah ia berikan lagi “Kalamullah” miliknya ke langit. Dan setelah itu, semua kata tidaklah lebih dari sebatas kulit, selebar bayangan, dan gunjingan cinta. Karena itulah Maryam diam… Terdiam dalam keteguhan laksana gunung… Bagaikan mata air terjun dari ketinggian… Demikian ia telah meleburkan diri… Melebur ke dalam rahasia cinta dan kasih sayang… Melebur untuk menampik segalanya, mengasingkan diri menjadi hamba ahli tobat…. Semoga salam dan rahmat Allah terlimpah untuk para hamba saleh yang senantiasa menyeru kita untuk bertobat. Semoga salam dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Maryam, Asiyah, Khadijah, dan Fatimah… ratunya para wanita surga. Semoga salam dan rahmat Allah, berkah dan kemuliaan Zat yang tiada sesembahan selain Dia, untuk baginda dan rasul-Nya, panutan dan kekasih kita umat manusia, sultan para nabi, Muhammad al-Mustafa , beserta segenap sahabat dan ahli baitnya…. 2 Rajab-14 Syakban 1429 3 Juli – 16 Agustus 2008 -o0o- 463Serial 4 Wanita Penghuni Surga 464
Kini, Maryam seakan-akan lebur menjadi satu titik. Dan titik itu adalah titik kepedihan. Satu titik yang membuatnya semakin mengerut dalam kesakitan seakan-akan tulang-tulang di sekujur tubuhnya hendak dipisahkan. Pandangan kedua matanya menjadi gelap. Maryam pun roboh, terkulai di atas tanah. Ia mencoba bangkit dengan susah-payah, dengan tenaga yang sedikit tersisa... Rasa sakit yang diderita Maryam semakin terasa saat bayi yang berada di dalam kandungannya bergerak-gerak. Dalam rasa sakit yang tidak tertahan itu, Maryam membungkuk untuk mengusap tubuhnya yang basah oleh keringat. Ini adalah rasa sakit yang timbul pada saat akan melahirkan. Terlebih, dia hanya seorang diri. Malu Maryam kepada dirinya yang begitu papa. Ia pun bersimpuh di atas tanah. Apakah yang sebenarnya telah terjadi dalam kehidupannya? Seakan-akan air tak pernah berhenti mengalir dari dalam kandungannya seperti guyuran timba dari sebuah sumur yang dalam. Keadaan inilah yang membuat Maryam bertekuk lutut, bersimpuh lemas di atas tanah.... Namun, beberapa saat kemudian, Maryam berusaha menjejakkan kedua kakinya dengan rasa sakit yang begitu menusuk jantungnya. 242Dirinya tidak bisa tenang tanpa bergerak lantaran rasa sakit yang ditahannya. Kesakitan yang akhirnya membuat Maryam bersandar pada sebatang pohon kurma. Pohon yang telah mengering seluruh batang dan daunnya. Pohon yang berada di tanah kering dengan batu-batuan yang runcing. “Aduuuh!!!” rintih Maryam pedih. “Aduh kurma! Kurma kering, kurma yang sama menderita denganku. Sungguh, demi Tuhan yang telah menumbuhkan dirimu dalam tanah kering berbatu panas dan tajam! Apakah dirimu telah ditumbuhkan di sini demi dapat menjadi sandaran bagi seorang yatim?” -o0o- 24327. Caan Cta Sbang Pohon urma Sebatang pohon kurma telah menjadi saksi bagi Maryam. Ia ikut menangis tersedu-sedu dengan air mata yang terus berlinang. Entah apa saja yang akan dia katakan jika mampu berbicara dengan sahabatnya yang kini sedang dalam derita. “Ah ibunda Maryam. Maryam yang telah dipilih oleh Rabbi. Maryam yang telah dikurbankan. Maryam yang telah disucikan. Maryam yang tirainya tertutup rapat untuk dunia, tapi terbuka kepada Allah Maryam yang terang cahaya keningnya sebagai penanda seorang hamba yang terpilih. Mengering sudah sekujur dahan-dahan dan daunku ini saking lamanya menunggu dirimu. Tak tersisa sudah air di kandung badan. Jika saja sebelumnya tidak diberi berita gembira akan hari saat engkau bersandar di punggung batangku, niscaya telah 244lama sudah kesabaranku berakhir. Telah lama pula diriku membusuk bercampur tanah. Lenyap sudah diriku jika tidak tersisa harapan akan perjumpaan denganmu. Dan kini, sebagaimana yang engkau lihat, diriku adalah sebatang pohon kurma yang telah mengering, sebatang pohon yang setelah ini akan tercatat sebagai pohon yang pemalu namun cerah kehidupan masa depanku. Sungguh, segala puji dan syukur aku panjatkan ke hadirat Allah yang telah menitahkan diriku sebagai teman dan kekasih di dalam kegelapan malam. Ia telah memilih diriku di antara semua pohon untuk menjadi sandaran saat engkau begitu lemah. Janganlah engkau lihat diriku yang telah mengering daun dan dahan-dahannya. Banyak sekali darwis yang telah lama melebur dalam jalan perjuangannya di tengah-tengah padang pasir saat mereka mencari jejak sang kekasihnya. Sampai-sampai mereka sendiri telah melebur menjadi jalan. Seperti para darwis itulah diriku jika engkau tahu saat engkau belum datang dan menyandarkan tubuhmu. Saat-saat sebelum engkau datang, penantian merupakan kesendirian teramat pedih yang tiada berujung. Kini, pada malammu yang pedih ini, terimalah diriku yang sudah tua dan kering ini sebagai temanmu sebagaimana ibumu yang teramat engkau rindukan dan ayahmu yang tidak pernah engkau lihat wajahnya. Ah, Maryam! Saudaraku yang tinggal sebatang kara.... Saudaraku yang berwajah cantik, yang pada malam- malam hari seorang diri dalam derita. Engkaulah yang selama bertahun-tahun ini aku tunggu. Engkau datang seperti bintang, tepat pada saat harapanku hampir punah. 245Bagaikan sungai... Bagaikan dalil... Bagaikan ayat… Segala puji dan syukur aku panjatkan kepada Zat yang telah menjadikanku sebagai kekasihmu, yang telah membubuhkan namaku dalam buku-buku catatan bersanding dengan namamu... Selamat datang! Wahai saudaraku tercinta. Kini, engkau bisa bersandar dengan sepenuhnya pada batangku. Janganlah takut, pijakan akar-akarku tidak akan roboh. Akar-akarku telah terikat dengan takdir yang telah dititahkan kepadamu. Karena itulah tidak mungkin aku pergi, tidak mungkin aku akan lari. Wallahi. Billahi. Tallahi. Tidak mungkin aku berputus asa dari sumpahku. Selamat datang temanku yang telah bertahun-tahun aku tunggu, teman yang demi takdir yang telah digariskan kepadamu aku rela bersimpuh bertahun-tahun menunggu. Dan sekarang, saatnya Maryam bersandar dengan rasa aman. Entah berapa musim salju silih berganti, berapa musim semi, musim panas... entah berapa lama terik padang pasir membakar kepalaku. Namun, aku tetap bersabar, tetap teguh, tetap bertahan.... Dan hanya untuk beberapa saat engkau bersandar, semua kepedihan, kesakitan, dan perjuangan ini aku lakukan… 246Agar kekasihku merasa nyaman bersandar, aku relakan pelepah dan daun-daunku mengering. Hingga sekarang ibunda Maryam, Ibunda sang Marziyyah, Ibunda sang Saiyyah, Ibunda sang Azra, Ibunda sang Asra, Ibunda sang Bakirah, Ibunda sang Marbubah, Ibunda sang Zahra, Ibunda sang Mahjubah, Ibunda sang Masummah, Ibunda sang Zahidah, Nama terbaik dari nama-nama yang baik.. Sekaranglah saatnya engkau mengenakan mahkota kesabaran, keteguhan. Dan sejak saat ini, semua makhluk di sepanjang zaman akan mengenalmu sebagai seorang yang bersandar pada sebatang pohon kurma dengan mengenakan mahkota gelar kesabaran dalam setiap ujian kesabaran, keteguhan, dan ketegaran Rabbani. Sekarang, teguhkanlah, kuatkanlah dirimu sehingga setiap kaum hawa setelahmu juga akan melihatmu seraya bersandar sepertimu dalam setiap derita yang dipikulnya. Sungguh, engkaulah pengantin wanita sang kesabaran, Sungguh, engkaulah malaikat keteguhan, Penuntun setiap nama dalam ketabahan, Teladan terbaik dalam ketahanan... 247Dengan demikian, setiap hamba yang memikul kepedihan ini, demi rida Allah, juga akan mengenangku. Mengenang dan dengan seizin Allah, kemudian bersandar pada batang kurmaku ini yang sejatinya hina. Semoga salam terucap kepada siapa saja yang membubuhkan namaku sebagai sebatang pohon kurma kering’ dalam catatannya. Sebatang pohon kurma kering yang terbakar oleh terik matahari cinta, yang mengorbankan dirinya demi bunda Maryam sang kekasihnya.” -o0o- 24828. ithn Marym “Kepedihan yang dirasakan saat hendak melahirkan mendorongnya untuk bersandar pada sebatang pohon kurma kering. Seandainya saja,’ katanya. Seandainya saja diriku mati sebelumnya sehingga menjadi seorang yang hilang dilupakan.’” Saat-saat Maryam merasakan sakit karena hendak melahirkan, takdir telah menuntunnya untuk berjalan ke tempat yang sama sekali tidak ia ketahui. Ia telah mengandung seorang bayi tanpa suami. Dan ini adalah ujian terberat dari Allah bagi seorang wanita. Sebuah ujian yang paling berat sepanjang zaman. Sebuah cobaan paling berat bagi kehormatan dan kesucian seorang wanita. Namun, bukankah saat di awal kehidupannya pun Maryam telah diberi isyarat bahwa “wanita tidak seperti laki-laki?” Dan kini, ujian yang telah ditimpakan kepadanya 249sebagai seorang wanita akan dicatat sebagai pelajaran bagi kaum hawa dalam menghadapi ujian agar tabah dan teguh hati. “Diriku tidak jauh lebih kuat daripada sehelai kecambah dalam langkahku di dunia ini.” Diriku adalah Maryam Seorang yatim lagi sebatang kara.... Diriku seperti sungai yang mengering dalam dekapan gunung. Laksana sebatang cabang dari pohon Huda-yi Nabit yang tumbuh dalam pemeliharan Allah. “Akar-akarku telah terikat dalam tanah,” kata sebatang pohon kurma kering. Sementara itu, takdirlah yang telah mengikat diriku. Tidak mungkin bisa lari dari ketentuan takdir… demikian diriku menunduk seraya bersabar. Diriku selalu berada di dalam ruangan. Berada di dalam diriku sendiri. Namun, malam ini aku diperintahkan untuk keluar. Berpindah. Berada di luar. Tanpa rumah. Tanpa atap. Tanpa alamat tujuan. Tanpa ada rumah, tanpa ada pintu untuk diketuk. Tak pernah diriku berjalan. Tak pernah diriku pergi. Hingga tak pernah pula diriku beralas kaki. Dalam sunyi gelapnya malam ini, 250Di tengah-tengah gunung yang tidak aku kenal, tidak pula aku mengerti ini. Dalam kesendirian di luar untuk melangkah dan melangkah tanpa aku mengerti, tanpa aku kenali. Aku kedinginan, wahai sebatang pohon kurma kering! Aku menggigil, wahai sahabatku! Selimutilah diriku, sembunyikan diriku… jangan engkau perlihatkan diriku pada orang lain. Setelah saat ini, setiap buku catatan akan membubuhkan kisah tentang apa saja yang aku alami. Ah! Bukalah tanahmu biar aku membenamkan diri di sampingmu; di dalam tanahmu yang hangat. Biarlah manusia melupakan diriku, biarlah manusia tidak menuliskan cerita tentang diriku. Dalam udara sedingin es, Sepanas api, Sekeras besi, Namun, siapa yang mengangkat hijabku? Ah! Jika saja diriku mati, mati.... Hingga tak akan pernah dibubuhkan ke dalam buku catatan, Hingga pena pun tak akan menuliskan namaku, Dan diriku akan menjadi orang yang hilang dilupakan...” -o0o- 25129. Suara eiga Jiwa mana yang menitahkan takdir rela menyaksikan rintihan pedih bunda Maryam bersama sebatang pohon kurma kering yang menjadi sandarannya. Tentu saja titah takdir tidak memiliki jiwa. Namun, demikianlah gambarannya. Allah, Zat yang bertitah, sejatinya tidak rela. Saat menyusun serangkaian ujian, Ia juga telah menyusun pendukung untuk menguatkan hati hamba-Nya. Karena itu, tanpa disangka-sangka, saat pintu harapan seakan mulai meredup, Allah memberikan kekuatan kepada Maryam untuk bersandar pada sebatang pohon kurma kering serta mengutus malaikat dan Isa untuk menjadi pendukungnya. Begitu kepedihan semakin menjadi, Maryam semakin sadar adanya kehangatan dalam setiap tarikan napasnya. Seolah-olah Allah yang telah menjadikan kesunyian malam terasa semakin pekat dalam derita, semakin menyayat di lubuk hatinya, telah mengirimkan para malaikat untuk melegakan hati Maryam. Pada saat-saat itulah terdengar suara Jibril “Janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu. Niscaya pohon itu akan 252menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka, makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah, Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah sehingga aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.’” Lahirlah putra Maryam. Lepaslah kandungan Maryam. Seorang bayi yang Allah sendiri telah menyebutnya sebagai kalamullah telah lahir ke dunia sebagai mukjizat, sebagaimana Adam . Dan saat itu, Maryam hanyalah seorang diri. Kesendirian yang telah diatur Allah sehingga dunia dan isinya tidak lagi manis baginya. Bersama dengan keindahan dan kemegahannya, dunia telah meninggalkannya. Ia memang bukan seperti manusia pada umumnya yang membahagiakan diri dengan harapan duniawi, sehingga rintih dan kepedihannya bukan bersandar pada dunia dan nafsu manusia. Kepapaan dan kesendirian adalah medan yang telah disiapkan secara khusus oleh Allah untuk menempa jiwanya. Oleh karena itu, ketika manusia berteman dengan nafsu dan kebutuhan jasmani, Maryam berteman dengan para malaikat yang mengajari, menemaninya dalam penghambaan kepada Allah. 253Dan meski kenyataannya Maryam tercipta di dunia, Namun jiwa dan kehidupan bukanlah untuknya... Dialah seorang diri. Seorang yang tidak memiliki ibu, ayah, rumah, dan teman. Seolah kemapanan duniawi telah dicabut darinya demi suatu ujian Ilahi. Kehidupan yang umum dialami oleh layaknya manusia menjadi berlebih bagi seorang Maryam. Hanya dalam batas tertentu yang diperbolehkan baginya sehingga Maryam mampu tabah dalam keterbatasannya dan mampu mencapai tujuan mulianya tanpa terhalang segala hal duniawi. Ia bukan saja panutan bagi kaum hawa, melainkan juga bagi seluruh umat manusia yang dibimbing langsung “secara khusus” oleh Allah. Tidak ada hal yang dibutuhkan untuk menjadi pelipur lara, pendukung, penopang, maupun pemberi kesenangan bagi Maryam, Sejatinya ada beberapa orang yang selalu mendukungnya... Mereka tidak lain adalah Nabi Zakaria dan keluarganya, alam hewan dan tumbuhan, angin, siang, malam, dan juga para malaikat. Dan akhirnya Malaikat Jibril pun datang seraya berseru kepada Maryam. Berseru untuk mengempaskan kepedihan dan derita yang menghimpit jiwanya seperti barisan gunung menindih jantungnya. “Janganlah engkau bersedih hati!” seru Malaikat Jibril kepada Maryam laksana teman atau sahabat tempat berbagai perasaan. Dan dalam masa-masa sulit, Malaikat Jibril memang telah ditugasi untuk menjadi sahabat dekatnya. Setelah bayi Maryam lahir di alam yang paling aman dan paling rahasia, yaitu di perbukitan Betlehem, kuasa Ilahi telah 254menciptakan aliran sungai yang begitu jernih airnya sehingga dapat menghilangkan dahaga yang dirasakan Maryam dan juga bayinya. Dalam kelahiran yang umum, ibu dan ayahlah yang pertama-tama memberi ucapan selamat kepada sang bayi, bidan, dan dokter. Namun, bagi Maryam, sosok itu adalah Malaikat Jibril. “Makan dan minumlah. Selamat, bayimu telah lahir dengan selamat!” demikian seolah ucapan sang malaikat. Sang Ruhul Kuddus.... Sungguh, betapa ia adalah sahabat yang mulia. Utusan Allah yang sempurna, teman berbagi dan juga penopangnya. Semoga salam dari Allah tercurah bagi para kekasih dan kedua hamba-Nya! -o0o- 25530. Para Ali stronoi pn Dim Di atas Suwat, kuda tunggangannya, Merzangus memimpin ketiga pemuda ahli astronomi memacu kudanya sekencang tiupan topan. Tanpa henti, mereka terus memacu kudanya ke arah tenggara al-Quds. Tak ayal, dalam satu malam sampailah mereka ke Lembah Naml’. Nabi Sulaiman bersama pasukannya pernah menyeberangi lembah ini. Lembah berupa koridor sempit memanjang dan diapit pegunungan granit terjal yang seolah- olah tanpa ujung. Lorong curam yang sarat bahaya, ditambah jalan licin berliku-liku, menembus dengan singkat ke kota Askalan. Jalan ini sebenarnya hanya alternatif terakhir ketika perang terjadi atau wabah penyakit melanda. Itu pun harus dipandu seorang yang benar-benar memahami rutenya. Kalau tidak, Lembah Naml tidak lain adalah sebuah wahana kematian. Nama lembah ini diambil dari jenis semut yang begitu lincah merayap dari puncak-puncak bukit yang terjal seperti cerobong pembakaran alami. Inilah hewan paling pintar yang mampu bergerak gesit dalam lembah yang tidak mungkin dilalui manusia dengan berjalan kaki. Sebuah lembah yang 256sama sekali tidak mungkin dilalui seorang pun kecuali seorang pengelana besar dengan sebuah peta yang tidak mungkin pernah dilihat oleh seorang manusia. Merzangus tahu bagaimana menjinakkan Lembah Naml dari gurunya, Zahter. “Suatu hari, jika engkau harus melewati lembah ini, ketahuilah bahwa ia hanya mungkin dilewati dengan sabar dan puasa tanpa bicara,” kata Zahter menasihati murid dan juga anak angkatnya. Kini, Merzangus makin paham makna kata-kata Zahter saat itu. Merzangus juga masih berpikir, jika dirinya urung melintasi lembah itu, ketiga orang yang dipandunya pasti akan menyadari sandiwara yang sedang dimainkan. Mereka pun akan urung mengikuti Merzangus dan balik mengejar Maryam. Oleh karena itu, mau tidak mau dirinya harus menuruni lembah mematikan tersebut. Inilah jalur paling singkat yang dapat mengantarkan musair dari al-Quds ke kota Askalan meski mematikan. Inilah perjuangan seorang Merzangus, yang memilih jalan paling sulit untuk ditempuh dalam kehidupan. Ia tidak ingin rahasia Maryam dan bayi yang akan dilahirkannya terbongkar oleh ketiga ilmuwan itu, suatu hal yang akan membuat pihak penguasa membuntutinya. 257Dengan cambukan lembut pada perutnya, Suwat berlari semakin kencang. Di belakangnya mengejar Ismail Alawi dengan kuda putih bagai bintang menerobos kegelapan malam. Tidak lama kemudian, Ismail mampu mengejar kuda Merzangus. Saat itulah Ismail memberikan isyarat kepada Merzangus untuk memperlambat laju kudanya atau berhenti sejenak. Akhirnya, laju kuda melambat, namun Merzangus dan Suwat tidak menghentikan langkahnya. Suwat tampak marah karena lajunya diperlambat. Ia meringkik sambil melompat-lompat seolah-olah memberi isyarat untuk segera berlari dari ular dan setan yang mungkin keluar dari semak-semak belukar. Saat itu Merzangus membenahi cadarnya kemudian berseru dari atas kudanya. “Ada apa? Apa yang engkau inginkan?” “Temanku tertinggal jauh di belakang. Aku mengkhawatirkan keselamatan mereka. Kami sama sekali belum pernah melewati lembah yang gelap dan mengerikan ini. Namun, jika engkau memerhatikan posisi bintang di langit dan juga embusan udara yang semakin lembap dan asin, ini menunjukkan kita semakin mendekati arah laut. Benarkah engkau akan membawa kami ke tempat Sang Raja dilahirkan?” “Kalau tidak tahu, engkau harus mengikuti aku!” “Tapi, aku sangat mengkhawatirkan keselamatan temanku yang lain. Mereka tidak pandai menunggangi kuda seperti kita. Aku akan kembali mengejar mereka di belakang.” “Tidak bisa! Engkau tidak bisa tinggal diam atau kembali dari lembah ini. Ini adalah Lembah Naml. Lebih-lebih, di lembah ini dilarang keras banyak bicara seperti ini.” 258“Apa? Lembah Naml? Duhai Allah! Benarkah ini adalah lembah yang pernah dilewati Nabi Sulaiman bersama pasukannya? Kalau memang benar, berarti aku harus segera kembali!” Dengan segera Ismail menarik kekang kudanya untuk kembali ke arah semula dengan tekad bulat. Mendapati hal ini, setelah ragu untuk beberapa lama, Merzangus kemudian langsung memacu kudanya dengan kencang. Namun, setelah beberapa lama memacu kudanya dan menembus kegelapan lembah, mereka akhirnya berhenti sejenak untuk menghela napas dalam keputusasaan. Entah mengapa, kedua kuda tunggangannya kini tidak lagi mau berjalan. Belum juga Merzangus berkata “tunggu”, Ismail Alawi sudah melompat dari atas kudanya. Ia jatuh tersungkur dan mulai merintih keras sambil memegangi kedua matanya. Kudanya sendiri melompat-lompat, memukul-mukulkan kakinya dengan meringkik keras. Melihat Ismail yang merintih kesakitan, Merzangus langsung melemparkan selendang ke arahnya. Dengan berpegang pada uluran tali selendang itulah Ismail mencoba bangkit untuk kembali naik ke atas punggung kudanya. Begitu dapat kembali duduk di atas kuda, dalam napas terengah- rengah Ismail pun bertanya dengan nada marah, “Sebenarnya mau kamu bawa ke mana kami, wahai wanita malang!” Merzangus mengeluarkan pedangnya dari kerangkanya seraya berucap salam dengan pedangnya. “Aku adalah seorang prajurit yang telah bersumpah melindungi Maryam putri Imran dan bayi yang akan dilahirkannya.” 259“Aku tidak peduli dengan apa yang ingin kamu lakukan. Tahukah kamu kalau tadi ribuan anak panah tiba-tiba dihunjamkan ke dalam mataku? Tidak hanya itu, aku juga mendengar suara-suara yang sangat aneh. Jeritan anak-anak yang mengatakan jangan sekali-kali engkau mengganggunya!” “Suara yang engkau dengar itu bisa jadi para malaikat atau semut-semut yang menjaga lembah ini. Mereka adalah umat Nabi Sulaiman yang masih ada sampai zaman sekarang. Dan lembah ini berada dalam pengamanan mereka. Tidak pernah ada manusia yang melewati lembah ini dengan berjalan kaki. Kudamu jauh lebih tahu tentang semua ini.” “Siapa sebenarnya dirimu ini? Dari mana asalmu? Bagaimana kamu bisa berkata semua ini?” “Bukankah engkau baru saja bertanya, benarkah ini adalah Lembah Nabi Sulaiman? Ya. Lembah ini adalah tempat semut-semut berucap salam kepadanya. Para malaikat, angin, dan juga jin adalah tentaranya. Mereka semua masih menetap di sini. Karena itulah lembah ini tidak pernah ada dalam peta. Jika yang menjaga lembah ini mengizinkan, mungkin kita bisa menemukan kembali temanmu. Hanya saja, ada satu syaratnya....” “Apa syaratnya? Tunggu, jangan engkau sebutkan. Apa pun syaratnya, aku akan memenuhinya asal bisa menemukan kembali kedua temanku yang hilang di lembah kematian ini.” “Kalau begitu, tutuplah kedua matamu dan ikutilah doa yang akan aku ucapkan. Semoga kita bisa keluar dengan selamat dari lembah ini dan menemukan kedua temanmu. Kemungkinan, mereka sekarang sedang dalam tawanan para tentara Nabi Sulaiman yang tidak kasat mata. Sekarang, 260bersumpahlah untuk tidak akan membuntuti Maryam dan putranya yang akan dilahirkan. Bersumpah pula untuk tidak memberi tahu apa pun tentang ibu dan anak ini kepada Wali Romawi yang telah merencanakan ribuan pembunuhan kepadanya. Paham? Biar sekalian aku ingatkan bahwa tempat ini adalah Lembah Rahasia. Jika engkau tidak menjaga rahasia ini, di mana pun berada para pasukan Nabi Sulaiman akan mendapatkanmu sehingga engkau tidak akan bisa berbuat apa-apa.” Setelah itu, Merzangus mulai membaca doa Ismi Azam. Tertutur oleh kedua bibir Merzangus sembilan puluh sembilan asma Allah dalam satu bacaan doa. Sementara itu, Ismail Alawi dengan khusyuk mendengarkan doa itu sambil berucap amin, amin, amin....’ Setelah selesai berdoa, keduanya mulai memacu kudanya untuk bergegas menyusuri jalan ke arah laut. Saat mentari terbit, keduanya telah sampai di pantai yang membentang di antara Gazza dan Askalan. Tidak hanya itu, mereka juga melihat Urpinasy dan Efridun telah menunggunya di pinggir laut. “Dalam kegelapan malam, kami kehilangan jalan. Akhirnya, tiupan angin memandu kami sampai di tempat ini.” “Angin juga makhluk dan tentara Allah,” kata Merzangus. Untuk beberapa saat, mereka beristirahat di pantai. Saat itulah Merzangus mulai menerangkan sosok Maryam yang sejak kecil telah dikurbankan di jalan Allah. Mereka pun mendengarkannya dengan saksama. Setelah mendengarkan penuturan Merzangus, para ilmuwan astronomi itu yakin bahwa mereka akan ditangkap dan dipaksa menunjukkan keberadaan Maryam bersama 261dengan putranya jika kembali ke al-Quds. Mereka akhirnya sepakat untuk kembali dengan naik kapal dari Gazza menuju Pelabuhan Sayda, kemudian menuju Damaskus. Dengan demikian, mereka tidak akan melewati kota al-Quds beserta daerah di sekitarnya. Dengan cara ini, mereka akan terhindar dari pantauan mata-mata Wali Romawi. Mereka pun berpisah dengan Merzangus. Mereka menitipkan hadiah untuk Isa berupa emas, tanaman murrusafi, dan tumbuhan sejenis tembakau kering. Setelah itu, mereka memacu kudanya menuju Pelabuhan Gazza. Dalam perjalanan pulang, Merzangus tidak lagi melewati Lembah Naml. Ia lebih memilih jalur utara menembus kota Hebron. Orang-orang Yahudi menyebut Nabi Ibrahim dengan nama Hebron. Merzangus pun berziarah ke makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, dan Nabi Yakub. Sebelum berkunjung ke makam para nabi ini, Merzangus terlebih dahulu mengambil air wudu dan menyelipkan pedang Ridwan di pelana kuda. Sewaktu hidup, Zahter selalu berpesan agar tidak mengunjungi para alim dan nabi, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dengan membawa pedang. Demikianlah ajaran sang kakek dalam memberi pendidikan mengenai tata krama. Dengan khusyuk, Merzangus berdoa untuk para nabi, istri-istri mereka, dan keluarganya yang dimakamkan di sampingnya. Setelah selesai berdoa, begitu melompat ke punggung Suwat, Merzangus teringat masa kecilnya. Sejak kecil, Zahter telah mendidiknya menjadi seorang yang mahir menggunakan pedang. Suatu hari, saat belajar teknik pedang, Merzangus terjatuh tanpa mampu melawannya. Dengan ujung pedang yang ditudingkan ke lehernya, Zahter berkata, “Jangan sekali- kali engkau mengunjungi para nabi dengan pedang terhunus.” 262Saat itulah Merzangus melakukan gerakan cepat sehingga ia mampu bangkit dan Zahter pun dapat dijatuhkan dalam posisi seperti dirinya sebelumnya. “Baiklah,” kata Zahter. “Aku memberimu izin. Mungkin, suatu hari engkau akan mengangkat pedang untuk mengabdi kepada seorang nabi.” Saat Nabi Isa dilahirkan, pedang Merzangus telah terhunus untuk mengabdi kepadanya. Doa sang kakek yang juga gurunya telah menjadi kenyataan. Dengan kencang Merzangus memacu kudanya sembari menyapu pandangan ke arah Betlehem. “Terhunus sudah pedang Ridwan ini, entah kepada siapa ia akan senantiasa mengabdi?” Waktu telah banyak dilewatkan. Saatnya untuk segera menemukan Maryam. Namun, saat kembali, semua orang ternyata sudah pergi. Bahkan, Nabi Zakaria dan Yusuf sang tukang kayu pun sama sekali tidak mengetahui keberadaan Maryam. Merzangus semakin dirundung rasa gundah. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Maryam. “Aku harus segera dapat menemukannya. Tidak mungkin diri ini rela membiarkannya sendiri dalam keadaan sepedih itu,” kata Merzangus seraya melompat ke punggung kudanya tanpa menghiraukan apa yang dikatakan sahabatnya yang lain. Selama empat puluh hari Merzangus memacu kudanya melewati gurun pasir. Dia mencari keberadaan Maryam dari satu perkampungan ke perkampungan lain dengan mendaki gunung dan bukit serta menyeberangi lembah dan perkampungan. 263Tidak tersisa lagi tempat di sepanjang Laut Mati sampai Danau Jalilah yang tidak ia cari. Meski demikian, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Maryam dan putranya. Tidak hanya berhenti di situ, Merzangus juga melanjutkan pencarian dari Gurbara sampai timur Jabali Guruz. Di setiap perkampungan badui, kepada setiap karavan yang lewat, Merzangus bertanya tentang sosok Maryam. Seolah-olah ada rahasia Ilahi yang membuat jejak Maryam sama sekali tidak diketahui. Orang-orang badui di selatan padang pasir Tabariyah adalah penduduk yang bertugas menghapus jejak para karavan setelah kepergian mereka di waktu malam. Merzangus juga telah bertanya kepada mereka. Namun, begitu mereka mengatakan tidak ada jejak kaki seorang pun yang berjalan sendirian, Merzangus langsung memutuskan meninggalkan pencariannya di sebelah utara dan berbalik ke arah al-Quds. Keputusan ini dilakukan tepat setelah mencapai empat puluh hari semenjak Maryam keluar dari mihrab untuk melahirkan putranya. Empat puluh hari sudah Merzangus mencari dan terus mencari. Namun, tidak ada tanda yang menunjukkan keberadaan Maryam. Kini, ia pun harus kembali.... -o0o- 26431. Marym Bernaar Maryam terlihat begitu lapang setelah melahirkan bayinya dengan ketenangan yang telah diturunkan Allah. Tubuhnya pun terasa lebih kuat. Segera ia kumpulkan biji buah kurma untuk dimakan dan mengumpulkan air segar dari anak sungai yang mengalir di bawahnya untuk diminum. Ia juga segera menyusui bayinya saat air susunya mengalir. Setidaknya, Maryam sudah mengerti keadaan dirinya dan sang bayi yang terlahir tanpa seorang ayah. Masyarakat pasti mendakwa dirinya dengan kejam. Dan ini berarti akhir bagi kehidupan seorang wanita. Padahal, apa yang menimpanya semata-mata datang dari sisi Allah sebagai ujian. Sama sekali tidak ada kesalahan yang telah diperbuat Maryam. Ia bukan seperti yang dituduh kebanyakan orang. Apa yang dilakukannya, apa yang bisa dilakukan seorang Maryam dalam keadaan seperti ini? 265Begitulah, Maryam akan diam saja. Diam seribu kata sebagaimana yang diperintahkan kepadanya. Memang, setiap kata dan pembelaan tidak akan mengurangi tuduhan orang kepadanya. Selain itu, kejadian di luar kebiasaan umum yang dialaminya sangat adil jika diserahkan pada persidangan di dalam hatinya sendiri. “Aku mengadukan semua kejadian ini kepada Allah. Hanya Allah yang mungkin bisa mengampuni diriku,” ujar Maryam pada dirinya sendiri. Semua kejadian yang menimpanya memang datang dari sisi Allah. Dan hanya Allah pula yang akan mampu membelanya dengan cara paling baik. Sungguh, kata-kata bagi Maryam sedang dalam berada di bagian penghujung. Tidak satu pun pembelaan akan mampu menjadikan dirinya suci. Dan memang, dia adalah seorang yang suci sehingga bagaimana harus disucikan kembali? Dialah merupakan sosok yang “putih”, lalu bagaimana akan diperputih? Bagaimana kemaksuman akan membelanya? Jadi, biarlah mereka yang ingin menodai kemaksumannya berbicara semaunya hingga habis semua kata-kata. Biarlah Maryam tidak bicara. Biarlah ia diam seribu bahasa. Biarlah ia diam seribu kata. Sebab, “kata-katanya” telah berada dalam gendongannya. 266Apalagi, Maryam sudah mencurahkan semuanya. Ia luapkan hingga tak tersisa apa-apa, Selain Ruhullah yang ada dalam buaiannya... Dialah sang “Kalamullah” yang menjadi dalilnya. Sang dalil yang julukannya adalah Isa putra Maryam. Dialah kini yang akan mengatakan “kata-kata yang paling baik”. Paling baik bagi ibundanya dan juga bagi umat manusia. -o0o- 26732. Marym embai ke al-Quds Setelah selesai masa nifas empat puluh hari, ibunda Maryam segera bersuci, mandi, dan kemudian memotong kain yang telah dicucinya untuk membungkus sang bayi. Setelah itu, Maryam segera melangkahkan kaki... Selesai sudah masa empat puluh harinya... Saat melewati perkebunan zaitun, setiap orang yang mengenalnya selalu mengikuti untuk bertanya-tanya tentang bayi yang ada di gendongannya. Belum lagi pertanyaan lain soal mengapa dirinya keluar dari masjid dan benarkah gunjingan yang selama ini ramai dibicarakan tentang dirinya. Setiap Maryam dengan keputusannya. Ia sama sekali tidak menjawab semua pertanyaan orang-orang itu. Maryam diam seribu kata. Semakin diam, semakin orang-orang merasakan keteguhan Maryam untuk menjaga jarak dari mereka. Semakin diam, semakin teguh Maryam melangkahkan kakinya. Melangkah dengan menggendong putranya yang suci lagi mulia menuju Masjidil Aqsa. 268Pada saat itulah, di tengah perjalanan, ada beberapa orang dari kerabatnya yang menghampiri dan berkata, “Ah, Maryam! Sungguh, engkau telah berbuat hina!” Akhirnya ia menggendong bayinya untuk dibawa ke depan kaumnya. Mereka berkata, “Wahai Maryam, engkau sungguh telah berbuat hal yang hina! Wahai putri saudara perempuan Harun! Sungguh, ayahmu bukan seorang yang buruk, begitu pula ibumu! Kerabat dan tetangga terdekat juga kaget melihat Maryam sedang menggendong seorang bayi. Benarkah dia seorang Maryam yang selama ini mereka kenal sangat mulia? Terlebih- lebih dengan menggendong bayi, tanpa malu, dan melangkah di depan kerumunan masyarakat? Mosye, yang memang sejak awal telah memusuhi keluarga Maryam, memanfaatkan kesempatan itu untuk berteriak sekeras-kerasnya di depan kerumunan orang. “Dengan muka apa engkau berani-beraninya kembali ke masjid? Sungguh, engkau telah mengotori rumah suci ini! Siapa pun yang menjadi ayah dari anak itu, pergilah kamu ke rumahnya! Jangan sekali-kali berani datang ke masjid ini lagi!” Mendengar provokasi Mosye, semua orang jadi marah. Sebagian melempari Maryam dengan batu atau kayu. Sebagian lagi ada yang memukulinya sambil berkata-kata kotor kepadanya. Bahkan, anak-anak kecil pun ikut menyebar duri dan meludahi Maryam di sepanjang jalan. Sungguh, sebuah kejadian yang amat memilukan. Meski demikian kejam, Maryam tetap tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya berusaha melindungi bayi yang ada di gendongannya sambil terus berjalan dengan penuh 269keyakinan. Keteguhan Maryam semakin membuat semua orang tercengang. Tak ada seorang pun yang mendekatinya. Maryam terus berjalan menuju masjid dengan langkah yang teguh bagaikan kapal yang telah diterpa ombak besar. Semua orang lalu berkumpul di alun-alun. Para pemimpin pesantren di Baitul Maqdis pun ikut datang. Mereka terpaku di atas tangga masuk sambil memandang kerumunan orang yang terus berdatangan memadati alun-alun masjid. Salah satu dari para pemimpin madrasah tersebut tidak lain adalah Nabi Zakaria. Begitu melihat Maryam, hatinya langsung seraya terkoyak. Sambil menuruni tangga, ia berteriak, “Maryam... anakku..!” Namun, Maryam tetap diam hingga tiba di tangga gerbang masuk. Dengan jari tangannya, Maryam memberi isyarat kepada orang-orang yang berkuruman untuk memerhatikan bayinya. Hal tersebut justru membuat orang-orang yang membencinya semakin ingin meluapkan kemarahan. “Jadi, dia ingin agar kita bicara dengan bayinya? Sungguh, ini adalah penghinaan bagi kita sehina perbuatan dosanya!” demikian kata mereka. Suara orang-orang mulai bergemuruh, berteriak-teriak. “....apa maksudnya ini? Bagaimana mungkin kita bisa berbicara dengan seorang bayi?” Mosye dan para pendukungnya makin meradang. “Coba perhatikan, wanita hina ini meminta kita berbicara dengan seorang bayi. Apakah dirinya ahli sihir? Bagaimana mungkin seorang bayi bisa bicara. Apakah ia akan bercerita tentang perbuatan dosa yang telah dilakukan ibunya?” 270Semua orang tertawa, mencaci-maki dengan kata-kata kotor. Dalam waktu yang sama, Merzangus datang menaiki kuda yang dipacu dengan kencang, sementara Yusuf berlari terengah-rengah dari tempat kerjanya sebagai tukang kayu. Tidak ketinggalan, al-Isya juga ikut berlari menerjang kerumunan orang bersama bayinya yang bernama Yahya. Dengan menangis tersedu-sedu, al-Isya berteriak kepada kerumunan orang-orang itu. “Jangan kalian sakiti dia. Semua ini datangnya dari Allah!” Namun, kata-kata itu tidak bisa menenangkan mereka. Bahkan, al-Isya juga mendapatkan pukulan dari orang-orang yang memang sejak awal berniat jahat. Begitulah, semuanya terjadi seketika pada saat itu. Mulailah sang bayi yang ada dalam gendongan Maryam berbicara. Sebab, ia adalah “Kalamullah”. “Diriku adalah hamba Allah. Ia telah memberiku Alkitab. Dan Ia telah mengutusku menjadi seorang nabi. Di mana pun aku berada, Ia akan memuliakanku. Ia telah memerintahkan kepadaku untuk mendirikan salat dan zakat sepanjang hidupku. Ia telah membuatku menghormati ibuku dan tidak membuatku menjadi seorang yang malang. Salam dan keselamatan terucap bagiku saat kelahiranku, sepanjang hidupku, dan saat diriku hendak dimasukkan ke dalam liang kubur.” -o0o- 27133. Ksah Tiga Bayi yng Mmpu Bicara Merzangus termenung. Ia membuka kembali catatan lama tentang tiga bayi yang dapat berbicara saat dirinya melakukan perjalanan panjang. Sungguh, kisah itu seperti sebuah ibarat yang begitu mulia. Merzangus pun tertegun merenunginya. Kisah itu kembali membuka cakrawalanya seperti sebuah jalan setapak yang mengantarkannyakejalan yang Merzangus benar-benar mampu memahami hakikat dan hikmah dari kisah itu. Pemikirannya begitu terang terbuka bagaikan bintang yang memberi isyarat dan pertanda baginya. Seolah kisah-kisah yang selalu ia dengarkan dari penuturan Zahter di sepanjang perjalanan telah menjadi guru di sepanjang usia kecilnya. Seperti kuliah di sepanjang perjalanan padang pasir. Sebuah kisah yang selalu melekat dalam ingatannya. Kisah penuh hikmah tentang tiga bayi yang bisa berbicara. 272Putra Maryam juga seorang bayi yang bisa berbicara, bahkan ketika masih dalam buaian bundanya. Kemudian, Merzangus teringat kisah lainnya. Salah satunya adalah Jurayj dari Bani Israil. Ia adalah seorang yang hanif, ahli salat, zakat, dan juga seorang mukmin yang sempurna. Suatu hari, saat dirinya sedang salat, ibunya memanggilnya sebanyak tiga kali. Saat itu, Jurayj tidak membatalkan salatnya. Setelah selesai, ia segera akan menunaikan apa yang diinginkan ibunya. Rupanya, sang ibu adalah sosok pemarah. Ia tidak sabar dan akhirnya berdoa jelek untuk sang anaknya. “Duhai Allah! Jangan cabut nyawa Jurayj sampai Engkau mengujinya dengan wanita!” Akhirnya, Jurayj mendapati ujian dengan seorang wanita saat ia menyendiri beribadah di salah satu tempat di kampungnya. Wanita tersebut tertarik oleh Jurayj yang memang masih muda dan tampan. Jurayj dapat membuatnya pergi dengan kebaikan akhlaknya. Namun, wanita itu masih terus menggodanya sampai akhirnya berbuat hina dengan seorang penggembala hingga mengandung seorang bayi. Wanita itu akhirnya memitnah Jurayj. Jurayj sama sekali tak tahu-menahu dengan semua kejadian ini. Ia masih khusyuk beribadah di dalam gubuk di pinggir kampungnya. Meski demikian, warga sudah telanjur marah karena isu yang diembuskan wanita itu. Mereka pun naik pitam dan beramai-ramai mendatangi Jurayj. Bahkan, 273gubuk tempat Jurayj beribadah dirobohkan. Tak sampai di situ, Jurayj pun sempat dipukuli. Jurayj lalu mengajak warga mendatangi tempat bayi wanita itu berada. Sesampai di sana, Jurayj bertanya kepada sang bayi, “Siapa bapak kamu?” Anehnya, sang bayi dapat menjawab pertanyaan itu dengan berkata, “Penggembala.” Karena sang bayi tiba-tiba dapat berbicara, warga pun kaget. Mereka akhirnya meminta maaf kepada Jurayj. Bahkan, mereka juga membangun kembali gubuk tempat beribadah yang telah dirusak sebelumnya. Kisah bayi berbicara lain juga berasal dari Bani Israil. Sang bayi dapat berbicara dengan ibundanya. Seorang wanita Bani Israil sedang menyusui bayinya berdoa ketika melihat seorang kesatria penunggang kuda lewat di depannya. “Ya Tuhan, jadikanlah bayiku ini seperti dia!” Mendengar doa sang bunda, bayi itu tiba-tiba dapat berbicara dengan berkata, “Ya Rabbi, jangan Engkau jadikan diriku sepertinya!” Beberapa saat kemudian, lewat seorang pembantu bersama putranya yang selalu dipandang hina masyarakat. Sang ibu bayi pun berdoa kembali. “Duhai Allah, janganlah Engkau jadikan anakku hina seperti wanita itu!” Mendengar doa itu, sang bayi pun kembali dapat berbicara, “Duhai Allah, jadikanlah diriku seperti dirinya!” 274Sang ibu kembali kaget. Akhirnya, ia bertanya kepada bayinya. Sang bayi pun menjawab, “Duhai Ibundaku! Kesatria itu adalah seorang yang zalim lagi sombong, sementera wanita pembantu itu adalah seorang yang maksum. Semua orang menyalahkan dirinya, padahal ia adalah seorang yang maksum lagi suci. Aku lebih memilih menjadi orang seperti wanita itu daripada menjadi seorang yang sombong dan zalim.” -o0o- 27534. Sift-Sift Isa Dia adalah Kalamullah... Kelahirannya terjadi atas perintah Allah. Kun, jadi, maka jadilah... Dialah penjelas, pengingat, dan penanda mukjizat penciptaan-Nya... Ketika segala sesuatu tiada, Dialah Yang Mahaada. “Keberadaan” adalah Diri-Nya yang senantiasa ada di sepanjang masa... Saat Dia dalam kekayaan yang tersembunyi, Dia pun menginginkan untuk dikuak. Bertitahlah “jadi”, maka “jadilah”. Titah ini pula yang dicipta-Nya dalam penciptaan pertama. Titah yang pertama kali dicipta, dititahkan, dan yang pertama kali pula mengarungi perjalanan... Kalamullah. Laksana awal dari putaran jarum jam, seperti angka garis pertama dalam mistar, bagaikan batu pertama dalam fondasi suatu bangunan. Demikian pula saat bangunan alam ini disusun untuk kali pertama, saat matematika dipetakkan sangat awal, saat bangunan kehidupan pertama kali ditegakkan, ketika jagat raya pertama kali ditinggikan, saat kejadian pertama kali muncul, yang ada tidak lain adalah titah “KUN”. 276“Kun” seperti sel pertama, sidik jari. Ia adalah rahasia yang menggenggam segala cipta. Dan kalam, adalah penggenggam rahasia bagi pengucapnya... Kalam, adalah pejalan yang mengayunkan kakinya dari jiwa yang terdalam. Kalam, adalah serpihan yang tercerai dari kesatuan. Kalam, adalah perpisahan; terjadinya luka. Kalam, adalah perantauan. Kalam, adalah nama jalan, perjalanan, dan juga pejalannya. Kalam, adalah jejak penanda. Kalam, adalah milik Allah; titah-Nya. Kalam, adalah utusan. Kalam, adalah nama lain dari Nabi Isa; puji dan syukur semoga terpanjat untuk Zat yang telah menitahkannya. Dan kalam, adalah al-Masih... Dengan seizin Allah, seorang buta bisa menjadi sembuh setelah diusap al-Masih. Al-Masih adalah berarti seorang yang tidak bisa berdiam diri di suatu tempat, yang selalu bergerak, bermigrasi. Seorang yang di waktu pagi ada di sebuah tempat, di malam hari sudah berada di tempat lain. Itu juga nama minyak wangi yang diusapkan pada kepala raja bangsa Yahudi untuk menyucikannya sehingga sang raja pun dimuliakan.... Al-Masih, adalah hamba mulia dan suci. Al-Masih, seorang yang menggenggam as-syifa di tangannya. Al-Masih, seorang yang diberi ucapan selamat, dan juga yang memberi ucapan selamat... 277Al-Masih, seorang yang mengulurkan tangannya, yang menolong, menuntun. Al-Masih, seorang yang menerima dengan lapang dada; yang memberi salam keselamatan, kabar gembira... Al-Masih, adalah medali. Pangkat, piagam pengukuhan, ijazah kemampuan... Al-Masih, adalah Isa . Dan Nabi Isa adalah lencana kehormatan yang disematkan di dada umat manusia... -o0o- Ia adalah al-wajih… Isa, seorang yang mulia. Terhormat, menduduki tempat yang tinggi. Sosok yang diterima, dihormati, dan dicintai setiap orang. Yang didengar kata-katanya begitu memulai bicara di muka umum. Kata-katanya lembut, meyakinkan, dan jauh dari keraguan. Yang tidak pernah muram, selalu tersenyum dalam berzikir. Bahkan, saat masih berada di dalam kandungan sang ibu, ia senantiasa bertasbih, berbicara dengan sang bunda. Dikisahkan, semasa dalam kandungan, ia telah menghafal Taurat. Kemudian, kitab Injil diturunkan kepadanya. Hikmah. Seorang yang memberi kabar gembira mengenai kedatangan nabi terakhir bernama “Ahmad”. Seorang rasul mulia, baik di dunia dan akhirat. Dia adalah al-Mukarrib... 278Isa , seorang yang dekat dengan Allah. Allah pun dekat dengannya. Hamba yang juga mengajak umatnya mendekatkan diri kepada-Nya. Utusan yang telah mewakafkan dirinya di jalan Allah, untuk menjembatani umatnya dalam mendekatkan diri kepada-Nya. -o0o- Demikianlah, seorang bayi yang dapat bertutur kata mengenai kebenaran telah membuat hati sekerumunan orang tercengang. Mosye pun syok berat. Lidahnya kaku terjulur. Tubuhnya kejang sampai jatuh berguling-guling. Dari mulutnya keluar busa dan teriakan keras, “Tidak...! Tidak mungkin...!” Namun, apa yang terjadi telah benar-benar terjadi. Jika Allah menghendaki, pasti akan terjadi. Sementara itu, Nabi Zakaria tiada berhenti berucap puji dan syukur ke hadirat Allah atas apa yang telah disaksikannya. Demikian pula dengan Yusuf. Ia segera bersujud syukur di tempat itu juga. Sang bibi, al-Isya, baru saat itu berkesempatan bersua dengan kemenakannya. Bajunya sampai robek saat berdesakan menerobos kerumunan orang. Saat itulah dua bayi, Yahya dan Isa, dapat bertatap muka untuk kali pertama. Yahya berucap salam kepada Isa seperti saat masih berada dalam kandungan... Isa senyum gembira mendapati 279temannya sesama bayi, seolah-olah bukan dirinya yang baru saja berbicara. “Tolong berikan jalan... berikan jalan! Salam dan keselamatan semoga tercurah untuk Isa ibnu Maryam! Dialah sang Kalamullah, al-Masih, semoga salam terucap untuknya! Berikan jalan wahai penduduk al-Quds yang kini telah mendapati limpahan nikmat agung!” Seorang yang berteriak-teriak demikian tidak lain adalah Merzangus. Seorang pahlawan yang tidak pernah turun dari kudanya sepanjang empat puluh hari masa nifas Maryam. Masa-masa sulit yang ia namai dengan “hari-hari arbain”. Selama masa itu, ia hanya memakan beberapa pucuk daun pakis untuk sekadar dapat tegak berdiri. Sama seperti Ibunda Maryam yang hanya memakan buah kurma dan meminum air dari sumber mata air. Bersama-sama mereka menuju rumah Nabi Zakaria... Ungkapan “air bisa saja tidur, namun musuh tidak mungkin” terbukti. Para ahli khianat rupanya ingin segera melupakan kekalahannya di waktu siang. Dengan mata hati yang telah tertutup dari hakikat kebenaran, mereka mengingkari apa yang telah disaksikan. Mereka terus mencari cara untuk segera keluar dari kekalahan. Mereka pun segera mengirimkan berita kepada Heredos. Bagi Roma, kemunculan seorang nabi dari kalangan Bani Israil adalah sebuah petaka. Seolah-olah belum cukup dengan kehadiran Nabi Yahya dan Zakaria, sehingga diutus lagi seorang Isa putra Maryam. 280Api pergolakan telah disulut di seantero Syam dan al-Quds. Penguasa Romawi benar-benar sudah tidak tahan dengan tiga orang nabi yang datang dari keluarga yang sama. Para pemuka Yahudi yang telah dirasuki sikap khianat, seperti Mosye, semakin khawatir dengan status mereka sebagai pemuka agama. Mereka pun melakukan berbagai cara agar dapat menjalin kerja sama dengan pemerintah Romawi untuk melenyapkan keluarga Imran dan Zakaria. Malam pun tiba dan rencana pembunuhan siap digelar. Kaum munaik mendirikan tenda-tenda di perbukitan zaitun. Bagaimana mungkin para rahib agama Yahudi telah berbalik mendukung orang-orang Romawi yang menyembah berhala? Mungkin, inilah akibat kecintaan orang terhadap kedudukan dan pangkat... Acara makan malam telah selesai dilakukan. Kemelut api itnah pun semakin cepat menyebar. Kali ini, Nabi Zakaria yang jadi sasaran. Semua orang mengatakan bahwa Nabi Zakaria adalah satu-satunya orang yang mungkin melakukan perbuatan nista dengan kemenakannya, Maryam. Kian hari, api itnah yang paling busuk ini telah menjalar dengan cepat di tengah-tengah masyarakat. Dengan tuduhan inilah para kaum durjana itu telah mengobarkan kemarahan warga untuk beramai-ramai membunuh Nabi Zakaria. Setelah itu, Maryam dan juga putranya. Terlebih, sesuai adat, rajam menjadi hukumannya. Menurut syariat agama Yahudi, dosa berbuat zina adalah harus dibunuh dengan dilempari batu. Nah, setelah Nabi Zakaria tewas, tentu jauh lebih mudah melenyapkan seorang ibu beserta anaknya. Inilah rencana mereka. Rencana yang membuat hati para pengkhianat senang bukan kepalang, luap dalam pesta-pesta minuman keras bersama dengan orang-orang busuk lainnya. 281Mosye bersama dengan para pengikutnya berkata, “Apa yang mereka katakan tidak mampu menembus daun telinga; dan tidak akan mungkin memengaruhi dan mengubah pendirian kami.” -o0o- Selang beberapa lama, dua prajurit Roma yang menjaga tenda penasaran dengan nyala lentera yang mereka lihat dari kejauhan di lereng sebuah bukit kebun zaitun. Mereka pun segera berjalan menuju ke arah nyala cahaya lentera itu. Akhirnya, mereka menemukan tempat Ham, Sam, dan Yafes melakukan uzlah atau mengasingkan diri. Saat melihat para darwis itu sedang beribadah, mereka pun beristirahat sebentar untuk mengabil napas. Di sela-sela pembicaraan terdengar percakapan mereka yang menyebut-nyebut Nabi Zakaria . “Hari esok adalah hari yang paling susah bagi orang tua itu.” Mendengar percakapan tersebut, sesaat setelah para prajurit itu pergi, Ham segera memacu kudanya untuk pergi menuju rumah Zakaria . Rumah Zakaria rupanya telah dipenuhi orang-orang Mukmin. Tenang hati Ham saat melihat Merzangus sedang berdiri tegak di depan pintu dengan memegang sebilah pedang. Pada salah satu ruangan, Zakaria dan tukang kayu Yusuf sedang berdiskusi. Yusuf sependapat dengan usulan agar Maryam harus segera keluar dari al-Quds demi keselamatan dirinya dan sang bayi. Sementara itu, Zakaria akan tetap bersabar membimbing umat. 282Kini, yang menjadi pertanyaan, ke mana Maryam dan putranya harus dibawa pergi? Di manakah tempat yang paling aman untuk mereka? Saat mereka sedang membicarakan semua ini, tiba-tiba kuda Merzangus yang bernama Suwat mengamuk seraya menendang pintu masuk pekarangan. Saat orang-orang ingin mengetahui apa yang telah terjadi, si kuda memberikan isyarat ke sebuah arah dengan kepalanya. Tidak lama kemudian, orang-orang pun memahami apa yang dimaksud si kuda. “Ini adalah kuda peninggalan Siraj!” kata Merzangus. Merzangus juga mengingatkan, sebelum meninggalkan al- Quds, Siraj pernah berkata kalau kuda itu akan menemukan tempat dirinya berada. Kini, Siraj telah berada di Mesir. Merzangus pun menoleh ke arah Ham, Syam, dan Yusuf. “Kita bawa Maryam dan putranya ke Mesir!” Waktu sudah menipis. Mereka harus segera pergi, bahkan tanpa ada waktu untuk menyiapkan perbekalan. Agar aman dan tidak menarik perhatian, Merzangus dan Ham akan berjalan lebih dahulu, kira-kira satu kilo meter di depan. Di belakang, Yusuf akan mengawal Maryam dan sang putra yang dimasukkan dalam keranda yang ditarik seekor keledai. Dalam keadaan yang begitu terburu-buru, Yusuf bahkan tidak sempat mengenakan terompahnya, sementara Maryam mendekap erat sang putra yang tidak sempat ia kenakan baju. -o0o- 283284AIN 28535. ijrah ke Msr Adakah seorang nabi yang tidak diasingkan dari bangsa dan negerinya? Namun, hanya Nabi Isa yang diasingkan begitu lahir ke dunia. Begitulah, perjalanan hijrah telah tertulis sejak masa buaian. Mesir adalah tempat tujuannya. Sebuah tempat yang penuh menyimpan rahasia. Tempat berlindung sekaligus penjara bagi sebagian nabi. Ia telah menjadi tempat bertakhta bagi seorang nabi seperti Yusuf , tapi juga telah menjadi tempat saat membangun benteng bagi Musa . Mesir telah seakan-akan menjadi bentangan takdir bagi para nabi, laksana bentangan Sungai Nil dari hulu hingga ke hilir. Bagi Isa , Mesir adalah tempat berlindung, tempat bertamu, dan melewatkan masa kecil hingga dewasa. Beberapa abad kemudian, orang-orang akan saling bicara bahwa tempat yang diberi isyarat dengan nama “rabwa” tidak lain adalah Mesir itu sendiri. 286“Kami telah menjadikan Maryam dan putranya sebagai tanda kekuasaan kami. Kami telah berikan kepadanya tempat yang tinggi, tenang, kokoh, dan dilewati dengan sumber air.” al-Mukmin [40] 50 -o0o- Bersama dengan Yusuf, teman seperjuangannya, Maryam menyusuri jalan agar dapat sampai ke Mesir. Maryam dan bayinya menyelinap di balik keranda sempit yang terbuat dari anyaman bambu. Keras dan tajam papan bambu lama- kelamaan akan melukai tubuh bayi dan ibundanya yang tidak beralaskan apa-apa. Sampai-sampai Yusuf pun tidak tega saat kulit bambu telah membuat luka hingga bercak darah ada di mana-mana. Yusuf pun langsung melepaskan baju hangat yang menjadi satu-satunya harta dunia yang dimilikinya. Hanya baju itulah yang dapat mereka gunakan untuk berselimut. Satu-satunya harta di dunia adalah baju hangat itu. Namun, Yusuf telah merelakannya dengan sepenuh hati. Bahkan, ia sebenarnya telah memberikan jiwanya... Tak berselimut Maryam dan putranya. Saat itulah Yusuf telah menjadi cermin bagi manusia; cermin untuk berkorban demi cintanya. Cermin yang begitu jernih. Tanpa kotoran, tanpa goresan. Hanya pancaran cahaya cerah yang memantul darinya. Tanpa sedikit pun bercak. 287Tanpa sedikit pun penghalang. Tanpa sedikit pun kesamaran. Cermin untuk menunjukkan kedekatannya kepada sang Rabbi. Yang tak berpenghalang dengan sehelai selimut pun di dunia. Yang menyelinap bagaikan lesatan anak panah dari penghalang dunia. Yang menunjukkan kedudukan kedekatannya kepada yang mencipta. Yang membuat para malaikat pun iri kepadanya; Dialah Yusuf, yang menyusuri padang pasir tanpa alas kaki, tanpa baju yang menutupi punggungnya... -o0o- Saat itu, Maryam mencari sesuatu untuk dijadikan sebagai alat memintal. Kemahiran dasar yang dimiliki oleh para ibu bangsa Palestina. Mulailah Maryam mengurai benangnya. “Risyte-i Maryam”, demikian bait-bait puisi akan menamakan baju yang dipintalnya. Demikianlah yang disampaikan Hakani dari Yawsi dalam catatannya “Telah dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa begitu lembut kain yang dipintal Maryam. Jika tidak dilipat dua, ia masih licin dipegang.” 288Begitu lembut Risyte-i Maryam menutupi tubuh Isa yang masih bayi. Sedemikian lembut ia sehingga orang-orang yang melihatnya akan menyebutnya sebagai “kain pintal malaikat”. Itulah baju Isa yang dipintal ibundanya. Risyte-i Maryam tak lain adalah arti kesabaran. Risyte-i Maryam menyimpan erat rahasia kepedihan yang tidak pernah dirasakan orang. Risyte-i Maryam adalah berbuka puasanya sang ibunda dari tidak berbicara. Semakin berpuasa dari bicara, semakin lembut kain hasil pintalannya... Kain selembut itulah yang terpintal dalam perjalanan takdir Isa al-Masih... Begitulah perjuangan seorang ibunda untuk dapat menyelimuti bayinya, sampai kemudian memakaikannya dengan kancing peniti alakadarnya... Itulah “Suzen-i al-Masih”. Demikian orang menyebut hadiah yang telah diberikan kepada Isa ibnu Maryam... Kenangan yang membuat para malaikat di langit keempat saling bertanya “Tidakkah engkau tahu bahwa tidak diperkenankan memasuki surga dengan harta dunia, wahai Isa?” Isa pun menjawabnya “Suzen ini adalah kenangan dari ibuku, Kenangan yang mengangkatku dari bumi ke langit... Yang dipintal ibundaku yang bernapaskan Ruh Suci.” Terpana para malaikat mendengarkan jawaban sang al- Masih. Sejak saat itulah Suzen-i Isa terkenang di alam langit. 289Sampai berabad-abad kemudian, saat terjadi peristiwa Karbala, Suzen itu pula yang selalu menangis pada peristiwa yang dialami oleh Husein. Saat para kesatria Karbala dipenggal kepalanya, Saat itulah Suzeni Isa dirobek-robek, tercerai-berai menyebar ke angkasa Hingga tiap serpihannya menancap ke dalam hati para darwis cinta. -o0o- Para prajurit raja dan pendukung Mosye rupanya ikut mengejar mereka ke Mesir. Benar, jika seseorang telah berkata bahwa “hati seseorang yang mencintai demi Allah tidak akan tertidur”. Demikian pula hati Merzangus dan juga Ham yang selalu beribadah di gubuk di lereng bukit Zaitun... “Kini, saatnya kita membawa bukti rumput egrelti dari Kampung Rempah-Rempah,” kata Ham. Dalam waktu yang bersamaan, kuda yang ditungganginya berbelok arah seraya melesat kencang bagaikan anak panah lepas dari busur untuk mencapai pejalan yang ada di belakangnya... Ham tertegun. Air matanya berlinang saat melihat Yusuf yang menyusuri jalan tanpa alas kaki dan tanpa baju yang menutupi punggungnya. Belum lagi saat menyaksikan keranda tempat Maryam dan putranya telah penuh dengan bercak darah. Segera ia keluarkan rumput egrelti yang dibawanya untuk diulurkan kepada Maryam dalam muka tertunduk pedih. 290“Mohon oleskan tanaman ini pada luka Anda, wahai Tuan Putri! Dengan seizin Allah, semoga tanaman yang kelak akan dikenang dengan nama Buhuru Maryam ini dapat meringankan luka Paduka.” “Masyaallah tabarakallah,” kata Maryam seraya menyisipkan tanaman itu ke dalam buaian Isa. Begitulah, tanaman dan bunga-bungaan yang dibawanya dari Kampung Rempah-Rempah satu per satu akan mendapati tempatnya sebagai dalil. Isa putra Maryam kelak akan bersemayam dalam wewangian yang kelak juga akan menjadi jejak wangi nabi akhir zaman. Dialah seorang yang namanya al-Masih, al- Habib.... Ham kemudian menoleh ke arah sahabat perjuangannya, Yusuf sang tukang kayu. “Ada satu hal yang pernah dikatakan orang Badui padang pasir. Jika engkau mengusapkan tanaman egrelti ini, orang- orang yang menguntit di belakang akan kebingungan mencari jejak kita.” Ham pun segera memacu kudanya untuk kembali menyertai Merzangus memandu perjalanan di depan. Seekor keledai milik Yusuf sang tukang kayulah satu- satunya hewan yang pernah dinaiki Maryam. Ia tidak pernah menaiki unta, tidak pula kuda. Berabad-abad kemudian, seorang sahabat Allah yang bernama Abu Hurairah berkata demikian untuk Maryam. 291
masjiddarussalam18 Download PDF Publications 228 Followers 19 Maryam Bunda Suci Sang Nabi Sibel Eraslan Maryam Bunda Suci Sang Nabi Sibel Eraslan View Text Version Category 22 Follow 1 Embed Share Upload
10. eika Marym Baru dalm Bera Usia Hanna lanjut sudah. Masa suburnya telah lewat menurut perhitungan sebagai seorang wanita. “Mungkinkah,” katanya di dalam hati, “mungkinkah takdirku meninggalkan dunia ini tanpa pernah menjadi seorang ibu.” Bukanlah sebuah penentangan apa yang terbesit di dalam lubuk hatinya yang terdalam ini. Ia tahu bahwa Allah Maha Memberi sehingga tidak ada hak bagi hamba untuk mengeluhkan-Nya. Bahkan mengeluhkan dirinya. Namun, seperti itulah keadaan setiap wanita! Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Cenderung mengait- ngaitkan kejanggalan dalam hidupnya. Mulai dari angin yang tak berembus, hujan yang tak kunjung tiba meski sangat dinanti-nantikan, pintu rumah yang tidak juga diketuk seorang tamu, sampai keadaan yang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Semuanya selalu menjadi alasan untuk mencari kekurangan pada dirinya sendiri. Demikianlah wanita! Mungkinkah dirinya telah menjadi penyebab sehingga tampil untuk merasa bertanggung jawab ketika ada hal-hal yang tak seorang pun mau peduli? 92Dalam penantiannya selama berpuluh-puluh tahun untuk dapat menjadi seorang ibu, Hanna juga selalu menelisik kekurangan dirinya. Mungkinkah ada seekor semut yang tanpa sengaja diinjaknya, mungkinkah ada sehelai daun zaitun yang ia lukai, atau seorang yatim yang tidak ia belai rambut kepalanya? Mungkinkah ada seorang tamu Allah yang mengetuk pintu namun tidak ia bukakan karena tertidur lelap, atau mungkinkah ada sangkar burung yang tanpa tanpa sengaja telah dirusak olehnya? Atau mungkinkah ada aliran sungai yang tanpa sengaja telah menjadi sedikit keruh airnya saat ia mengambilnya? Semua ini selalu ia tuliskan satu demi satu di dalam buku hariannnya. Ia baca ulang semuanya seraya mencari kesalahan yang bersumber dari dirinya. Hanna pun selalu berbicara pada diri sendiri. “Cukup tua sudah diriku,” katanya dalam linangan air mata membasahi kedua pipinya. Ia menyangka telah berakhir sudah masa suburnya. Tertutup sudah kemungkinan untuk dapat melahirkan seorang bayi. Hampir sampai sudah waktu banginya untuk dikubur dan membusuk di dalam tanah. Hanna kembali menyendiri di taman di belakang rumahnya setiap kali merasa sedih. “Wahai sahabatku yang berwarna cantik abu-abu!” katanya. “Wahai sahabatku yang selalu setia menjaga rahasia,” katanya kepada pohon-pohon zaitun di kebunnya. “Orang-orang telah ramai menggujing tentang diriku. Kata-kata mereka sungguh telah membuat sakit hatiku, melukai jiwaku. Ah...!” Jika saja di masa lalu, niscaya tidak akan begitu peduli dengan apa yang mereka gunjingkan. Namun, untuk saat ini sangat berat. Begitu dalam luka yang digoreskan. Hati, jiwa, dan wajah bersih Hanna seolah-olah tercabik-cabik. 93“Mereka memitnah diriku dengan tuduhan wanita mandul terlaknat.” Wajahnya mengarah ke genangan air, mencari tanda, noda, dan guratan pada di sana. “Menjadi seorang wanita yang dilaknat Tuhan.” Sungguh betapa pedih dakwaan itu bagi seorang wanita... Gemetar ia merenungi. Menunduk. Berkaca ke atas air. Mencari pertanda pada wajahnya. Sesaat terlintas sang suami dalam pikirannya. Kembali ia tertunduk. Imran, seorang alim agung keturunan Harun . Seorang ahli kitab, haiz, pembimbing masyarakat. Ia merasa dirinya sebagai seorang istri yang telah dilaknat Tuhan, seorang yang telah diusir dari tempat ibadah dengan tuduhan laknat mandul.... Begitu pedih Hanna meratapi keadaannya. Sementara itu, setan seolah-olah telah siap mencari mangsa; siap berbisik dengan lidah ularnya. Mengembuskan desas-desus. “Engkau adalah seorang mandul. Seorang terlaknat....” Setan terus berbisik... dan berbisik.. Saat api desas-desus begitu berkobar dari mulut setan, saat Hanna hampir saja terbuai oleh bisikannya, terdengarlah suara Imran membuyarkan buaian setan. “Hidup adalah sebuah ujian. Tuhan kita akan menguji kita dengan berbagai macam kepedihan, kepapaan. Bukankah selalu berzikir menyebut Ya Wakil’ adalah yang terbaik bagi kita?” 94Kembali Hanna menarik dirinya dari tertunduk di bibir sumur. Al-Quds. ah, al-Quds.... Engkau tidak lagi seindah dulu. Bahkan, penghulu alim Baitul Maqdis pun seolah telah berganti. Baru saja seminggu berlalu dari perbincangan di antara Imran dan Nabi Zakaria mengenai “kemandulan”, keduanya telah menuai cercaan yang bukan-bukan. Hal ini berawal dari watak alim muda bernama Mosye yang selalu terbelenggu jiwa serakahnya untuk menjadi pemimpin para ulama. Memang, sejak kecil Hanna telah mengenal Mosye. Saat pertama kali belajar di rumah Imran. Tidak segan-segan Mosye melahap apa saja dalam jamuan makan yang dihidangkan Hanna. Dengan persetujuan Nabi Zakaria pula Mosye dapat diterima di sekolah agama di Baitul Maqdis. Tahun-tahun telah berlalu dan telah membuat seorang Mosye begitu banyak berubah dari masa lalunya, saat ia menghapuskan begitu saja perjuangan dan kebaikan banyak orang kepadanya. Padahal, keturunan Bani Israil telah terkenal dengan kekuatan ingatannya. Mereka juga terkenal tidak pernah lupa dengan janji-jani yang telah diucapkannya. Mungkin karena ketidaktahuan balas budi yang telah sedemikian merambah di zaman akhir sehingga manusia dapat begitu mudah lupa, masa bodoh dengan segala perjuangan dan kebaikan yang telah diperbuat untuknya. Dan Mosye adalah bagian dari mereka, seorang yang kini telah menentang Imran dan Zakaria yang telah menjadi pengasuhnya. “Akhir zaman....,” kata Hanna kepada pohon-pohon zaitun yang diajaknya bicara. “Akan datang hari akhir... akan datang hari penghujung, yang kesetiaan dan sikap tahu balas 95budi akan hilang bersamanya. Kesetiaan akan terangkat dari al-Quds sehingga seorang akan menjadi mangsa bagi yang lainnya….” Demikianlah kata para leluhur. Betapa pedih hati Imran dan Nabi Zakaria saat kembali ke rumah di malam itu. Meski keduanya sama sekali tidak menunjukkan kepedihan hati, di pagi hari berikutnya Hanna maupun al-Isya telah mendengar desas-desus yang begitu memerahkan telinga. Sesak serasa jiwa dibuatnya. Semua orang telah ramai menggunjing. “Mandul, laknat ilahi!” seru Mosye dan orang-orang yang mengikutinya. Penghinaan itu cepat merambah ke seantero kota. Bahkan, penghinaan menyakitkan sampai juga ke dalam rumah tangganya. Dicap sudah keluarganya oleh semua orang yang tidak punya hati. Tercabik-cabiklah hati Hanna dan al-Isya. “Dua orang ini adalah wanita terlaknat yang menjadi mandul. Huh....” Mendengar ini, Nabi Zakaria sampai-sampai mengeluhkan orang yang menebar hinaan itu. “Inikah wujud persaudaraanmu? Sungguh keji sekali perbuatanmu wahai orang yang kami telah anggap sebagai saudara. Inikah hal sebaliknya yang engkau lakukan kepada kami? Inikah persahabatan, inikah balas budi? Bukankah engkau adalah seorang yang telah mengabdikan diri di jalan Tuhan, mengabdi untuk membimbing, memberi contoh kepada masyarakat? Lalu, mengapa engkau tega menyebar itnah yang sedemikian keji kepada kami? Apa tujuanmu sehingga kami khawatir dengan masa depan keluarga sepeninggal kami lantaran perbuatan kejimu!?” 96Gunjingan para wanita begitu pedas terdengar di telinga Hanna dan al-Isya. “Bukankah Imran dan Zakaria adalah para alim agung? Mungkinkah keduanya memiliki kekurangan? Pastilah kalian para istri yang lemah. Ah.... Jika saja kalian berdua lebih perhatian kepada suami, pasti akan tercapai keinginan mereka untuk memiliki anak. Namun, rupanya para istri mereka tidak begitu mampu memberikan cinta!” Dan malam itu, al-Isya menangis tanpa henti. Hatinya koyak karena sedih sehingga ia pun mengadu kepada suaminya. “Mengapa engkau tidak meninggalkan diriku yang telah menjadi wanita terlaknat ini?” Nabi Zakaria yang secara usia lebih tua menenangkan hati istrinya dengan penuh kasih sayang. “Engkaulah satu-satunya pendukungku di dunia yang luas ini. Satu-satunya belahan jiwa tempat berbagi derita. Lalu, mengapa engkau berkata begitu? Tidak engkau tahu kalau permasalahan ini adalah kuasa Allah dan takdir-Nya? Meski tahu dan mengimani semua ini, mengapa engkau masih menyalahkan diri dan juga membuatku bersedih hati, wahai Isya!?” Nabi Zakaria bertutur dengan lembut meyakinkan sehingga hati sang istri menjadi tenang. Dan memang demikianlah selalu luka di dalam hati al-Isya terobati. “Kehormatanku paling mulia di dunia ini adalah dirimu, menjadi istri seorang nabi!” kata al-Isya seraya bersimpuh 97dalam pangkuan sang suami. Nabi Zakaria pun segera menarik tanggan untuk berdiri seraya mencium lembut kening istrinya. Betapa kejam orang yang berkata “mandul” untuk mereka. Gunjingan ini sebenarnya sudah lama dan menyeruak sejak ada perebutan supremasi di antara para alim Baitul Maqdis. Imran yang berasal dari keturunan Nabi Harun dan Zakaria yang berasal dari keturunan Nabi Daud sebagai alim agung hampir saja dihardik dari dalam Baitul Maqdis. Lebih-lebih dengan kenyataan bahwa Zakaria telah diutus sebagai nabi. Hal itu membuat para pengasuh Baitul Maqdis yang secara usia dan jabatan lebih tinggi semakin tidak kenal ampun. Mereka merasa telah banyak beribadah, mengabdikan hidup di jalan agama sampai rambut kepala memutih, berzikir, berpuasa, dan menempa spiritual. Namun, mengapa yang justru terpilih di antara mereka untuk menjadi seorang nabi adalah Zakaria? Mereka menyangka diri mereka lebih layak untuk menjadi seorang nabi. Demikianlah, sikap serakah dan sombong telah mengobarkan api kemarahan dan permusuhan... Bahkan, dua lembaga terbesar di Baitul Maqdis, yaitu pesantren akhlak dan hattat, telah dirambah api permusuhan itu. Sebagian dari para ahli tulis kitab berada dalam asuhan Imran dan Zakaria. Mereka adalah ahli takwa, kelompok yang menjaga diri dari politik wali Romawi. Sementara itu, kelompok tablig menyibukkan diri untuk ikut campur ke dalam politik Romawi untuk menjaga keselamatan Baitul Maqdis. Bahkan, mereka tega menandatangani peraturan pemungutan pajak yang sangat membebani warga, sesuatu 98yang ditentang Imran dan Zakaria. Demi mendapat simpati politik dari Romawi, para pengikut kelompok tabligh setuju dengan penerapan pajak karena mereka tidak terkena aturan itu. Perbedaan seperti inilah yang kian hari meruncing. Apalagi, kondisi kesejahteraan masyarakat al-Quds semakin menurun. Tingkat kemiskinan bertambah. Banyak orang sakit, kelaparan, dan hukum yang tidak adil untuk setiap warga. Sudah lama para pengasuh Baitul Maqdis tidak lagi mengindahkan syariat Nabi Musa demi ekonomi dan politik. Sepuluh ajaran tauhid yang diperintah Nabi Musa sudah lama ditinggalkan. Bahkan, mereka telah jauh tersesat dengan mengumpulkan emas dan harta dalam pemotongan hewan kurban dan persembahan. “Dunia bersama dengan politik dan harta kekayaannya harus berada di bawah kendali bangsa Yahudi,” kata mereka. Sejatinya, yang ada dalam pikiran mereka hanya harta dan keselamatan pribadi. Imran telah mengatakan, “Tidak dibenarkan bergabung dengan orang zalim bersama dengan kezalimannya.” Namun, mereka malah berbuat sebaliknya. Mereka semakin asyik terjun ke dalam dunia politik dan menjalin hubungan dengan Romawi dengan alasan masa depan Baitul Maqdis. Tak heran jika mereka mendapatkan status khusus sebagai kasta paling tinggi dengan menjadi pemimpin agama di tempat peribadatan dan dibebaskan dari berbagi tanggungan dan beban. 99Orang-orang yang menghuni tempat peribadatan sebenarnya hanya berkuasa dalam lingkup yang sempit. Karena itulah mereka menerima pemerintahan Romawi karena menjanjikan status khusus di masyarakat, meski harus dengan mengorbankan banyak kepentingan rakyat dan bertentangan dengan ajaran tauhid. Siatuasi ini membuat Mosye selalu tampil memanfaatkan keadaan dengan menyinggung masalah “perubahan zaman”; suatu masa ketika orang-orang fakir, pengangguran, dan wanita diusir dari tempat ibadah. Tidak hanya itu! Dengan dukungan wali Romawi, tempat ibadah juga diawasi para penjaga keamanan untuk mengusir sekelompok orang berpakaian lusuh model lama jauh di luar kota. Rupanya, mereka kerap menentang kebijakan para pengasuh tempat ibadah. Seiring dengan semakin banyak warga miskin yang meminta-minta di pintu gerbang Baitul Maqdis pada setiap Jumat, wali juga memerintahkan pemberhentian bantuan kepada mereka. Tertutup sudah pintu Baitul Maqdis bagi warga. Sayangnya, para pengasuh Baitul Maqdis juga tidak juga bicara barang sepatah kata. Desas-desus gunjingan lain menyangkut Hanna dan al- Isya. Tujuan sebenarnya untuk mematahkan kekuatan suami mereka. Gunjingan pun menyebar seolah-olah Imran dan Nabi Zakaria telah memberi hukuman kepada Hanna dan al-Isya. Atas semua kejadian inilah Hanna mengungkapkan isi hatinya kepada pohon-pohon zaitun yang ada di kebun halaman belakang rumahnya. Akhirnya, ia pun mendengar suara Merzangus yang mendekatinya. “Dengan siapakah Anda berbicara?” “Oh, kamukah Merzangus?” 100“Apakah pohon-pohon zaitun ini bisa mendengar Anda bicara?” “Tentu saja. Allah yang menciptakan pohon-pohon zatun ini, yang telah menciptakan Gunung Tur, dan juga seluruh penduduk Palestina pastilah mendengar suaraku.” “Mengapa Anda begitu sedih?” “Oh tidak... tidak ada apa-apa, anak kecilku.” “Anda adalah seorang wanita yang mulia, Ibunda Hanna. Anda menjamu setiap tamu yang datang mengetuk pintu, menafkahi anak yatim dan fakir-miskin, hormat kepada para alim, dan juga selalu menunaikan kewajiban kepada sanak-keluarga serta tetangga. Semoga Allah berkenan menghilangkan kepenatan di dalam hati Anda, mengabulkan segala doa yang dipanjatkan kepada-Nya.” “Ah, anak kecilku yang manis! Sungguh baik sekali perkataanmu!” “Saya sering membaca suhuf Nabi Idris bersama dengan Kakek Zahter pada malam-malam hari saat saya tidak bisa tertidur di tengah-tengah perjalanan di padang pasir. Dalam suhuf itu dijelaskan tentang para hamba yang terpilih. Mereka adalah para hamba yang cerdas, sederhana, namun kaya akan ilmu dan hikmah. Dan Anda dengan seizin Allah adalah salah satu dari mereka. Mohon Anda jangan terus bersedih!” “Apakah kamu bisa baca tulis Merzangus?” “Tentu saja. Saya bisa membaca dan juga menulis. Sedikit tahu geometri dan juga astronomi.” “Ah, Merzangus putriku! Sudah dua tahun para pemuka agama melarang wanita membaca kitab. Jangan sampai ada orang lain yang tahu kalau kamu bisa membaca dan menulis!” 101“Tapi, semua ini adalah hal yang sangat bodoh! Lucu! Mengapa wanita tidak boleh membaca kitab?” “Panjang sekali sejarahnya. Sudahlah, lupakan saja. Meski sebenarnya aku dan juga adikku, al-Isya, yang sedikit banyak telah menjadi penyebab larangan ini. Sudahlah…. ” “Bisakah begitu...? Memangnya apa yang telah Anda perbuat sehingga wanita sampai dilarang membaca kitab?” “Pada saat wali Romawi memberi perintah untuk didirikan patung Caesar di sebelah pintu selatan Baitul Maqdis di arah Damaskus, pada hari pendirian patung itu para wanita Palestina telah berkumpul di tempat yang akan didirikan patung untuk serempak membaca Taurat bab Puji-pujian Lautan’. Saat itu, para tentara mengusir paksa kami semua. Tapi, mungkinkah kami akan menuruti mereka untuk diam? Puji-pujian yang telah dibaca oleh Maryam, kakak perempuan Nabi Musa saat keluar dari Mesir, telah memberikan semangat kepada kami kaum wanita. Saat itu, Nabi Musa memukulkan tongkat dengan tangan kanannya sehingga terbuka jalan di tengah-tengah lautan untuk para hamba yang terzalimi. Kemudian, Firaun dan bala tentaranya mengejar dari belakang, sampai akhirnya mereka tenggelam ditelan lautan. Bisakah, kamu renungi bahwa kezaliman orang-orang Romawi sama dengan kisah ini? Karena itulah kami teguh membacanya dengan khusyuk. Sampai mereka pun mengecap aku dan juga al-Isya sebagai pemimpin kelompok penentang, pembuat kerusuhan.” Riang-gembira wajah Merzangus mendengarkan kisah sekelompok wanita yang berani menentang itu. Saat itulah ia mulai dengan keras melantunkan puji-pujian “Syair Lautan”. Tuhan telah menghantamkan kuda dan hewan tunggangan lainnya pada lautan, 102Pada hari itu Ia telah menyelamatkan Bani Israil dari tangan Firaun. Dan Allah adalah Zat Yang Mahaperkasa dari para hamba yang sombong, Sehingga kuda dan hewan tunggangan lainya dihantamkan pada lautan. Duhai Allah, Engkau Zat Yang Mahaagung dan Mulia, Perangilah orang-orang yang melawan-Mu, tunjukkanlah murka-Mu atas mereka... Hapuskanlah para zalim layaknya abu jerami yang lenyap terhempas angin, Pada hari itu air yang cair mengalir dipaksa tegak seperti dinding, Membeku dalam kedalaman hati lautan, Musuh berkata “Akan aku ikuti” Namun engkau mengembuskan angin sehingga lautan pun menyapu mereka! Lautan telah menyelimuti mereka! Riang hati Hanna dan Merzangus. Keduanya saling berpelukan. Hanna pun mengecup rambut Merzangus seraya berkata, “Bait puji-pujian inilah yang kami baca bersama-sama dengan sekelompok wanita. Dan sang wali telah mengecap kami sebagai pembangkang.” Saat itu keduanya kembali tertegun. “Awalnya, mereka mengumumkan bahwa pintu timur Baitul Maqdis akan ditutup sebagai hukuman. Tentu saja semua orang kaget. Kemudian, beberapa guru pesantren yang diketuai Mosye mencapai kesepakatan dengan sang wali. Entah apa yang telah mereka sepakati? Namun, di malam itulah semuanya mulai terjadi. Kaum wanita dihukum sebagai 103kelompok terlaknat, penentang. Mosye telah berkata kepada sang wali, Semua ini terjadi tanpa sepengetahuan kami. Mohon kami dimaafkan.’ Sang wali pun mengampuni dengan syarat kaum wanita dilarang masuk ke dalam masjid sebagai ganti penutupan pintu timur.” “Ah...,” kata Hanna melanjutkan. “Dan setelah itu kembali ada larangan bagi wanita untuk belajar dan pergi ke masjid. Bahkan, mereka mendatangi semua rumah satu per satu untuk mengambil semua buku yang ada. Sejak saat itulah kaum wanita Palestina dilarang untuk membaca dan menulis. Sekolah kaum wanita yang ada di Baitul Maqdis juga ditutup sejak saat itu. Bahkan, kami dilarang untuk sekadar menaiki tangga depan masjid. Jika engkau bertanya mengapa’ kepada para guru di Baitul Maqdis, mereka akan menjawab dengan berkata semuanya berada di bawah tanggungan mereka. Dan demi keselamatan al-Quds, kami pun diwajibkan diam dan tunduk.’ Padahal, kami adalah kaum yang telah berjanji untuk tidak tunduk kepada selain Allah. -o0o- 10411. Hnna Mengndng Kini hati Hanna yakin sudah bahwa dirinya telah mengandung. Benar-benar mengandung. Berisi. Benar-benar diberi amanah, Mengandung seorang bayi. Semua ini ternyata tidak seperti yang dipikirkan sebelumnya bahwa masa suburnya telah tiada. Ia pun berdoa dengan dengan ribuan pujian dan harapan kepada Tuhannya penuh dengan kekhusyukan. “Ya Rabbi! Jadikanlah bayi ini sebagai orang yang benar- benar merdeka, merdeka untuk hanya aku persembahkan kepada-Mu! Kabulkanlah doaku. Sungguh, Engkau adalah Zat Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” Demikian doa Hanna meluapkan rasa syukur dan senangnya. Wajahnya kembali cerah, kedua tangannya gemetar penuh kegembiraan. Ia kembali terbayang masa-masa muda yang penuh dengan energi. Berlarilah dirinya ke segenap ruangan. Terbang bagaikan kupu-kupu. Segera ia gandeng tangan Merzangus untuk diajaknya berlari memberi kabar ke saudara perempuannya, al-Isya. Ia pun meluapkan kegembiraannya begitu mendengar 105berita itu. Bersama meluapkan kebahagian dan rasa syukur yang seketika mengubah suasana menjadi seperti hari raya. Terguyur hati mereka dalam hujan kebahagiaan. Sebagaimana adat penduduk Palestina pada umumnya saat dalam suasana bahagia, halaman depan pintu rumah diguyur dengan air segar. Tak lupa bersedekah berpiring-piring buah zaitun kepada para peminta-minta serta aneka macam makanan dan minuman kepada para mufasir. Aneka bunga-bungaan pun digantung di jendela rumah. Setiba di rumah, bagaimanakah dirinya akan memberi tahu kabar gembira ini kepada suaminya? Al-Isya mulai sibuk memasak berbagai macam makanan untuk merayakan kabar gembira yang akan diberitahukannya kepada sang suami. Sementara itu, Merzangus sibuk merias tangan Hanna dengan tinta inai dan menyisiri rambutnya dengan minyak asir. Sepanjang hari, orang-orang berkumpul untuk melantunkan dan mendengarkan puji-pujian di rerimbunan kebun zaitun. Mendapati suasana yang seperti itu, pepohonan zaitun yang telah lama menjadi sahabat sejati Hanna seolah-olah ikut bersuka cita dengan mengembuskan angin sepoi-sepoi. Semilir udara terasa.... Seolah-olah semua makhluk bergoyang satu sama lain ikut meluapkan kegembiraan. Langit dengan bumi, mentari dengan puncak gunung saat terbit, dedaunan dengan sesamanya, sayap burung-burung yang satu dengan yang lain. 106Seakan-akan seisi alam raya kembali hidup dengan titah Zat Yang Maha Menghidupkan telah bermandikan luapan cinta dan kegembiraan di halaman kebun rumah Hanna. “Apa?” tanya Imran. Ia berhenti meneguk sirup seraya meletakkan gelasnya di atas meja dengan keras. Batangan es yang memenuhi gelas pun terkoyak hampir tumpah. Berdetak kencang jantungnya. Tersentak hatinya mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan istrinya. Seisi rumah pun ikut guncang.... “Apa? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan?” “Aku bilang bahwa aku sudah mengorbankan bayi yang masih berada di dalam kandungan ini kepada Allah!” “Bukankah kamu sendiri sangat tahu apa yang dimaksud dengan mengorbankan anak untuk Allah, Hanna! Kamu adalah saudara perempuan, keturunan Harun. Dan kamu juga tahu dari apa yang telah ia ajarkan bahwa hanya anak laki-laki yang bisa dikorbankan kepada Allah. Lalu, dari mana kamu tahu kalau bayi yang ada dalam kandunganmu itu akan lahir laki-laki?” “Allah Maha Mendengar apa yang kita niatkan. Aku selalu berdoa agar lahir bayi laki-laki untuk aku korbankan di jalan- Nya.” “Ah, Hanna! Tidaklah baik tawar-menawar dengan Tuhan! Seharusnya kita memohon apa yang terbaik dari-Nya!” “Kamu memang selau begitu wahai Imran saudara Harun! Selalu saja kamu bicara keras kepadaku. Selalu saja kamu menganggap diriku sebagai orang yang yang salah dan kurang. Selalu saja bicaramu bernada membentak, menyalahkan.” 107Hanna pun menangis. Imran pun gemetar, takut telah berbuat yang melampui batas kepada Allah. Di samping itu, ia juga merasa sedih dengan perasaan penuh salah karena telah melukai hati istrinya yang telah bepuluh-puluh tahun merindukan seorang anak. Ia hanya mondar-mandir tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia memerhatikan berbagai macam makanan yang telah dihidangkan di meja, kemudian sesekali melihat ke arah istrinya yang telah berias sedemikian rupa namun kini sedang menangis pilu. Entah, siapa yang tahu seperti apa riang gembira hati sang istri karena menunggu kedatangan suaminya untuk memberi tahu berita gembira. Pedih ia melihat semua yang telah dilakukan. “Sungguhkah kata-kata itu terlalu keras?” Bagaimana kalau hati sang istri yang telah berpuluh-puluh tahun merindukan anak kini menjadi patah? Namun, bukankah ia harus lebih bersabar karena telah berjanji kepada Allah? Terdiam Imran untuk beberapa lama tanpa tahu apa yang harus dilakukan. “Janganlah engkau menangis, wahai istriku!” kata Imran seraya membelai rambut istrinya. Memerhatikan keadaan yang kurang mengenakkan, al- Isya segera mengajak Merzangus pergi. Membiarkan kedua suami-istri adalah hal yang terbaik dalam saat-saat seperti ini. “Ada apa dengan semua ini?” tanya Merzangus dalam kerdipan mata tak mengerti. Mengapa semua orang tidak bahagia? 108“Sungguh, Allah adalah Zat yang tak pernah habis dengan rahmat. Ia pasti akan mencintai dan melimpahkan rahmat- Nya kepada para hamba yang jujur dan bertakwa. Karena itu, janganlah kamu bersedih hati, wahai putriku. Sungguh, Imran dan Hanna adalah orang yang jujur dan bertakwa. Semoga Allah berkenan melimpahkan rahmat kepada mereka dan juga kita,” jawab al-Isya. -o0o- 10912. Susna Hti Imrn Remuk serasa hati Imran saat itu. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, berita suci yang ia dengar adalah istrinya mengandung bayi! “Segalanya datang silih berganti. Mungkin inikah penyebab gundah hati yang aku rasakan?” demikian pikirnya. Kegundahan yang susah dipilah, sesusah dua bangsa yang saling bercerai oleh tekanan politik Romawi. Belum lagi perpisahan dengan Nabi Zakaria karena desas-desus yang berkembang belakangan. Hatinya juga merintih pedih berharap dikarunia seorang anak. Namun, hal ini sekali pun tidak pernah ia ceritakan, baik kepada istrinya maupun kepada yang lain. Di samping itu, semua isyarat tertuju kepada Hanna dan al-Isya, orang-orang yang mandul karena terlaknat’. Dalam keadaan seperti ini, berita soal Hanna yang sedang mengandung sesungguhnya adalah hadiah agung dari Yang Maha Pengasih. Sungguh, hati Imran telah koyak seperti bulu-bulu domba yang disamak menjadi benang. Terlintaslah kata-kata Zahter beberapa saat sebelum wafat, “Teruslah bertawakal kepada 110Allah. Sungguh telah dekat kedatangan berita gembira’ tentang sang pembawa kabar gembira’.” Atau jangan-jangan? Jangan-jangan bayi yang akan lahir ini adalah...? Atau, jangan-jangan, kehamilan dan kata-kata istrinya untuk mengorbankan sang bayi kepada Allah adalah tanda semakin dekat kedatangan “sang utusan”, “pembawa berita gembira”? Namun, menurut Imran, pemikiran itu hanya kondisi psikologis seseorang yang berada dalam tekanan karena sedang menantikan kedatangan seorang penyelamat. Lintasan ini kembali ia pertanyakan kepada dirinya sendiri. “Kerusakan segala tatanan di al-Quds, para perampok yang merajalela, dan sepuluh perintah Tuhan yang telah hilang telah membawamu pada pemikiran yang seperti ini, wahai Imran. Engkau pun seperti seorang ibu yang sudah renta dan mulai mengharapkan kedatangan seorang penyelamat.” Keadaan setiap orang yang berada dalam keputusasaan, kegagalan, kepenatan, porak-poranda, tatanan yang dijajah orang-orang bengis. Sebelumnya, ia akan berdiam diri dan kemudian mulai mengharapkan kedatangan seorang penyelamat dari langit. “Mungkinkah keadaan seperti ini juga?” kata Imran dalam hati. Demikian ia mulai berusaha menegakkan kembali pilar-pilar keteguhan jiwanya. Sebagai seorang yang bertawakal, bukan tugasnya untuk menantikan kedatangan seorang penyelamat, melainkan meneguhkan 111kembali penghambaannya dengan berupaya mulai menyelamatkan diri, keluarga, dan kerabat terdekatnya. Ia paham akan hal ini dan juga mengerti bahwa makna dan nilai kehidupan akan dilihat dari ikatan penghambaan seorang manusia. Saat dirinya mencoba membungkam desas-desus yang selalu berbisik, semangat yang meluap-luap dalam sebuah penantian di dalam jiwanya tak ia bisa mungkiri. “Berita gembira akan kelahiran seorang bayi,” katanya dalam suara lirih. “Kedatangan berita akan menjadi seorang ayah’ di saat usianya sudah lanjut,” katanya mencoba menenangkan diri dari gejolak di dalam jiwanya. Berjalan dan terus berjalan mengitari ruangan saat semua ini terlintas di dalam pikiran Imram. “Ah...,” katanya. “Hanna, engkau terlalu tergesa-gesa!” Bahkan, Hanna telah juga mengundang para dukun bayi terkenal dengan sebutan “tujuh dukun bayi al-Quds” ke rumahnya. Ia juga memberi tahu kepada mereka tentang kehamilannya. Bahkan, mereka juga membenarkan kehamilan itu setelah diperiksa. Tidak luput dari doa, pujia-pujian, dan membakar tembakau daun zaitun sebagai perayaan kegembiraan. Sebagai adat, setiap anak yang dikorbankan untuk Allah, nama panggilannya akan diberitahukan kepada Baitul Maqdis lewat “para dukun bayi”. 112Hanya saja, adat yang berlaku selama ini adalah untuk anak laki-laki. Jika seorang bayi laki-laki terlahir dan seorang ibu ingin mengorbankannya kepada Allah, dukun bayi yang memotong tali pusarnya akan mendaftarkan namanya kepada Baitul Maqdis. Sementara itu, anak perempuan tidak bisa dikorbankan. Setiap anak yang dikorbankan untuk mengabdi di masjid akan mendapatkan pembinaan disiplin dan penempaan isik yang sangat berat. Karena itu, anak-anak perempuan diyakini tidak akan kuat karena secara isik sangat lemah. “Ahh...,” kata Imran. “Istriku, sungguh dirimu terlalu tergesa-gesa! Apa jadinya kalau yang lahir bukan bayi laki- laki? Apa yang akan dikatakan para pemuka Baitul Maqdis yang selama ini telah bersepakat melawan kita? Pastilah hal ini hanya akan mengundang kebencian baru. Apalagi, selama ini mereka memang mencari-cari alasan untuk merendahkan martabat kita.” -o0o- 11313. Susna Hti Hnna Hanna mengurung diri di dalam kamar yang lain untuk beberapa lama. Bayi yang ada dalam kandungannya tidak lain tidak bukan adalah anugerah dari Allah. Bayi yang lahir pada usiannya yang sudah begitu senja tentu harus dikorbankan di jalan-Nya... Bukankah ini adalah pengungkapan rasa syukur yang terdalam bagi seorang hamba yang selama berpuluh-puluh tahun merindukan seorang anak? Bukankah pengungkapan syukur yang sebenarnya, pemujaan yang sesungguhnya, persembahan yang paling mulia, adalah bayi yang ada di dalam kandungannya? Lebih dari itu, tidakkah hal itu semestinya akan membuat bahagia suaminya yang setiap kali mengingatkan bahwa “engkau telah menjadi budak perasaan untuk meminta?” Jadi, meski selalu memohon, ia juga akan mengembalikan bayi ini kepada Allah. Allah Mahatahu. Sepanjang hidupnya, Hanna hampir selalu berdoa untuk dikaruniai seorang anak. Pada saat inilah Hanna akan mendapati “ujian meminta” untuk mengorbankan “apa yang diinginkan” di jalan yang sesuai dengan keinginan- Nya. 114“Segala puji aku haturkan kepada-Mu, wahai Tuhan yang menjadi tempat meminta segala permintaan. Puji syukur aku haturkan kepada-Mu yang telah mengabulkan apa yang aku minta selama berpuluh-puluh tahun ini. Kini, aku pun ingin mengorbankan “apa yang sangat aku inginkan itu” ke jalan- Mu. Mohon berkenan Engkau kabulkan pengorbananku ini!” Tidak ada nikmat kemuliaan di dunia ini yang setimpa, seimbang, dan seberat keinginannya untuk memiliki seorang anak. Menjadi seorang ibu jauh lebih ia inginkan daripada semua kenikmatan dunia yang lainnya. Namun, sebagaimana akhlak setiap hamba yang bertakwa, ia juga kadang merasa takut dengan dirinya sendiri. Takut karena terlalu menginginkan sesuatu. Keinginannya yang kuat untuk menjadi seorang ibu telah melekat, mengikat segala sendi kehidupan. Padahal, bagi seorang hamba yang mengharapkan rida Allah, setiap jenis kecanduan, keterikatan, dan keinginan masing-masing adalah penghalang dalam penghambaan kepada Allah. Padahal, bukankah seharusnya setiap hamba memangkas segala bentuk keterikatan, keinginan, dan kecenderungan dari selain kepada-Nya untuk dapat mencapai kedekatan kepada Allah? Hanna merasakan bahwa segala bentuk keinginan, kecenderungan, dan kedekatannya kepada dunia ibarat rantai yang melilit, menjerat dirinya. Sungguh benar juga apa yang dikatakan sang suaminya. Ia hampir terpenjara, terlilit erat oleh keinginannya yang kuat untuk memiliki seorang anak. Padahal, di antara dirinya dengan Allah telah terjadi perjanjian tauhid. Sebuah keterikatan yang tidak bisa dicapai dengan hasrat dan keinginan, tapi dengan kesadaran, yaitu penghambaan. Sebuah keterikatan yang juga merupakan 115deklarasi untuk meninggalkan segala bentuk keterikatan dan hasrat duniawi lainnya. Sebuah perjanjian penghambaan. Dan pengorbanannya ini adalah untuk memangkas segala rantai- rantai pengikat dunia, untuk menjadi hamba yang merdeka, untuk membebaskan ruhnya dari segala jeratan. Mengorbankannya akan menjadikan dirinya sebagai hamba yang merdeka dari keinginan yang menjeratnya. Dengan demikian, ia korbankan juga kepada Allah bayi yang menjadi satu-satunya keinginannya di dunia. “Duhai Rabbi, terimalah persembahanku,” katanya sembari bersujud. Pengorbanannya ini telah membuatnya merdeka, menjadi hamba yang semakin mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini, satu-satunya orang yang paling bisa memahaminya adalah Nabi Zakaria suami adiknya. Bukankah dia sendiri yang telah menjadi perawat para kurban pesembahan kepada Allah di Baitul Maqdis? Bukankah dia yang memegang kunci-kunci Betlehem? Bukankah dari Nabi Zakaria pula ia mendengarkan pemahaman ajaran akan pengorbanan? “Bukanlah daging,darah,maupun tulang-tulangkurbanmu yang akan mendekatkanmu kepada Allah, melainkan kesadaranmu untuk menghamba, untuk rida kepada-Nya.” Bukankah demikian yang dikatakan Nabi Zakaria? 116Berkurban merupakan wujud rasa syukur kepada yang dipersembahkan, ungkapan terima kasih terbaik kepada Zat Yang Maha Memberi. Oleh karena itulah… oh, oh…. Tidak! Memang tidak mungkin Hanna bersikap pelit. Tidak mungkin pula ia hitung- hitungan, tawar-menawar dalam hal ini. “Ya Rabbi, aku berkurban kepada-Mu dengan apa yang terbaik yang ada pada diriku, dengan berkurban bayi yang akan terlahir dari kandunganku untuk mengabdi di jalan-Mu.” -o0o- 11714. elairn Marym “Tidak mungkin mendapati dua kebahagiaan dalam waktu yang bersamaan, dua musim semi yang datang silih berganti,” demikian dikatakan para wanita Palestina pada masa lalu. Saat sedikit saja bahagia, selanjutnya akan datang kesedihan sebagai ujian. Oleh karena itu, mereka takut tertawa lepas dengan menunjukkan gigi. Mereka juga paham bahwa setiap tangisan akan diiringi kedatangan senyuman. Demikianlah pola kehidupan orang-orang di Palestina. Begitu pula kehidupan seorang Hanna. Sampai sudah di bulan ketujuh kehamilannya. Tubuhnya makin kepayahan. Menjadi seorang ibu di usia yang sudah menginjak senja membuatnya sampai tidak dapat keluar rumah. Untung saja ada Merzangus dan al-Isya. Keduanya selalu membantu dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-harinya. Bahkan, mereka tidak membiarkan Hanna menyentuh air dingin. Keduanya juga telah melakukan berbagai persiapan menjelang kelahiran. Merajut dan memintal benang adalah adat penduduk Palestina. Berbagai macam pakaian untuk 118sang bayi yang akan lahir pun tersedia. Setelah lahir sampai dapat duduk dan berdiri dengan lancar, anak akan tinggal bersama Hanna. Setelah itu, seabagaimana anak-anak lain yang telah dikurbankan, ia akan diserahkan kepada Baitul Maqdis. Setelah tinggal di sana sampai di usia dewasa, ia akan memutuskan sendiri untuk memilih tinggal bersama keluarganya atau tidak akan kembali lagi untuk melanjutkan mengabdi sambil belajar. Merzangus selalu memilih warna biru. Ia membuat sarung tangan bayi, penutup kepala, dan popok serbabiru, seraya mulai menghitung hari kelahiran. Merzangus juga menggambar bintang-bintang di langit dengan satu bintang paling besar dan bercahaya. “Lihat, bintang ini adalah kamu!” katanya nanti kepada sang bayi yang akan lahir. Sementara itu, al-Isya meminta dibuatkan buaian dari kayu kepada suaminya, Nabi Zakaria, untuk sang kemenakan yang akan segera lahir. Semua orang sibuk… semua orang gembira dalam penantian. Tiba-tiba berita duka membuat Hanna terpuruk. Teman hidupnya, tiang rumah tangga, pintu, sandaran, dan penopangnya, Imran sang suami, wafat. Suatu hari, wajah Merzangus terlihat begitu pucat. Ia berlari kencang dari pasar untuk segera menuju rumah. Sesampai di rumah, setelah terdiam untuk beberapa lama menatap Hanna yang sedang berdiri tepat di pintu rumah, ia langsung jatuh pingsan. 119“Hah, Merzangus pingsan!” Hanna pun segera pergi ke dapur untuk mengambil air dingin. Ia ingin membasuh muka anak itu agar segera siuman. Namun, baru sampai di pintu rumah dengan gayung berisi air, ia melihat rombongan dengan kereta kuda. Ham, Sam, Yafes, ketiga darwis sahabat Zahter, telah membawa jenazah Imran dengan membaringkannya di atas kereta kuda. “Demi Allah, katakan apa yang telah terjadi? Imran selama ini tidak pernah tidur di waktu siang hari. Dan lagi, mengapa dia dibawa dengan kereta kuda ini? Mengapa para darwis ini turun dari Bukit Zaitun meninggalkan tempat uzlahnya? Dan lagi mengapa Zakaria ikut datang juga? Apa yang telah terjadi dengan semua ini? Mengapa dia tampak pucat menundukkan wajah? Al-Isya juga mengenakan pakaian serbahitam? Mengapa... mengapa? Apa yang sebenarnya telah terjadi!?” Semua pertanyaan dan kekhawatiran terus membanjiri, seolah-olah seisi kota al-Quds mengguyur isi pikirannya. Mengapa orang-orang berduyun-duyun datang ke sini? Mengapa para tetua juga ikut berkumpul di rumahnya? Jangan… jangan, mereka jangan ke sini! Biarlah mereka pergi meninggalkan rumah ini… biar Imran kembali bangkit dari atas kereta kuda. Biar Imran tidak mati. Biar Imran menjadi seorang ayah...! “Ah, Imran saudara Harun! Kehidupanmu selalu begitu. Telah datang perintah dari Zat Yang Mahakuasa sehingga engkau pun pergi tanpa memberi tahu siapa saja sebelumnya. Ah, Imran saudara Harun! Engkau pergi tanpa melihat anakmu, tanpa membelai dan mencintai anakmu. Pergi sejauh-jauhnya ke tempat yang telah dituliskan.” 120Demikianlah keadaan Hanna. Ia terus bicara tanpa sadar mana yang sungguhan dan mana yang igauan. Genap lima belas hari ia terbaring dalam suhu badan yang sangat tinggi tepat setelah mendengar berita kematian suaminya. Pudar sudah suasana di dalam rumahnya. Tirai kain berwarna abu- abu menutupi seluruh ruangan. Gelap, menghitam sudah awan di atas taman zaitunnya. Pohon-pohon pun ikut menangis dalam kepedihannya. Dalam keadaan seperti itu, Hanna terus bersedih karena khawatir kehilangan buah hati yang masih berada di dalam kandungannya. Tujuh dukun bayi yang sebelumnya memeriksa kandungannya dan mendapati sang bayi dalam keadaan sehat kini telah terselimuti perasaan khawatir. Mereka takut sang bayi tidak bergerak dan berhenti bernapas karena ikut merasakan kepedihan. Tidak ada tanda-tanda janin bergerak di dalam kandungan Hanna. Lebih dari satu jam. Belum juga lahir ke dunia, sang bayi sudah tak punya seorang ayah yang akan menopang kehidupannya. Belum juga lahir, sang bayi sudah bersandar pada dinding tak berayah yang begitu dingin dan membuatnya menggigil. Setelah sepuluh hari, Hanna kemudian bangkit dari kesedihan. Bangkit dari rasa pedih yang membuatnya sangat terkejut atas kepergian sang suami. Pada malam hari menjelang pagi, jeritan terdengar memecah telinga. Darah mengucur deras. Merzangus dan al-Isya yang tidur di samping Hanna segera bangun untuk mencari kain guna menghentikan pendarahan. Namun, seluruh upaya yang mereka lakukan sia-sia. Darah mengucur dengan begitu deras. 121Merzangus segera berlari memanggil salah satu dari tujuh dukun bayi yang paling dekat rumahnya. Langsung saja ia ketuk pintu yang seolah-olah dengan kepalan tangan. Saat pintu terbuka dengan keras, seorang nenek bernama Murver menghampiri. Nenek yang sudah lanjut usia dan bungkuk jalannya itu pun segera mengambil alat sebisa yang ia bawa. Keduanya berjalan dengan cepat menembus keheningan malam, kencang menuju rumah Hanna. Saat itulah mereka melihat rumah itu memancarkan cahaya. Setiap tempat gelap gulita, jalan-jalan setapak, gang-gang, bahkan daerah di sekitar permukiman terang benderang. Padahal, mentari masih lama terbit. Namun, cahaya terang yang terpancar dari rumah Hanna laksana mentari yang baru saja terbit. Nenek Murver pun mengangkat pandangannya ke arah langit. “Allah adalah wakil kita!” katanya seraya terus berjalan masuk ke dalam rumah. “Atas izin Allah, telah lahir bayi perempuan. Semoga Allah menjadikanya sebagai anak mulia!” kata Murver seraya membalut bayi yang baru lahir dengan kain. Saat Hanna sedang dalam suasana yang begitu perih, kepedihannya semakin menjadi saat mendengar bayi yang dilahirkannya adalah perempuan. Sebelumnya, ia telah berniat mengorbankan anaknya kepada Allah sehingga berharap yang lahir adalah anak laki-laki. “Ah! Ya Rabbi!” jeritnya pedih. Teringatlah apa yang dikatakan oleh Imran kepadanya. “Ya Rabbi! Sungguh, Engkau telah melahirkannya sebagai bayi perempuan saat diriku menantikannya sebagai bayi laki- laki.” 122Sementara itu, al-Isya yang menunggu di ruangan tempat kelahiran menimpali dengan berkata, “Puji dan syukur kita haturkan kepada Allah yang telah melahirkannya. Pasti Dia mengetahui apa yang seharusnya terjadi. Coba lihat, betapa cantik bayimu. Lihatlah, pasti kamu tidak akan mau lagi berpisah darinya.” Menangis Hanna sembari mendekap bayi yang baru saja dilahirkannya. Allah pasti Maha Mengetahui. Pasti Dia tahu bahwa bayi ini akan dikurbankan. Meski demikian, “Perempuan tidaklah seperti laki-laki. Ia lebih lemah secara isik. Tentulah ia tidak akan bisa mengabdi di masjid sekuat kaum laki-laki,” kata Hanna dalam hati seraya terus memikirkan apa yang akan terjadi. Dirinya telah salah mengira. Memang benar bayinya perempuan. Dan memang, perempuan tidak sama dengan laki-laki. Namun, bayi perempuan ini akan melakukan kebaikan yang tidak dapat dilakukan kaum laki-laki. Hanna belum mengetahui hal itu. Seandainya saja yang lahir adalah bayi laki-laki, pasti ia tidak akan mampu mengabdi sebagaimana jika yang terlahir perempuan. Hanna tidak tahu semua itu.... Hanna juga belum tahu kalau Zat Yang Maha Mencipta telah menghendaki bayi perempuan. Bayi yang baru saja lahir itu akan menjadi seorang ibu yang sangat penyabar, tabah, dan penuh keteguhan. Seorang ibu yang akan melahirkan seorang putra bernama Isa yang akan menyeru kepada seluruh dunia dengan ajarannnya. Seolah-olah ribuan lilin serempak dinyalakan dan ruangan menjadi begitu terang. Tidak hanya itu, harum semerbak wewangian juga tercium begitu memesona oleh setiap orang 123yang ada. Jelas tercium wangi bunga mawar segar, melati, mint, cengkih, dan oregano. Kening sang bayi juga begitu terang memancar laksana permata. Ia tersipu dengan senyuman maknawi yang mengembuskan ketenangan penuh makna. Begitu lain dibanding bayi pada umumnya. Merzangus juga terpana memerhatikan wajah mungil bayi yang akan menjadi teman dekatnya. Ia perhatikan bayi itu seolah-olah tersenyum dengan sisih waja yang kanan dan menangis pada sisi wajah yang kiri secara bersamaan. Mungil kedua tangannya, bergerak-gerak mencoba menggapai udara kosong yang ada di atasnya. Hanna berusaha mengumpulkan seluruh tenaganya untuk duduk bersandar di pembatas ranjang. “Ya Rabbi! Aku beri nama bayi ini Maryam. Aku berharap Engkau berkenan melindunginya dan keturunannya dari setan yang telah dihardik!” katanya. Hati Merzangus terasa begitu berdebar. Maryam adalah nama paling baik untuk diberikan kepada seorang bayi. Maryam bermakna seorang hamba yang tekun beribadah, tekun menghamba kepada Allah, dan juga berarti seorang perempuan yang begitu rajin bekerja. Maryam juga nama kakak perempuan Nabi Musa. Ibundanya yang bernama Hani telah mengutus Maryam agar Musa yang masih bayi dialirkan pada sungai dengan sebuah peti kayu. Sepanjang sungai ia mengikuti laju adiknya. Dengan penuh kehati-hatian, ia mengikutinya. Dan memang, ia adalah seorang yang cerdas dan cekatan. Begitu mendapati aliran peti kayu yang berisi bayi adiknya melaju ke kolam istana Firaun, segera Maryam bersembunyi di balik semak- semak. Kemudian, ia mendapati istri Firaun yang bernama 124Asiyah begitu bahagia mendapati bayi adiknya. Bahkan, ia juga mendengar Asiyah memang menginginkan seorang ibu untuk menyusui bayi yang didapatkannya. Tidak hanya itu, Maryam juga telah menjadi perantara agar ibundanya dapat datang ke istana untuk menyusui adiknya dengan air susu ibundanya sendiri. Demikianlah seorang Maryam. Ia begitu cerdik, cekatan, rajin, cerdas, pemberani, dan suka berkorban. Inilah silsilah Maryam ayahandanya bernama Imran, putra Masan, putra Yasyham, putra Amun, putra Minsya, putra Hazkiya, putra Ahaz, putra Yusam, putra Azriya, putra Yawsy, putra Ahzihu, putra Yaram, putra Yah Afas, putra Asa, putra Abya, putra Rahba’am, putra Sulaiman , putra Daud ... Ketika masih dalam kandungan, Maryam adalah seorang yang telah dipanjatkan doa kepada Allah agar terlindungi dari kejahatan setan. Dan benar, para alim pada masa-masa kemudian telah menjadi saksi kalau Maryam adalah seorang yang terlindungi dari setan dan kenistaan. Para alim di masa setelahnya pun telah membubuhkan catatannya demikian “Tidak ada satu bayi pun yang terlahir di dunia ini tanpa disentuh oleh setan. Karena disentuh setan, setiap bayi menangis. Namun, Maryam dan putranya Isa adalah terkecuali.” Bagaimanakah garis takdir seorang bayi? Bagaimana Tuhan menetapkan garis takdir pada seorang bayi yang diciptakan dari setetes air yang kemudian dibentuk 125menjadi embrio, dibentuk lagi dengan kerangka, daging, dan otot-otot sehinga menjadi bentuk yang sempurna? Tentu saja ini pertanyaan yang berat. Para alim yang lain juga menuliskan tentang sosok Maryam yang tidak tersentuh oleh setan sebagai berikut. “Ketika seorang bayi masih berada di dalam kandungan, malaikat bertanya kepada Allah untuk ditulis seperti apa garis takdirnya? Allah memerintahkan malaikat melihat ke arah kening ibundanya. Malaikat pun memerhatikan kening ibundanya yang terdapat catatan dan tampak bercahaya. Dari catatan itulah bentuk rupa sang anak di masa mendatang, ajal, kebahagiaan, dan kesedihan yang akan dialaminya terlihat satu per satu. Saat itulah malaikat meminta malaikat yang lain mencatat apa yang telah dilihatnya. Pada catatan itu pula malaikat membubuhkan tanda bahwa catatan tersebut dengan seizin dan perintah Allah dapat diubah di waktu kemudian. Setelah itu, hasil catatannya distempel dan ditempelkan di kening di antara kedua mata sang bayi. Saat bayi dilahirkan ke dunia dari rahim ibundanya, ada malaikat bernama Zajir yang mendekapnya. Dekapan itulah yang membuat setiap bayi menangis saat dilahirkan.”* Ada satu kalimat kunci tentang Maryam dan garis takdir yang telah ditetapkan kepadanya, yaitu “ia telah dikurbankan”. 126Ya, Maryam telah dikurbankan. “Kurban, nazar” sebenarnya janji untuk melakukan sesuatu padahal tidak diwajibkan kepadanya. Kalimat kunci kedua tentang Hanna dan Maryam adalah “mereka menjadi sosok merdeka”. Kata “merdeka” sangat lekat pada diri Maryam. Hal ini menunjukkan bahwa ia merdeka dari tipu daya dan nafsu dunia sepanjang kehidupannya. Kata “muharraran” yang berarti merdeka, diputusnya jeratan tali yang membelenggu yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang menjadi budak. Jika masdarnya “tahrir”, berarti juga menuliskan, membubuhkan ke dalam kitab. Karena itulah Maryam adalah sebuah kitab yang lahir dari ibundanya. Terbebas Maryam dari semua jeratan. Saat belum dilahirkan ke dunia, ayahandanya telah tiada. Saat setelah kelahirannya pun ia mendapati ibundanya yang telah sakit. Satu pekan setelah kelahiran, pendarahan yang dialami Hanna semakin menjadi. Saat itulah, ketika al-Isya sedang kembali ke rumahnya untuk mencuci pakaian, Hanna mengambil kesempatan untuk memanggil Merzangus ke sampingnya. “Datanglah kemari wahai anakku yang baik!” “Ibundaku, Hanna! Bagaiamana keadaanmu hari ini, semakin membaikkah?” “Wahai anakku yang manis! Kamu kini telah menjadi anak yang lebih dewasa. Maryam juga nanti akan memanggilmu kakak. Sekarang, aku mau bicara sesuatu, tapi kamu jangan merasa takut!” “Ada apa, Ibunda?” “Kini, kamu sudah lebih dewasa, sudah menjadi kakak!” 127“Ibunda Hanna! Mengapa Anda bicara begitu? Kita akan bersama-sama membesarkan bayinya. Kalau Ibunda bicara seperti itu, tentu saja saya merasa sangat takut.” “Tidak ada yang perlu ditakuti, wahai anakku yang manis! Kemarin malam aku bermimpi bertemu dengan Imran, Merzangus. Aku sangat merindukannya sehingga aku pun berlari menemuinya. Mengapa kamu tidak lagi mengunjungi rumah kita,’ tanyaku kepadanya. Ia pun menjawab, Setelah amanahnya kamu serahkan, justru akulah yang menunggumu untuk datang ke sini besok malam.’ Kemudian, ia memanggilku dengan suara keras, Wahai saudara perempuan Harun,’ katanya sembari menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa. Jangan sampai lupa menyerahkan amanahnya,’ katanya mengulangi lagi pesannya.” “Baiklah, Ibunda Hanna. Jangan bunda paksakan. Kita tunggu al-Isya datang. Ia yang lebih tahu tabir mimpi ini. Semoga baik apa yang akan terjadi.” “Merzangus, jangan berpura-pura tidak tahu. Aku sudah lagi tak bertenaga. Tidak ada lagi waktu yang tersisa. Aku tidak bisa menunggu sampai al-Isya datang. Tolong bantu aku untuk bersandar. Tolong juga selimuti Maryam, kita berangkat ke masjid sekarang!” “Tapi, sama sekali tidak ada kain selimut. Al-Isya sudah membawa semuanya untuk dicuci. Sekarang Maryam hanya mengenakan kain tipis di buaian. Kita tidak bisa membawanya keluar tanpa selimut.” “Ambil saja baju jubahku di sana. Selimuti bayinya dengannya!” Meski telah berusaha keras menghalang-halangi, Hanna tetap kukuh untuk melakukan sesuatu. Dengan bayi yang 128diselimuti jubah dan tubuh yang sempoyongan, Hanna membawa Maryam ke masjid dalam dekapannya. Sesekali Hanna terpaksa harus beristirahat untuk beberapa lama... dan sesekali pula ia memberikan bayinya kepada Merzangus... Sementara itu, pendarahan yang dialami Hanna kian menjadi. Seakan-akan jalanan dari rumah hingga ke masjid dipenuhi darah. Tidak tersisa lagi tenaganya. Ia pun lemas bersandar pada sebuah tangga masjid. Para penjaga masjid pun berlari menujunya. Mereka berteriak-teriak keras. Beberapa orang lainnya membunyikan terompet dengan keras. Mereka melarang wanita memasuki masjid. Karena gaduh, para pengasuh pun berdatangan. Mereka tercengang melihat Hanna yang bersimbah darah membawa bayi yang diselimuti jubahnya. Hanna dan Merzangus pun lebih tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi. Dengan sedikit tenaga yang masih tersisa, Hanna memegang bayinya seraya berkata, “Bayi ini telah aku kurbankan kepada Tuhan untuk menjadi anak yang merdeka, terbebas dari segala belenggu dan jeratan dunia. Namanya Maryam,” katanya, dan kemudian jatuh tersungkur seketika. Imran dan istrinya, Hanna, wafat silih berganti. Al-Quds pun guncang mendapati berita berkabung ini. “Anak adalah rahasia sang ayah,” demikian kata para leluhur. Demikian pula dengan Maryam. Karena ayahandanya orang yang mulia, para pangasuh masjid pun langsung menerimanya dengan penuh hormat. Kini, sudah tiada lagi yang tersisa selain bayi berselimut jubah yang telah diserahkan kepada masjid agar kenangan dari Imran tetap hidup. Seorang bayi dari keturunan Bani Masan yang bernama Maryam. 129Dialah bayi yang ayah maupun ibundanya keturunan Nabi Harun dan kini terbaring sendiri, ditinggalkan di atas tangga menuju masjid. Sang ibunda telah menyerahkan bayinya untuk dibimbing dalam ketaatan beribadah, belajar. Ayahandanya adalah Imran bin Masan, seorang alim yang paling terkemuka sehingga semua orang pun berebut untuk dapat menjadi wali asuhnya. Bahkan, beberapa orang yang telah dengan sembunyi- sembunyi menentang Imran saat dirinya masih hidup ikut saling berebut untuk dapat menjadi wali asuhnya. Iya, mereka tahu, siapa yang mengasuh bayi ini akan mendapati kemuliaan dan kehormatan, bahkan sejak sebelum dilahirkan . Demikianlah, Allah dengan kuasa-Nya telah menjadikan hati mereka cenderung mengasihi dan menyayangi seorang bayi bernama Maryam. Sama keadaannya dengan kisah Nabi Musa yang mendapati perlindungan di dalam istana, yang bahkan seorang Firaun pun cenderung mengasihinya. Begitulah kuasa Allah. Seorang yang berhati baja sekali pun dapat tiba-tiba menjadi lembut sehingga sang bayi dapat bertakhta di dalam hatinya.... -o0o- 130ha15. Pengsuh Marym Pada saat Maryam diserahkan, di Baitul Maqdis sudah ada empat ribu anak yang sama seperti dirinya. Mereka semua diserahkan untuk mengabdi di jalan Allah. Seluruhnya laki- laki. Setelah mulai dapat bicara, mereka diserahkan untuk disertakan dalam pendidikan di masjid. Ini berbeda dengan Maryam. Selain wanita, ia masih seorang bayi yang baru dilahirkan. Dirinya butuh wali untuk mengasuhnya sebelum dapat memulai pelajaran dan pendidikan di masjid. Pada saat itulah Nabi Zakaria berbicara dengan tegas. “Diriku menikah dengan bibi bayi yang telah dikurbankan ini. Oleh karena itu, dirikulah yang berhak menjadi walinya,” katanya dengan suara lantang sembari menuruni tangga di pintu masuk Baitul Maqdis. Namun, ketika Nabi Zakaria hendak mengangkat sang bayi, tiba-tiba ada seorang dari salah satu guru telah menghalang- halanginya dengan bersuara lantang pula. “Kami juga ingin menjadi wali asuh bayi mulia yang telah dikurbankan di jalan Allah ini. Anda tidak bisa mengasuhnya begitu saja! Kita harus adakan undian sehingga semua orang akan rela dengan hasilnya!” 132Ketika terdengar seruan untuk berbuat kebaikan yang seperti ini, semua guru juru tulis langsung beramai-ramai berebut untuk ikut melemparkan pena mereka ke dalam sungai. Barang siapa yang penanya tidak tenggelam, dirinyalah yang akan berhak menjadi orangtua asuh Maryam. Demikianlah adatnya... Mereka pun semua mengumpulkan pena kayu kepada seorang santri yang belum balig yang juga telah dikurbankan di jalan Allah. Dengan iringan doa dan puji-pujian, semua pena yang terkumpul akan dibawa ke pinggir sungai Yordan untuk diundi. Satu, dua, tiga, empat, lima.... Genap empat puluh pena. Dan keempat puluh pena itu menginginkan menjadi orangtua asuh Maryam… menginginkan untuk menjadi walinya. Sungguh, inilah kuasa Ilahi. Semua orang berlomba menerima kehadiran Maryam. Kedua mata Merzangus pun berkaca-kaca saat menyaksikannya. Kuasa Zat yang telah membolak-balikkan hati sehingga yang tadinya keras membatu kini menjadi lembut, berbalik menyayangi Maryam. Demikianlah, perlombaan untuk menyayangi Maryam terjadi di pinggir sungai Yordan. “Oh... sungai,” kata Merzangus. “Sungguh engkau seperti garis takdir yang membedakan antara yang benar dan yang salah, serigala dan domba.... Entah siapa yang tahu telah berapa banyak kejadian yang telah engkau saksikan hingga saat ini? Berapa banyak yang telah engkau telan ke dalam banjir aliran airmu? Berapa banyak yang engkau belai dengan embus angin sejuk menyegarkan dari permukaan airmu sehingga mereka pun mendapatkan kedamaian, kenyamanan, meski tidak ada pula yang tahu 133entah berapa orang yang engkau tenggelamkan hingga ke dasar aliranmu?” Oh sungai...! Sungai yang berambut panjang! “Oh sungai! Engkaulah yang telah menggenggam perintah Allah sehingga taat untuk meluap maupun menyurut, taat untuk menenggelamkan maupun mengangkat sesuatu, dan taat pula untuk memilih pena para juru tulis itu?” Jika Maryam yang masih bayi diberikan kepada al-Isya, bukankah memang dirinya yang paling tepat dan paling mulia untuk mengasuhnya? Namun, mengapa mereka yang menghardik dan menyakiti kedua orangtua Maryam saat masih hidup kini berbalik merasa memiliki hak untuk mengasuhnya? Mungkinkah hal ini terjadi? Benar, semua ini sedang terjadi. Namun, Merzangus seakan masih belum mampu mencernanya. Memahami penerimaan semua orang kepada Maryam yang akan menjadi kesaksian penting dalam kehidupannya kelak di masa mendatang. Perlombaan untuk menjadi orangtua asuh menandakan bahwa “mereka menerima Maryam sebagai bayi yang baik.” 134Tibalah saatnya untuk melempar pena ke dalam sungai. Semua pena tenggelam, kecuali satu. Tiga puluh sembilan pena tenggelam ke dasar sungai, kecuali satu. Dan pena itu atas kehendak Allah adalah milik Nabi Zakaria. Merzangus langsung dapat mengenali pena itu. Pena berhias bintik- bintik pada permukaannya. Ia pun luap dalam kegembiraan, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, melantunkan doa dan puji-pujian sembari berlari-lari kegirangan. Memang, seharusnya Maryam diasuh al-Isya, bibinya. Dengan undian itu, setiap orang pun tidak akan lagi protes. Semua orang harus rela karena undian telah diadakan dengan adil di muka umum. -o0o- Setelah melewatkan hari-hari yang pedih, kehidupan baru Maryam mulai disusun. Al-Isya dan Merzangus mendidik Maryam penuh dengan kasih sayang. Demikian pula dengan Nabi Zakaria. Ia mengasuh Maryam seperti anak kandung sendiri hingga Maryam dapat berbicara, duduk, berdiri, dan dapat mengerjakan semua kebutuhan diri sendiri. Selang waktu yang terus berjalan, semua anggota keluarga menyadari bahwa waktu untuk menyerahkan Maryam ke masjid sebagai anak yang telah dikurbankan telah tiba. Mereka mengasuh Maryam sampai menginjak usia enam tahun. Maryam adalah anak yang jauh lebih cerdas, peka, dan perhatian dibanding anak-anak sebayanya. Daya hafalnya juga sangat kuat. Begitu mampu berbicara, ia langsung mengenal 135kehidupan belajar bersama dengan Nabi Zakaria. Selain Merzangus, al-Isya dan Zakaria adalah dua orang yang selalu melindungi Maryam. Karena itu, saat menyerahkan Maryam ke masjid, mereka meminta pengurus masjid membuatkan satu ruangan khusus untuk Maryam. Selesai sudah waktu belajar di tahap pertama bersama dengan sang bibi, al-Isya. Tibalah waktu bagi Maryam untuk melanjutkan pendidikan pengabdian di masjid. Bibinya tentu merasa berat melepasnya. Saat sang suami memberi tahu waktu itu sudah tiba, al-Isya tidak kuasa menahan tangis. Bagi sang bibi, Maryam adalah kenangan terindah yang telah ditinggalkan mendiang kakaknya. Ia ibarat angin yang selalu berembus membawa ingatan kepada kakaknya. Udara yang berembus memberikan kesegaran mengenai masa lalunya. Dialah lilin yang masih tetap menyala dari keluarga Fakuza, darah yang masih mengalirkan keturunannya, musim semi yang menghidupkan ruangan sepi dengan memberi keindahan dengan warna-warni bunga. Demikian pula dengan Merzangus. Ia telah berjanji mengabdi, menopang, dan melindungi Maryam sampai mati. Janjinya ini semakin lama semakin dipahami dengan begitu mendalam saat merenungi bagaimana cendekiawan Zahter membawanya ke al-Quds sebagai seorang yatim. Sebuah perjalanan yang membawa pesan bahwa Maryam adalah tanda pertama kedatangan berita gembira yang telah dijanjikan. Maryam harus dilindungi, dijaga. Jika ia bukan seorang anak yang telah dikurbankan, pasti Merzangus dan juga al-Isya akan selalu melindungi dan tidak akan pernah mengizinkannya keluar dari rumahnya. -o0o- 13616. Ibi Sraj, Sng Penklk Snga Saat al-Isya dan Nabi Zakaria sedang mendiskusikan waktu yang tepat untuk menyerahkan Maryam ke Baitul Maqdis, Merzangus menuntun adik kecilnya itu jalan-jalan ke alun- alun al-Quds. Tempat itu dipenuhi penduduk yang sedang melakukan aktivitas jual-beli. Merzangus ingin membelikan Maryam pita warna-warni untuk mengikat rambutnya. Tangan Maryam pun dipegang erat-erat sambil menyusup dalam keramaian. Bising teriakan para penjual terdengar keras saat memasarkan barang dagangan, seperti cermin, sisir, dan perlengkapan kecantikan lain. Merzangus melihat gelang kaki yang terbuat dari batu berwarna biru laut yang sangat disukainya. Namun, karena harganya tidak cocok, ia pun tidak jadi untuk membelinya. Ia berpindah dari toko kain ke toko alat-alat tulis. Merzangus dan Maryam asyik melihat-lihat buku tulis, botol tinta, tempat pena, dan peralatan tulis lain. Saat itulah ada seorang pedagang dari Persia memerhatikan Merzangus ketika memilih-milih tempat pena. Pedagang itu pun berseloroh kepadanya. “Memang kamu bisa baca tulis?” 137Merzangus segera menurunkan cadarnya karena sadar dirinya sudah cukup dewasa. Merzangus bersama dengan Maryam pun segera meninggalkan toko alat tulis itu. Pada masa itu, kaum wanita masih dilarang membaca dan menulis. Tak heran jika dirinya sebisa mungkin merahasiakan kemampuannya dalam membaca dan menulis. Maryam, sebagaimana biasanya, sangat tidak suka keramaian. Keresahan menyelimuti dirinya karena berada di tengah-tengah keramaian. Keningnya dipenuhi keringat. Wajahnya memandangi Merzangus yang memengangi tangannya dengan erat seolah-olah ingin berkata, Ayo segera pergi dari sini’. Tidak lama kemudian, Merzangus pun memutuskan beranjak meninggalkan pasar. Namun, begitu keluar dari gerbang pasar, Merzangus berbelok arah untuk menghampiri kerumunan yang di dalamnya terdengar lantang ke udara auman singa. Meski ada yang berteriak ketakutan, sebagian tetap bersorak kegirangan. Sementara itu, hampir semua wanita terlihat takut. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Saat sedikit mendekati keramaian itu, Merzangus dan Maryam melihat seorang bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam sedang berdiri tegak. Ia berseru kepada kerumunan orang dari tengah-tengah lapangan. Dari pakaian yang dikenakannya, tampak jelas orang itu berasal dari kalangan bangsawan. Saat memerhatikan cemeti yang dipegangnya, dengan dua singa besar berada dalam kandang serta tiga ekor ular besar melingkar di dalam tembikar, orang itu pasti berasal dari daerah Magribi. Merzangus segera menarik Maryam untuk segera beranjak dari pertunjukan sirkus yang dipenuhi orang-orang. 138Namun, Maryam justru menarik tangannya agar tetap berada di pinggir keramaian untuk menonton pertunjukan. Maryam memang dikenal sangat menyayangi hewan. Bahkan, ia sering mengajak bicara kucing-kucing dan burung piaraan saudara sepupunya. Maryam juga sering terlihat bercakap-cakap dengan keledai milik Nabi Zakaria yang bernama Kaukas. Belum lagi dengan anjing dan kucing-kucing di jalanan. Maryam begitu perhatian dengan menunjukkan kasih sayangnya kepada mereka. Saat itu, tampak pawang hewan mengenakan kerudung kepala yang terbuat dari satin berwarna biru. Terselip pula bunga mawar berwarna merah di dekat telinga sebelah kanan. Ia berjalan mondar-mandir untuk menarik perhatian pengunjung dengan melecutkan cemetinya sembari membacakan puisi dengan suara lantang. Mungkinkah orang ini keturunan pengembara nomaden yang datang dari daerah sangat jauh? Saat memerhatikan kedua singa yang berlarian karena cambukan cemeti sang pawang, tanpa sadar cadar penutup muka Merzangus sedikit terbuka. Saat itulah pawang itu berbicara kepada Merzangus dengan bahasa Arab yang begitu fasih. “Wahai wanita mulia, takutkah Anda?” tanyanya. Merzangus pun menjawabnya dengan bahasa Arab yang sama fasih. 139“Tidak. Aku tidak takut. Aku hanya kasihan kepada kedua singa itu karena perlakuan Anda ini!” Mendapati jawaban dari Merzangus, sang pawang dari Magribi itu malah tersenyum riang seraya kembali bicara dengan suara lebih lantang. “Oh, Anda bisa bahasa Arab dengan begitu fasih!” Merzangus kemudian tersadar. Ia lupa kalau dirinya sedang berada di tengah-tengah Pasar Farisi. Para penjaga pasar ternyata mendengar pembicaraan mereka. “Hai kalian berdua...!” seru seorang penjaga pasar kepada Merzangus dan pawang dari Magribi itu sambil menunjukkan tongkat kayunya. “Siapa kalian berdua ini!? Dari mana asal kalian? Bahasa apa yang baru saja kalian ucapkan?” Sang pawang Magribi itu segara mendekati petugas pasar itu. “Salam hormat saya haturkan kepada Anda. Mohon maaf sebelumnya. Saya adalah Muhsin Ibni Siraj, seorang pawang pengembara yang datang ke al-Quds dari Tarablus. Ini adalah dua singa peliharaanku bernama Layl dan Syams, sementara ketiga ular ini bernama Lam, Tam, dan Syam.” Ibni Siraj lalu mengeluarkan kipas berujung bulu burung merak dari dalam lipatan jubahnya seraya melambaikannya dengan menunduk untuk kembali memberi salam penghormatan kepadanya. Merzangus pun segera membenahi cadarnya sehingga penjaga pasar itu sama sekali tidak mengenalinya. “Engkau! Wahai wanita! Tuntunlah putrimu dan segera tinggalkan tempat ini. Dan engkau, wahai pawang! Kumpulkan kedua singa dan ular peliharaanmu. Engkau harus aku bawa 140ke kantor kependudukan di Baitul Maqdis untuk diperiksa mengenai izin tinggal di kota ini,” kata penjaga pasar itu dengan suara tegas. Dengan penuh kekhawatiran, Merzangus langsung mendekap Maryam seraya membawanya pergi. Sesampai di rumah, al-Isya tampak sedang menyiapkan pakaian dan perbekalan Maryam dengan wajah begitu sedih dan mata yang basah. Malam itu, Maryam akan diserahkan ke Baitul Maqdis. Merzangus juga terlihat terguncang. Semua orang sebenarnya tahu bahwa hal ini pasti datang. Begitu pula dengan Nabi Zakaria. Meski hatinya pedih, ia mencoba bicara untuk menguatkan perasaan semua orang bahwa tidak ada hal yang perlu dirisaukan. Ia yakin Allah adalah sebaik-baik Zat yang akan melindungi Maryam, termasuk dirinya dan juga yang lain. “Engkau adalah saudara Nabi Daud wahai Zakaria! Bukankah engkau tahu bahwa orang-orang yang selama ini memusuhi kita bermukim di dalam Baitul Maqdis? Apakah al-Quds masih seperti yang dulu sehingga kita berani memercayakannya kepada para rahib di sana? Bukankah kita semua tahu bahwa mereka tidak lain tangan kanan penguasa Romawi? Mungkinkah kita akan memercayai mereka sebagai ayah dan juga ibu baginya?” tanya al-Isya dengan nada sedih. “Ah, istriku! Bersabarlah! Di sana juga banyak orang yang mencintai Maryam. Janganlah engkau khawatir!” jawab Nabi Zakaria. Di antara semua orang, hanya Maryam yang tetap tersenyum. Dirinya tampak tegar dan berserah diri kepada 141
maryam bunda suci sang nabi pdf