Omgring anugraha acarya ya namah swaha, Om gring anugraha manohara ya namah swaha. Bunga tadi disuntingkan pada destar (udeng). 5. Selanjutnya Pemangku melakukan panca sembah terlebih dahulu. a. Sembah puyung : Om atma tatwatma sudamam swaha. b. Serana sekar ke Surya : Surya astawa / sesontengan. 29 Dapat memelihara kebersihan salah satu ruangan di rumah, sekolah dan tempat ibadah atau tempat lainnya. 30. Dapat melakukan Senam Pramuka. 31. Dapat menunjukan bahan-bahan makanan yang bernilai gizi. 32. Dapat memelihara sedikitnya satu macam tanaman berguna, atau satu jenis binatang ternak, selama kira-kira 2 bulan. Mantra/doa hindu sehari-hari yang meliputi puja Tri Sandya, Gayatri, Panca Sembah, doa hari raya, dan banyak lainnya. - Kidung untuk berbagai acara. - Berbagai artikel mengenai hari raya rerainan Hindu. - Bhagawad Gita bahasa Indonesia. - Sarasamuscaya bahasa Indonesia. - Kumpulan Cerita Bhagawad Gita untuk Anak dan Pemula bahasa Indonesia. SetelahPuja Tri Sandya dilanjutkan dengan Panca Sembah. Setelah Panca Sembah dilanjutkan dengan nunas tirta dan bija. Acara dilanjutkan dengan "ngider caru" dilaksanakan oleh peserta didik Paket B dan C. upacara mecaru mengelilingi gedung SKB sebanyak 3 kali. Sedangkankita sebagai umat Hindu secara umum, minimal yang mesti kita ketahui adalah mantra Gayatri, Tri Sandya dan Panca Sembah. Walaupun kadang kala susah untuk menghapal, mantram Gayatri harus kita ketahui dan makna yang terkandung di dalamnya. Apagunanya kita mengucapkan mantra dengan khusuk tetapi tidak tahu makna apa yang terkandung di Vay Tiền Nhanh Chỉ Cáș§n Cmnd Nợ Xáș„u. Om Swastyastu, sebelumnya saya sudah pernah menulis tentang Pengertian Trimurti dalam Hindu, kali ini saya akan kembali mencoba menulis tentang Agama Hindu yaitu mengenai Mantram Puja Tri Sandya yang sudah biasa kita laksanakan selama ini. Tri Sandya berasal dari dua suku kata yaitu Tri dan Sandya. Tri artinya tiga dan Sandya artinya sembahyang oleh karena itu Tri Sandya dilaksanakan tiga kali dalam sehari yaitu pada pagi hari pukul tepatnya menjelang matahari terbit. Yang kedua pada siang hari pukul pada saat bumi menerima panas matahari tepat di atas kepala. Yang ketiga dilaksanakan pada sore hari pukul menjelang matahari tenggelam. Biasanya dalam persembahyangan ada perlengkapan seperti Dupa dan bunga untuk Kramaning Sembah setelah selesai Tri sandya. Dalam melaksanakan Tri Sandya tersebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum memulai mengucapkan mantram Puja Tri Sandya secara lengkap dengan 6 baitnya. Ada tiga sikap yang harus kita laksanakan yaitu Asana saat itu kita harus menucapkan mantra berikut Om Padamasanaya Namah Swaha dan Om Prasada Sthiti Sarira Siwa Suci Nirmalaya Namah Swaha. Setelah itu sikap Pranayama mengucapkan mantra atau simbol dari Trimurti sambil mengatur nafas. Pertama ucapkan dalam hati Om Ang Namah sambi menari nafas, kemudian ucapkan Om Ung Namah taham nafas kemudian ucapkan Om Mang Namah dan hembuskan nafas. Setelah itu sikap Karasodana yaitu tangan sudah menyatu di depan uluati, saat sikap ini ucapkan mantram berikut, Om Suddha Mam swaha tangan kanan berada di atas, kemudian lanjutkan dengan mantram Om Ati Suddha Mam Swaha dan tangan kiri berada di atas. Setelah itu baru lanjutkan dengan Mantram Puja Tri Sandya dengan sikap tangan jempol tangan kiri dan tangan kanan menyatu. Berikut adalah Mantram Puja Tri Sandya lengkap dari bait satu sampai dengan baik ke-6. Bait I Om bhĂčr bhuvah svah tat savitur varenyam bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayĂ t Bait II Om NĂ rĂ yana evedam sarvam yad bhĂčtam yac ca bhavyam niskalanko nirañjano nirvikalpo nirĂ khyĂ tah suddo deva eko NĂ rĂ yano na dvitĂŹyo'sti kascit Bait III Om tvam sivah tvam mahĂ devah ĂŹsvarah paramesvarah brahmĂ  visnusca rudrasca purusah parikĂŹrtitah Bait IV Om pĂ po’ham pĂ pakarmĂ ham pĂ pĂ tmĂ  pĂ pasambhavah trĂ hi mĂ m pundarikĂ ksa sabĂ hyĂ bhyĂ ntarah sucih Bait V Om ksamasva mĂ m mahĂ deva sarvaprĂ ni hitankara mĂ m moca sarva pĂ pebyah pĂ layasva sadĂ  siva Bait VI Om ksĂ ntavyah kĂ yiko dosah ksĂ ntavyo vĂ ciko mama ksĂ ntavyo mĂ naso dosah tat pramĂ dĂ t ksamasva mĂ m Om Santih, Santih, Santih, Om Setelah selesai mengucapkan mantram Puja Trisandya maka dilanjutkan dengan muspa Kramaning Sembah dengan memakai sarana bunga bermacam warna atau kwangen jika ada yang terdiri dari lima bagian yaitu. Sebelum memulai muspa Kramaning Sembah biasanya sarana untuk muspa disucikan dahulu dengan mantra berikut Om Puspa Dantaya Namah Swaha, setelah itu baru lanjutkan dengan Kramaning sembah sebagai berikut. Pertama Muspa Puyung atau tanpa sarana cukup dengan mencakupkan kedua tangan di atas kepala dengan mengucapkan mantram berikut Om Atma Tattwatma Suda Mam Swaha. Kedua Muspa dengan bunga warna putih ditujukan kepada Dewa Surya dengan mantram sebagai berikut, Om Aditisya Paramjoti, Rakta Teja Namo Stute, Sweta Pangkaja Madiasta, Baskaraya Namo Stute. Ketiga muspa dengan bunga warna -warni atau jika ada pakai kwangen ditujukan kepada Ista Dewata atau paling sering ditujukan kepada Dewa Siwa dengan mantram sebagai berikut, Om Nama Dewa Adistanaya, Sarwa Wyapi Wai Siwaya, Padmasana Ekapratistaya, Ardanareswariyai Namo Namah. Keempat muspa dengan bunga warna-warni atau bisa juga dengan kwangen ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai pemberi keselamatanm kesejahteraan dan pemberi anugerahm mantramnya adalah sebagai berikut, Om Anugraha Manohara, Dewa Data Nugrahaka, Arcanam Sarwa Pujanam, Namah Sarwa Nugrahaka, Dewa Dewi Mahasidi, Yajnanga Nirmalatmaka, Laksmi Sidisca Digahayuh, Nirwigna Suka Werdisca. Kelima kembali muspa puyung atau tanpa sarana mantramnya adalah sebagai barikut, Om Dewa Suksma Paramacintya Ya Namah Swaha. Setelah selesai melaksanakan Puja Trisandya dan Kramaninf sembah maka dilanjtkan dengan Nunas Tirta dan Bija. Nunas Tirta ini bertujuan untuk menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita, sambil dipercikannya Tirta ucpakan mantram berikut, Om Ang Brahmma Amertha Ya Namah, Om Ung Wisnu Amertha Ya Namah, Om Mang Iswara Amertha Ya Namah. Setelah itu minum Tirta tiga kali sambil bermantra berikut dalam hati, Om Sarira Paripurna Ya Namah, Om Ang Ung Mang Sarira Suddha Pramatya Ya Namah, Om Ang Ung Mang Samo Sampurna Ya Namah. Setelah itu usapkan Tirta pada muka atau rambut dengan mantra berikut, Om Siwa Sampurna Ya Namah, Om Sadasiwa Paripurna Ya Namah, Om Paramasiwa Ya Namah. Setelah itu baru nunas Bija dan ucapkan mantra berikut dalam hati saja, Om Purnam Bhawantu, Om Ksama Sampurna Ya Namah. Setelah semau selesai maka mantram terakhir sebelum meninggalkan tempat Tri Sandya adalah mantram Parama santhi yaitu Om Santhi, santhi, Santhi Om. Setelah selesai sembahyang maka jangan lupa pungut sisa-sisa sarana sembahyang tadi seperti sisa dupa, bunga dan Kwangen kemudian buang ditempat sampah, supaya tidak mengotori areal pura dan tidak mengganggu orang lain ketika akan sembahyang di tempat yang sama, semoga bermanfaat, Om Santhi, santhi, Santhi Om. Foto oleh Artem Beliaikin dari Pexels/ KABARPORTAL Mantra Kramaning Sembah atau Panca Sembah diucapkan setelah melaksanakan puja Tri Sandya. Sarana persembahyangan yang pada umumnya digunakan umat Hindu meliputi Bunga, Dupa dan Air Suci Tirtha. Urutan-uruta panca sembah, baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama adalah seperti dibawah ini 1. Sembah pertama tanpa bunga sembah puyung ucapkan mantra “Om Atma Tattvatma Soddha Mam Svaha” 2. Sembah ke dua yaitu Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sanghyang Aditya dengan sarana bunga ucapkan mantra “Om Adityasyaparam jyotih Rakta teja namo’stute Svetapangkaja madhyasthah Bhaskarayo namo’stute” 3. Sembah ketiga menyembah Sanghyang WIdhi Wasa sebagai Ista Dewata dengan Sara Kwangen atau Bunga. Ucapkan mantra “Om namo devaya adhistanaya Sarva vyapi vai sivaya Padmasana eka prathistaya Ardhanaresvarya namah svaha”. 4. Sembah ke empat Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai pemberih anugerah, dengan sarana kwangen atau bunga ucapkan mantra “Om nugrahaka manohara, Deva dattanugrahaka, Arcanam sarva pujanam, Namah sarvanugrahaka, Om Deva devi mahasiddhi yajnangga nirmalatmaka, Laksmi siddhisca dirgahayuh Nirvighna sukha vrddhisca”. 5. Sembah ke Lima, Sembah Tanpa Bunga Sembah Puyung ucapkan mantra “ Om Deva Suksme Paramacintya Namag Svaha” Setelah persembahyangan selesai Panca Sembah dilanjutkan dengan memohon Tirtha air suci dan Bija/ Wibhuti. Itulah urutan persembahyangan umat Hindu dengan Panca Sembah. *** ï»ż- Berikut ini bacaan Panca sembah mantra dupa dan bunga. Mantra panca sembah atau mantra kramaning sembah dibacakan setelah melakukan puja Tri Sandya. Umat Hindu melakukan persembahyangan dengan menggunakan sarana seperti Bunga, dupa, serta air suci ataua yang biasa disebut dengan Tirtha. Sebelum persembahyangan dimulai dengan menggunakan sarana bunga, ada bacaan doa atau mantra yang diucapkan, berikut ini doa untuk menyucikan bunga yang telah kami kutip dari Mutiara Hindu. Baca Juga Urutan Bacaan Mantra Panca Sembah dan Mantra Kramaning Sembah dalam Persembayangan Agama Hindu Bacaan Doa untuk menyucikan Bunga OM, PUSPADANTA YA NAMAH Arti Ya Tuhan, sucikanlah bunga ini Bacaan Mantra untuk Dupa OM, ANG DUPA DIPASTRA YA NAMAH ArtiYa Tuhan, hamba persembahkan dupa ini Mantra Kramaning Sembah atau Panca Sembah Dikutip dari Mantra Panca sembah atau Kramaning sembah merupakan bacaan yang dibacakan setelah melakukan Puja Pitara. Hal yang harus dilakukan sebelum melakukan tradisi puja pitara ialah dengan melakukan permohonan tirtha suci bagi seluruh peserta yang hadir, hal ini juga dijelaskan dalam buku berjudul "Tradisi Cinandi di Banyuwangi" yang ditulis oleh Dr. Poniman dalam bukunya dijelaskan hal pertama yang dilakukan dalam ritual permohonan tirtha suci adalah tirtha penglukatan, yakni pensucian diri manusia dengan cara dipercikkan air oleh pemangku sebanyak tiga kali. Kemudian selanjutnya adalah pemangku melakukan memohon tirtha, selama itu juga peserta melantunkan kidung- kidung pengiring pemujaan. Adapaun kidung yang digunakan adalah, kidung pertama yakni Asmorondono bowo Dandanggulo kemudian dilanjutkan dengan kindung kinanti. Ketika tirtha telah berakhir dimohonkan, hal yang dilakukan berikutnya adalah melakukan sembah bhakti. Jika telah usai, ritual kembali dilanjutkan yakni melakukan karamaning sembah dengan memrcikkan titha wangsuhpada. Setelah mendapatkan tirtha wangsuhpada, barulah melakukan pengucapan mantra panca sembah secara bersama-sama yang dipimpin oleh Romo Mangku. Urutan Bacaan Mantra Panca Sembah 1. Sembah pertama tanpa bunga sembah puyung ucapkan mantra “Om Atma Tattvatma Soddha Mam Svaha” 2. Sembah ke dua yaitu Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sanghyang Aditya dengan sarana bunga ucapkan mantra MUTIARAHINDU - Mantra Kramaning Sembah atau Panca Sembah diucapkan setelah melaksanakan puja Tri Sandya. Di pura-pura pada umumnya, jika sembahyang bersama dengan pemangku dikatakan seperti ini "Umat Sedharma, Setelah puja Tri Sandya kita Lanjutkan dengan Kramaning Sembah atau Panca Sembah". Image; putupradnyaa Sembah pertama diawali dengan sembah muyung tanpa sarana, setelah itu dilanjutkan dengan sembah siwa aditya, dilanjutkan dengan, Ista Dewata, Mohon Anugera, dan diakhiri dengan Sembah Muyung tanpa sarana. ditutup dengan parama santi. Sebelum melaksanakan panca sembah ada beberapa hal yang harus diperhatikan yakni sebagai berikut Persiapan Sembahyang Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan bathin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan. Termasuk dalam persiapan lahir ialah sarana penujang sembahyang seperti pakiannya harus bersih dan rapi, bunga dan dupa, sedangkan persiapan bathin ialah ketenangan dan kesucian pikira. Langkah-langkah persiapan dan sarana prasarana sembahyang adalah sebagai berikut Asuci Laksana Pertama-tama orang membersihkan badan dengan mandi. Kebersihan badan dan kesejukan lahir mempengaruhi ketenangan hati. Pakaian Pakaian waktu sembahyang supaya diusahakan pakaian yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran. Pakaian yang ketat dan warna yang mencolok hendaknya dihindari. Pakaian harus disesuaikan dengan dresta kebiasaan setempat, supaya tidak menarik perhatian orang. Bunga atau Kwangen Bunga atau Kwangen adlaah lambang kesucian, suapay diusahakan bunga yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kwangen dapat diganti dengan bunga. Ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang. Menurut Agastyaparwa, bunga tersebut adalah Bunga yang berulat, bunga yang gugur tanpa digoncang, bunga-bunga yang berisi semut, bunga yang layu yaitu bunga yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh di kuburan. Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut dipersembahkan. Dupa Apinya dupa adalah symbol Sang Hyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Sanghyang Widhi, setiap yajna dan pemujaan tidak luput dari penggunaan api. Hendaknya ditaruh sedemikian rupah sehingga tidak membahayakan teman-teman di sebelah ketika sembahyang. Tempat Duduk Tempat duduk hendaknya diusahakan tidak mengganggu ketenangan untuk sembahyang. Arah duduk ialah menghadap pelinggih. Jika mungkin agar menggunakan alas duduk seperti tikar dan sebagainya. Sikap Duduk Sikap duduk dapat dipilih sesuai dengan tempat dan keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati. Sikap duduk yang baik untuk pria ialah sikap duduk bersila Padmasana, Silasana, Sidhasana dan badan tegak. Sikap duduk bagi wanita ialah Bajrasana yaitu sikap duduk bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki. Dengan ssikap ini badan menjadi tegak lurus, sikap ini sangat baik untuk menenangkan pikiran. Sikap Tangan Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah “Cakupan kara kalih” yaitu kedua telapak tangan dikatupkan dan diletakkan di atas di depan ubun-ubun. Bunga atau Kwangen dijepit pa ujung jari tengah. Setelah semuanya tersedia, maka dilanjutkan dengan Panca sembah atau Kramaning Sembah. Pada umumnya, persiapan di atas sudah disiapkan sebelum melaksanakan puja tri sandya, jadi langsung ajah masuk ke Panca sembah atau Kramaning Sembah. Adapun langkah-langkah Kramaning Sembah adalah sebagai berikut Urutan-urutan Sembah Urutan-uruta sembah, baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama adalah seperti dibawah ini, dengan catatan apabila dipimpin oleh Sulinggih atau Pinandita maka umat melafalkan mantra/mantra di dalam hati. Kramaning Sembah 1. Sembah pertama tanpa bunga sembah puyung ucapkan mantra “Om Atma Tattvatma Soddha Mam Svaha” Terjemahan “Om Atma atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba” Dana Dan Suratnaya, 2013 60-61. 2. Sembah ke dua yaitu Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagaiSanghyang Aditya dengan sarana bunga ucapkan mantra “Om Adityasyaparam jyotih Rakta teja namo’stute Svetapangkaja madhyasthah Bhaskarayo namo’stute” Terjemahan “Om Sanghyang Widhi Wasa, sinar Surya Yang Maha Hebat, Engkau bersinar merah, hormat padaMu, Engkau yang beradah ditengah-tengah teratai putih, hormat padaMu pembuat sinar” Dana Dan Suratnaya, 2013 61. 3. Sembah ketiga menyembah Sanghyang WIdhi Wasa sebagai Ista Dewata dengan Sara Kwangen atau Bunga. Ucapkan mantra “Om namo devaya adhistanaya Sarva vyapi vai sivaya Padmasana eka prathistaya Ardhanaresvarya namah svaha”. Terjemahan “Om Sanghyang Widhi Wasa, hormat kami kepada Dewa yang bersemayam di tempat utama kepada Siwa yang sesungguhnya berada di mana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tepat, kepada Ardhanaresvarya hamba menghormat” Dana Dan Suratnaya, 2013 62. 4. Sembah ke empat Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai pemberih anugerah, dengan sarana kwangen atau bunga ucapkan mantra “Om nugrahaka manohara, Deva dattanugrahaka, Arcanam sarva pujanam, Namah sarvanugrahaka, Om Deva devi mahasiddhi yajnangga nirmalatmaka, Laksmi siddhisca dirgahayuh Nirvighna sukha vrddhisca”. Terjemahan “Om Sanghyang Widhi Wasa,, engkau yang menarik hati, pemberih anugerah anugerah pemberian Dewa, pujaan dalam semua pujian, hormat padaMu pemberih semua anugerah. Kemahasidian Dewa dan Dewi, berwujud Yajna, pribadi suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, kegembiraan dan kemajuan” Dana Dan Suratnaya, 2013 63. 5. Sembah ke Lima, Sembah Tanpa Bunga Sembah Puyung ucapkan mantra “ Om Deva Suksme Paramacintya Namag Svaha” Terjemahan “Om Sanghyang Widhi Wasa, hormat pada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang maha gaib” Dana Dan Suratnaya, 2013 64. Setelah persembahyangan selesai Panca Sembah dilanjutkan dengan memohon Tirtha air suci dan Bija/ Wibhuti. Perlu diketahui bahwa Secara literal “Mantra” artinya “itu yang melindungi ketika direnungkan” Mantra Samhita, 2013 6. Chawdhi 2003 97 menjelaskan mantra adalah sebuah pola gabungan kata-kata bahasa Veda yang diindentikkan dengan dewa atau dewi tertentu. Mantra adalah sejumlah huruf, kata yang dijadikan satu. Di dalam buku Rahasia Yantra, Mantra dan Tantra Dr. L. R. Chawdhri, 2003 97 dijelaskan bahwa Mantra digunakan dalam sadhana Tantra atau berbagai ritual, diucapkan atau diulang-ulang dalam berbagai kombinasi dan konteks, yang kemudian membuat pola vibrasi tertentu. Seseorang juga dapat mencapai kesehatan yang baik, nasib baik dan kemenangan atas musuh dengan mengucapkan mantra tertentu. Pada umumnya, sebelum melakukan persembahyangan – baik dengan puja Trisandya maupun Panca Sembah – didahului dengan penyucian badan dan sarana persembahyangan. Urutannya sebagai berikut Duduk dengan tenang. Lakukan Pranayama dan setelah suasananya tenang ucapkan mantram ini Om prasada sthiti sarira siwa suci nirmalĂ ya namah swĂ ha Artinya Ya Tuhan, dalam wujud Hyang Siwa hambaMu telah duduk tenang, suci dan tiada noda. Kalau tersedia air, bersihkan tangan pakai air. Kalau tidak ada ambil bunga dan gosokkan pada kedua tangan. Lalu telapak tangan kanan ditengadahkan di atas tangan kiri dan ucapkan mantram Om suddha mĂ m swĂ ha Artinya Ya Tuhan, bersihkanlah tangan hamba bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kanan. Lalu, posisi tangan di balik. Kini tangan kiri ditengadahkan di atas tangan kanan dan ucapkan mantram Om ati suddha mĂ m swĂ ha Artinya Ya Tuhan, lebih dibersihkan lagi tangan hamba bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kiri. Kalau tersedia air maksudnya air dari rumah, bukan tirtha, lebih baik berkumur sambil mengucapkan mantram di dalam hati Om Ang waktra parisuddmĂ m swĂ ha atau lebih pendek Om waktra suddhaya namah Artinya Ya, Tuhan sucikanlah mulut hamba. Jika tersedia dupa, peganglah dupa yang sudah dinyalakan itu dengan sikap amusti, yakni tangan dicakupkan, kedua ibu jari menjepit pangkal dupa yang ditekan oleh telunjuk tangan kanan, dan ucapkan mantra Om Am dupa dipĂ straya nama swĂ ha Artinya Ya, Tuhan/Brahma tajamkanlah nyala dupa hamba sehingga sucilah sudah hamba seperti sinarMu. Setelah itu lakukanlah puja Trisandya. Jika memuja sendirian dan tidak hafal seluruh puja yang banyaknya enam bait itu, ucapkanlah mantram yang pertama saja Mantram Gayatri tetapi diulang sebanyak tiga kali. Mantram di bawah ini memakai ejaan sebenarnya, “v” dibaca mendekati “w”. Garis miring di atas huruf, dibaca lebih panjang. Permulaan mantram Om bisa diucapkan tiga kali, bisa juga sekali sebagaimana teks di bawah ini Mantram TrisandhyĂ  Om bhĂčr bhvah svah tat savitur varenyam bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayĂ t Om NĂ rĂ yana evedam sarvam yad bhĂčtam yac ca bhavyam niskalanko nirañjano nirvikalpo nirĂ khyĂ tah suddo deva eko NĂ rĂ yano na dvitĂŹyo’sti kascit Om tvam sivah tvam mahĂ devah ĂŹsvarah paramesvarah brahmĂ  visnusca rudrasca purusah parikĂŹrtitah Om pĂ po’ham pĂ pakarmĂ ham pĂ pĂ tmĂ  pĂ pasambhavah trĂ hi mĂ m pundarĂŹkĂ ksa sabĂ hyĂ bhyĂ ntarah sucih Om ksamasva mĂ m mahĂ deva sarvaprĂ ni hitankara mĂ m moca sarva pĂ pebyah pĂ layasva sadĂ  siva Om ksĂ ntavyah kĂ yiko dosah ksĂ ntavyo vĂ ciko mama ksĂ ntavyo mĂ naso dosah tat pramĂ dĂ t ksamasva mĂ m Om sĂ ntih, sĂ ntih, sĂ ntih, Om Terjemahannya Tuhan adalah bhĂčr svah. Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Hyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita. Ya Tuhan, NĂ rĂ yana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa NĂ rĂ yana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua. Ya Tuhan, Engkau dipanggil Siwa, MahĂ dewa, Iswara, Parameswara, BrahmĂ , Wisnu, Rudra, dan Purusa. Ya Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba. Ya Tuhan, ampunilah hamba Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba oh Hyang Widhi. Ya Tuhan, ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba. Ya Tuhan, semoga damai, damai, damai selamanya. Telah Dibaca 28,960

mantram tri sandya dan panca sembah